Tuberkolosis masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak menjangkiti masyarakat Indonesia. Berdasar data Global TB Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua kasus TBC terbanyak di dunia. Jumlah temuannya 885 ribu kasus se-Indonesia selama 2024 lalu.
Tingginya kasus itu yang agaknya mendorong pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden 67/2021 tentang Penanggulangan TBC.
Dari kebijakan itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menargetkan Indonesia mencapai eliminasi TBC di 2030. Yaitu, menurunkan kasus hingga mencapai 65 kasus per 100 ribu penduduk di tahun itu.
Di Kota Kediri, asa menuju eliminasi TBC agaknya masih panjang terpenuhi. Sebab, selama 2024 saja, tercatat 1.840 kasus baru yang ditemukan.
Sedangkan untuk temuan suspek atau terduga mencapai 11.133 di periode yang sama. Capaian temuan itu melampaui target penemuan kasus yang ditetapkan Kemenkes.
“Itu temuan di fasilitas kesehatan di Kota Kediri. Penderitanya banyak yang warga luar kota. Sekitar 50 persen dari luar wilayah Kota Kediri,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasyisyir melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto.
Menurut Hendik, TBC termasuk penyakit yang sudah lama banyak ditemukan. Yang saat ini kasusnya juga belum tuntas. Hal itu tidak terlepas dari penularannya yang cepat.
“Penularannya melalui droplets. Bisa saat batuk atau bersin yang menyebabkan ribuan partikel kuman menyebar di udara. Akhirnya terhirup,” terang Hendik.
Terkait target eliminasi 2030, menurut Hendik saat ini belum ada wilayah di Kota Kediri yang dinyatakan bebas TBC.
Sebab, kasusnya pun sangat berkaitan dengan mobilitas masyarakat. Namun demikian, upaya eliminasi insiden TBC itu sudah mulai dilakukan dengan menggencarkan penemuan kasus.
“Kami saat ini masih di tahap temuan sebanyak-banyaknya,” tandasnya.
Dengan menemukan kasus sebanyak-banyaknya, akan semakin banyak yang cepat disembuhkan. Selain itu mencegah timbulnya resistensi atau kebal obat dari penderita TBC karena pengobatan yang dimaksimalkan di fasilitas kesehatan.
Selama 2024 lalu, tercatat ada lima orang yang mengalami TB RO atau tuberkulosis resisten obat.
Bagi pasien yang dinyatakan kebal obat, pengobatan harus dilakukan dengan kombinasi obat yang berbeda. Serta waktu pengobatan yang lebih lama.
Dan di Kota Kediri, menurut Hendik baru satu fasilitas kesehatan yang mampu menangani kasus resisten obat.
Diakui Hendik, penyakit akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis itu juga tidak pandang bulu. Semua orang bisa terjangkit.
Apalagi kelompok masyarakat rentan seperti yang lingkungannya lembap, minim sirkulasi udara, hingga yang daya tahan tubuhnya rendah seperti penderita diabetes, HIV/AIDS, serta anak-anak dan lansia.
“Tapi TBC ini bisa sembuh asal patuh menjalankan pengobatan,” tegasnya.
Hal serupa disampaikan dokter spesialis paru RSUD Gambiran dr Hamida, SpP. Kelompok masyarakat yang tinggal di permukiman padat juga cenderung lebih rentan terpapar bakteri penyebab TBC.
Di antaranya seperti di asrama atau pondok. Sebab kuman TBC lebih menyukai lingkungan yang lembap dan jarang terkena sinar matahari.
“TBC ini, terutama TB paru, itu penularannya kan lewat udara atau airborne disease. Jadi cepat sekali menular ke orang-orang di sekitarnya lewat udara,” terangnya.
Melalui Hari TBC Sedunia yang jatuh pada hari ini, dia pun mendorong masyarakat segera berobat ke fasilitas kesehatan jika merasakan gejala-gejala TBC.
Dia juga berharap masyarakat tidak takut berobat ke layanan kesehatan sebab obat TBC juga sudah digratiskan oleh pemerintah.
“Dan mari kita cegah untuk tidak terjadinya TBC yang kebal obat dan kecacatan yang bisa ditimbulkan oleh penyakit TBC bila tidak segera diobati,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira