KEDIRI, JP Radar Kediri - Ada yang menganggap soal sarjana yang masih menganggur adalah persoalan lumrah. Alasannya, jumlah yang bekerja juga tergolong tinggi. Terutama bila dibandingkan dengan yang masih menganggur.
Di Kota Kediri misalnya, ada 32.014 lulusan perguruan tinggi yang telah bekerja. Sedangkan sarjana yang menganggur ‘hanya’ 1.102. Sedangkan di Kabupaten Kediri, 97 ribu lebih pekerja bergelar sarjana. Sedangkan yang menganggur 4.127 orang.
Toh, tetap saja itu merupakan isu serius. Sebab, menunjukkan fakta ada gap antara pertumbuhan lulusan perguruan tinggi dengan lapangan kerja. Dan itu terjadi di lingkup nasional, tak hanya daerah.
“Itu yang membuat masih banyak sarjana menganggur,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kediri Ibnu Imad.
Ibnu juga menyodorkan fakta, fresh graduate selama ini kesulitan harus memenuhi syarat pengalaman kerja yang diajukan pencari kerja. Solusinya adalah pelatihan dan magang.
Baca Juga: Mengapa Orang-orang Masih Sulit Mencari Pekerjaan Meskipun Angka Pengangguran Menurun Menurut BPS?
“Dengan adanya model magang nasional dari Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) itu sebetulnya bisa menjawab kegalauan fresh graduate. Sertifikat magang tersebut bisa menjawab kalau mereka juga punya pengalaman,” kata Ibnu.
Di daerah pun punya program serupa. Ada beberapa pelatihan yang dibuka oleh Disnaker dan terbuka untuk umum. Minimal lulusan SMA/SMK. Dan, seringkali pesertanya adalah sarjana.
Menurutnya, itu menandakan pelatihan kerja saat ini dibutuhkan sarjana di Kabupaten Kediri. Sekaligus menjadi jembatan perusahaan dengan pencari kerja.
Selain itu, Ibnu menilai, ‘status generasi’ juga pemicu tersendiri. Banyak generasi Z tidak bertahan lama dalam sebuah pekerjaan. Di sisi lain perusahaan mengaku sulit mencari tenaga kerja.
Pandangan lain diutarakan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Kediri Mochamad Ferry Djatmiko. Melalui Kepala Bidang (Kabid) Penempatan Tenaga Kerja Arif Budi Nurcahyo, dia mengatakan lulusan baru perguruan tinggi menghadapi tantangan saat memasuki dunia kerja.
“Perusahaan biasanya meminta syarat untuk melampirkan ijazah, tetapi lulusan baru biasanya hanya punya SKL (surat ketertangan lulus). Dan beberapa perusahaan belum bisa memakai SKL, magang nasional juga belum bisa,” ujar Arif.
Solusinya? Arif menyebut pelatihan kerja. Meskipun juga tak khusus sarjana saja.
“Kami ada konseling karir. Kami arahkan pencari kerja ini butuhnya seperti apa? Inginnya seperti apa? ini kami sounding-kan ke perusahaan,” jelasnya.
Hanya, menurut Arif, lowongan kerja di Kota Kediri mayoritas untuk lulusan non-sarjana. Karena itu, dia mendorong lulusan universitas menjadi wirausahawan.
“Jadi mereka yang menciptakan lapangan kerja tersebut,” harapnya.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono mengatakan kesesuaian kompetensi dan kebutuhan kerja adalah problem saat ini. Karena itu, Kondisi pasar kerja tidak cukup dilihat dari angka pengangguran. Karakter pekerjaan yang diperoleh lulusan juga perlu menjadi perhatian. Termasuk kesesuaiannya dengan pendidikan yang ditempuh.
“Yang penting juga dilihat adalah jenis pekerjaannya, apakah sesuai dengan kompetensi dan pendidikan yang dimiliki,” tambahnya.
Secara umum, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Kediri turun menjadi 3,76 persen pada 2025. Dari 3,91 persen pada 2024 dan 4,06 persen pada 2023. Dari 167.812 orang angkatan kerja, sebanyak 161.496 orang bekerja dan 6.316 orang menganggur.
Di Kabupaten Kediri, kondisi serapan lulusan perguruan tinggi terlihat lebih kecil. Hanya 8,08 persen penduduk bekerja yang berpendidikan perguruan tinggi pada 2025. Meski demikian, TPT kelompok tersebut justru membaik menjadi 4,08 persen, turun dari 4,61 persen pada 2024 dan 7,12 persen pada 2023.
“Artinya, ada perbaikan penyerapan tenaga kerja,” kata Kepala BPS Kabupaten Kediri Bambang Indarto.
Secara keseluruhan, TPT Kabupaten Kediri pada Agustus 2025 mencapai 4,71 persen, turun dari 5,10 persen pada 2024. Struktur lapangan kerja masih didominasi sektor jasa sebesar 47,93 persen, disusul pertanian 32,13 persen dan industri/manufaktur 19,95 persen. Dari sisi status pekerjaan, pekerja informal masih mendominasi dengan proporsi 59,30 persen, sedangkan pekerja formal sebesar 40,70 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan serapan lulusan perguruan tinggi di Kediri bukan hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja. Kesesuaian kompetensi, bidang pekerjaan, serta kemampuan lulusan mengikuti kebutuhan dunia usaha juga menjadi bagian dari tantangan transisi dari bangku kuliah menuju pasar kerja.(emilia susanti/himalaya azzahra/fud)
Editor : Shinta Nurma Ababil