Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Memperingati Hari Tuberkukosis Sedunia, Kasus TBC Ekstra Paru Justru Meningkat di Kediri

Ayu Ismawati • Senin, 24 Maret 2025 | 04:34 WIB
Photo
Photo

Target eliminasi TBC pada 2030 sudah dicanangkan. Namun, tantangan masih ditemui dalam upaya melawan penyakit mematikan ini. Mampukah keinginan ini terpenuhi?

Tuberkulosis (TBC) bisa menyerang siapa saja. Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis itu pun tidak hanya menyerang organ paru-paru saja. Organ lain juga bisa terpapar bakteri mematikan itu. Salah satunya kelenjar getah bening.

Seperti yang dialami Putri. Pelajar asal Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri itu divonis TBC kelenjar getah bening. Memang, seusianya-masih SD-masuk kelompok rentan paparan bakteri MTB itu.

“Awalnya itu sakit sinusitis. Lalu ternyata ada benjolan juga di leher. Kata dokter gejala TB,” ujar gadis yang kini duduk di bangku SMP ini.

Untuk menyembuhkan dia harus menjalani pengobatan enam bulan  penuh. Disiplin mengonsumsi obat yang telah diresepkan.

Harus selama waktu yang telah ditentukan meskipun dia merasa gejalanya sudah berkurang atau bahkan hilang.

“Setelah sebulan itu juga benjolannya semakin hilang. Tapi tetap harus minum obat sampai enam bulan,” kenangnya.

Untungnya, penyakit yang dideritanya itu cepat terdeteksi. Sehingga lebih cepat juga penanganannya.

Berkat dia yang sudah lebih awal dirawat di rumah sakit karena penyakit tipes yang dideritanya.

Cepat atau lambatnya penderita TBC mendapat penanganan medis memang merupakan hal yang serius. Masih banyak penderita yang datang ke layanan kesehatan sudah dalam fase far advanced atau sangat lanjut.     

Hal itu dibenarkan oleh dokter spesialis paru RSUD Gambiran d. Hamida, SpP. Menurutnya, kasus yang sering ditemui saat ini adalah penderita yang TBC-nya sudah meluas.

Artinya, pasien datang ke rumah sakit sebagai kasus baru, bukan yang sebelumnya sudah terdeteksi dan didiagnosis di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

“Jadi seringkali sudah cukup parah TBC-nya. Namun ada juga sebagian yang sudah berobat di faskes pertama. Cuma karena pasien sesak akhirnya datang ke RSUD dan kami obati,” ujar Hamida.

Selain itu, meski penyakit ini identik menyerang organ paru-paru, namun justru ada tren peningkatan kasus di TBC ekstra paru. Yakni yang menyerang organ di luar paru-paru seperti kelenjar getah bening, abdomen, tulang belakang, hingga meningen atau selaput otak.

“Spondilitis TB atau TB tulang belakang dan meningitis TB atau TB yang menyerang otak itu ada peningkatan saat ini. Biasanya saya menemukan kasusnya itu kolaborasi dengan sejawat neurologi,” ungkapnya sembari menyebut dua kasus itu yang saat ini mengalami peningkatan.

Sedangkan untuk kasus TBC paru justru mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata pasien rawat inap dengan keluhan TBC paru di RSUD Gambiran berkisar 10 orang tiap minggu.

“Mungkin untuk TB Paru sebagian sudah diobati di faskes pertama,” sambungnya.

Dia pun menekankan pentingnya penanganan medis segera pada penderita TBC. Misalnya untuk TBC paru yang sudah didiagnosa far advanced atau lanjut bisa menyebabkan terjadinya acute respiratory distress syndrome (ARDS). Yang berakibat fatal jika tidak segera diobati.

“Demikian juga TB ekstra paru yang termasuk TBC berat itu adalah TB otak atau meningitis TB. Kalau tidak segera diobati, bisa menyebabkan sequelae atau kecacatan pada pasien,” tandasnya.

Diakui dr Hamida, upaya pengobatan pasien TBC masih kerap menghadapi tantangan. Salah satunya dari sisi penyembuhan yang sering kali membutuhkan waktu yang lama. Hal itu kerap ditemui para tenaga kesehatan. Termasuk yang bertugas di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Karena masa pengobatannya panjang. Untuk TB paru minimal enam bulan. Untuk TB ekstra paru seperti TB otak atau Meningitis TB dan spondilitis TB itu bisa satu tahun,” ungkapnya.

Karena harus mengonsumsi obat selama itu, tak jarang pasien merasa bosan. Terkadang malah berhenti karena merasa sudah nyaman meskipun belum selesai. Padahal, masa pengobatan yang panjang itu juga karena karakteristik kuman TBC yang lebih kuat.

“Tentu saja diperlukan edukasi yang benar. Sehingga pasien itu menyadari kalau tidak berobat secara tuntas, nanti bisa terjadi kekebalan. Kumannya menjadi kebal. Sehingga pengobatannya itu nanti dengan obat-obatan yang lebih banyak dan tentu dengan efek samping yang lebih banyak juga,” bebernya sembari menyebut kecacatan pasien sebagai dampak bila pengobatan berhenti di tengah jalan.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #Hari TBC Internasional #Hari TBC Sedunia #penyakit tbc #tuberkulosis (TBC)