JP Radar Kediri - Tidur seringkali di abaikan oleh kebanyakan orang, entah karena pekerjaan atau hanya ingin begadang semata.
Namun apakah kebiasaan yang berulang ini biasa saja? atau akan menimbulkan efek yang mengerikan hingga merusak jantung? simak penjelasan berikut ini.
Beberapa penelitian telah mengaitkan kurang tidur dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan peradangan yang berkaitan semua faktor yang dapat merusak jantung.
Kurang tidur juga dapat mempengaruhi keseimbangan hormon dan metabolisme, yang berdampak negatif pada kesehatan kardiovaskular.
Dalam penelitian oleh European Heart Journal menunjukkan bahwa individu yang tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner dibandingkan yang tidurnya berkisar 7 sampai 8 jam.
Baca Juga: Benarkah Mandi Pada Malam Hari Sebabkan Rematik? Ini Penjelasan Medisnya
Namun hal ini juga tergantung pada faktor yang lain juga, menurut dr. Tirta Mandira Hudhi atau yang sering disapa Cipeng menjelaskan di kanal youtubenya yang berjudul “#suaratirta MENJAWAB MITOS & FAKTA KESEHATAN DENGAN PENAMPILAN BARU: ARC BOTAK DIMULAI!????????????????????“ yang tayang pada kamis, 20 Februari 2025, bahwa hal ini juga tergantung pada beberapa hal.
Yang paling diprioritaskan dalam tidur menurut dr. Tirta dari beberapa sumber yang terlvalidasi adalah fase deep sleepnya, tidur 6 jam tidak apa apa jika terjadi 2 kali fase deep sleep.
“Yang di prioitaskan adalah fase deep sleep, tidurnya boleh 6 jam, tapi kalau fase deep sleepnya terjadi dua kali, gapapa,” ujarnya.
dr. Tirta juga menjelaskan bahwa deep sleep hanya terjadi 1,5 sampai 3 jam saja.
“Deep sleep itu fasenya 1,5 sampai 3 jam doang, deep sleep itu fase ketika kita tidur sangat maksimal, bukan fase rapid eye movement yang kita baru mulai tidur yang bisa rentan terjadi lucid dream, jadi yang penting bukan nominal tidurnya tetapi kualitas tidurnya,” sambungnya.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Tawas jadi Cara untuk Atasi Bau Keringat
Selama tidur, tubuh melakukan perbaikan dan pemulihan, termasuk pada sistem kardiovaskular dan tidur yang cukup membantu mengatur tekanan darah dan kadar gula darah, serta mengurangi stres pada jantung.
Penulis: Fikri Raihan Pratama, Mahasiswa Magang Universitas Pembangunan “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira