Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gonta-ganti Pasangan Jadi Sebab Utama Kanker Serviks, Begini Penjelasan Dokter RS Gambiran Kota Kediri

Ayu Ismawati • Sabtu, 12 April 2025 | 04:25 WIB

Gonta-ganti Pasangan Jadi Sebab Utama Kanker Serviks, Begini Penjelasan Dokter RS Gambiran Kota Kediri
Gonta-ganti Pasangan Jadi Sebab Utama Kanker Serviks, Begini Penjelasan Dokter RS Gambiran Kota Kediri


JP Radar Kediri - Penyakit ini jadi peringkat kedua yang paling banyak merenggut nyawa perempuan. Ironisnya, sering telat disadari. Padahal, kanker serviks sangat bisa dicegah.

Secara global, kasus kanker serviks atau kanker leher rahim masih banyak ditemui. Tak terkecuali di Kota Kediri. Di satu rumah sakit saja, rata-rata bisa ada puluhan kasus baru tiap tahunnya.

Penyakit yang terjadi karena perubahan sel-sel rahim yang menjadi ganas itu termasuk yang sangat berbahaya bagi perempuan.

Berada pada peringkat keempat yang banyak menyerang perempuan. Dan, ini yang harus diwaspadai, penyakit ini nomor dua yang paling banyak menyebabkan kematian.

Berdasarkan data yang ada, rata-rata angka kematian karena penyakit ini mencapai 270 ribu per tahun! Dan, 85 persen dari jumlah itu terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.

“Untuk kasus (penyakit kanker serviks) di RSUD Gambiran sangat banyak. Triwulan pertama 2025 ini sudah ditemukan sekitar enam kasus kanker serviks,” kata dr Tri Aji Bangun Nuswantoro SpOG, dokter di RS Gambiran.

Menurutnya, per tahun bisa ditemukan 20 sampai 30 kasus baru di satu rumah sakit. Kelompok yang retan terjangkit penyakit ini relatif luas.

Seluruhnya berkaitan dengan aktivitas hubungan yang tidak sehat. Seperti berganti-ganti pasangan. Atau perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan pria yang sering berganti-ganti pasangan.

“Terutama pada orang-orang yang menikah muda. Yang melakukan hubungan seksual secara dini misalnya pada usia kurang dari 20 tahun,” beber dr Aji.

Di RSUD Gambiran mayoritas temuan karena pasien sering berganti-ganti pasangan. Di antaranya seperti pada pekerja seks komersial (PSK).

“Kemudian ada juga pada kasus-kasus wanita yang menikah lebih dari dua kali. Atau wanita yang menikahi laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan,” ungkapnya.

Tingkat kematian atau mortalitasnya pun beragam. Bergantung stadium yang diderita. Begitu pula dengan angka kesembuhan yang sangat ditentukan dari stadium atau tingkat keparahannya.

Aji mencontohkan, peluang hidup pasien selama lima tahun ke depan jauh lebih tinggi ketika penyakit diketahui dan diobat saat masih stadium satu.

Yaitu mencapai 90 persen. Menurun jadi 50 persen untuk stadium 2 dan 3, serta hanya 10 hingga 15 persen untuk stadium 4.

Yang menjadi miris adalah, masih banyak penderita yang telat menyadari bahwa dirinya mengidap kanker serviks. Untuk itu, menurutnya penting bagi masyarakat untuk menyadari gejala-gejala penyakit tersebut.

“Biasanya kanker serviks stadium awal ditandai dengan pendarahan abnormal vagina, keputihan yang abnormal, dan nyeri saat berhubungan intim,” beber dr. Aji.

Lebih jauh, gejara pada stadium lanjut akan disertai dengan nyeri panggul, kesulitas buang air kecil, atau bengkak pada kaki. Serta nyeri tulang dan sendi, penurunan berat badan, hingga nafsu makan berkurang.

“Lebih ke telat (sadar menderita kanker serviks, Red). Kebanyakan orang-orang yang saya temui itu keputihannya sudah lama. Tapi orangnya nggak berobat. Terus tahu-tahu berobat ternyata sudah stadium lanjut,” bebernya.

Untuk itu, menurutnya, penting untuk mencegah sedini mungkin penyakit tersebut. Salah satunya dengan melakukan vaksinasi HPV. Tidak hanya perempuan, melainkan juga laki-laki yang bisa melakukan vaksin HPV.

“Paling optimal usia remaja di mana wanita belum menikah dan berhubungan seksual,” tandasnya. (ayu isma/fud)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #jawa pos radar kediri #kediri #berita hari ini #kesehatan #kanker serviks