Beberapa tanaman herbal seperti daun katuk, kelabat (fenugreek), torbangun, jahe, dan adas telah lama digunakan dalam tradisi Indonesia karena diyakini mampu merangsang hormon prolaktin dan meningkatkan kuantitas ASI.
Khusus daun katuk, penelitian sudah banyak dilakukan. Penelitian dari IPB dan Universitas Sumatera Utara membuktikan bahwa ekstrak daun katuk dan torbangun dapat meningkatkan produksi ASI secara signifikan.
Daun katuk (Sauropus androgynus) adalah tumbuhan tropis yang telah lama dikenal oleh masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Tumbuhan ini diduga berasal dari wilayah Asia Selatan sebelum menyebar secara alami dan melalui pertukaran budaya ke berbagai penjuru Nusantara.
Di sejumlah daerah, katuk telah menjadi tanaman pekarangan yang tak hanya berfungsi sebagai sayuran, tetapi juga sebagai tanaman warisan. Para sesepuh selalu mempunyai tanaman ini di pekarangannya. Dan berpesan secara turun temurun untuk selalu ada.
Ciri Fisik
Daun katuk tumbuh sebagai semak berkayu dengan tinggi mencapai dua hingga tiga meter. Daunnya kecil, oval, dan tersusun rapi secara berseling.
Warna hijau tua yang mengilap menunjukkan kekayaan klorofil di dalamnya. Di permukaan atas, ada warna putih di sekitar tulang daun. Ada juga yang berupa bintik-bintik putih di seluruh permukaan daun.
Selain itu, katuk memiliki bunga kecil berwarna merah keunguan yang muncul di ketiak daun. Ini merupakan petunjuk penting dalam identifikasi botaninya.
Tanaman ini tumbuh subur di daerah dengan curah hujan sedang hingga tinggi, serta tanah yang lembap namun tidak tergenang. Ketahanannya terhadap pemangkasan menjadikannya ideal sebagai tanaman pagar hidup
Kandungan Bahan Kimia
Penelitian dari IPB dan Universitas Sumatera Utara membuktikan bahwa ekstrak daun katuk dan torbangun dapat meningkatkan produksi ASI secara signifikan.
Daun katuk mengandung protein nabati yang cukup tinggi, vitamin A, B, dan C, serta mineral penting seperti kalsium, zat besi, dan fosfor.
Kandungan proteinnya bahkan dilaporkan lebih tinggi dari beberapa jenis sayuran lain dalam keluarga yang sama. Selain itu, katuk juga rendah kalori, menjadikannya pilihan tepat untuk diet sehat.
Selain nutrisi umum, daun katuk kaya akan senyawa fitokimia seperti flavonoid, saponin, dan polifenol.
Kandungan ini berperan sebagai antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas penyebab penuaan dini dan kerusakan sel.
Fitokimia dalam katuk juga diduga memiliki efek antiinflamasi dan antimikroba alami, walau perlu penelitian lanjutan untuk memperkuat klaim ini.
Konsumsi Yang Alami
Saat ini sudah banyak produk herbal pelancar ASI berbahan daun katuk. Namun, BPOM RI mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam memilih produk jamu pelancar ASI, karena beberapa produk ilegal ditemukan mengandung bahan kimia berbahaya seperti sibutramin.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, konsumsi jamu herbal sebaiknya diimbangi dengan asupan nutrisi seimbang, hidrasi yang cukup, serta teknik menyusui yang tepat.
Ibu menyusui juga disarankan berkonsultasi dengan dokter atau konselor laktasi sebelum mengonsumsi jamu tertentu, terutama jika memiliki kondisi kesehatan khusus.
Selain herbal, pijat laktasi, pompa ASI rutin, dan konsumsi makanan bergizi seperti oatmeal dan kurma juga dapat membantu meningkatkan produksi ASI secara alami. Dengan pemilihan bahan yang aman dan pola hidup sehat, jamu herbal dapat menjadi pendukung efektif dalam masa menyusui.
Editor : Jauhar Yohanis