KEDIRI, JP Radar Kediri - Pamadya Dewa, 27, sudah tiga tahun ini menyandang predikat sarjana dari salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Kota Malang. Namun, selama itu pula pemuda yang tinggal di Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota Kediri ini harus gigit jari. Sudah 10 berkas lamaran dia kirim ke berbagai perusahaan yang membuka lowongan. Tidak ada satupun yang nyangkut.
“Sempat ada yang sampai wawancara. Namun tak ada kelanjutannya lagi,” aku sarjana kependidikan bahasa Inggris ini.
Sebenarnya Pamadya sudah nyambi kerja ketika masih kuliah. Dia bekerja di bidang food and bavarage (F and B). Namun, sudah setahun ini dia keluar dari pekerjaannya itu. Inginnya mendapatkan pekerjaan yang related dengan program pendidikannya ketika kuliah.
“Inginnya ya jadi guru, baik di sekolah maupun bimbingan belajar,” harapnya setengah putus asa.
Sedikit beda dengan yang dialami Rosyta Oca. Gadis 23 tahun asal Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri ini sempat dinyatakan diterima di salah satu perusahaan. Namun, gajinya ternyata kurang memuaskan. Masih di bawah upah minimum kabupaten (UMK).
Baca Juga: Data BPS Tunjukkan Ada Ribuan Sarjana di Kota Kediri Jadi Pengangguran
“Dari semenjak lulus sampai sekarang saya sudah banyak melamar. Baik ke CV maupun PT. Ada yang keterima tapi tidak saya ambil karena pertimbangan gaji,” aku sarjana peternakan ini.
Oca juga mencoba peruntungan melalui program magang yang dibuka oleh Pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja, magangHub. Sayangnya, dua kali mencoba, dua kali pula gagal.
“Proses rekrutmennya susah. Saingannya juga banyak banget,” keluhnya.
Dia tak menyerah. Tetap berupaya mencari kerja yang sesuai bidang. Dia tak ingin sembarangan menerima job karena demi kepentingan karirnya di masa depan.
“Kalau saya maunya sesuai dengan bidang kuliah. Karena pekerjaan pertama itu penentu karir ke depannya menurut saya,” dalihnya.
Beda lagi dengan Cahya Gayatri, 25. Warga Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini sebenarnya seorang sarjana hukum. Tapi dia mulai melonggarkan pilihan. Apalagi setelah berbagai lamarannya tak ada yang tembus satu pun.
“Saya banyak daftar kerja yang sesuai dengan jurusan, tapi belum ada panggilan,” ungkapnya.
Akhirnya, Cahya tidak lagi terlalu idealis. Dan, pekerjaan pun dia dapat. Menjadi seorang fotografer. Bidang yang tak ada kaitannya dengan jurusan kuliahnya.
“Saya nggak idealis lagi. Sekarang kerja jadi fotografer di Bali,” terangnya.
Lalu, apakah begitu sulitnya seorang lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan? Khususnya yang related dengan bidang pendidikannya? Pengamat sosial dan ekonomi Subagyo punya analisa. Menurut dosen di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini, sebenarnya serapan lulusan perguruan tinggi relatif baik.
“Masalahnya, kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi masih beragam. Tidak semua lulusan langsung memperoleh pekerjaan sesuai dengan kompetensinya,” terangnya.
Baca Juga: Berapa Gaji PPPK Paruh Waktu 2025 Lulusan Sarjana? Ini Penjelasan Lengkapnya
Persoalan itu tak sekadar terkait dengan jumlah lapangan kerja. Ada problem mismatch antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan. Fresh graduate membutuhkan pekerjaan. Sementara perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang berkemampuan praktis dan siap beradaptasi.
Karena itulah Subagyo menyarankan, mahasiswa perlu mempersiapkan kompetensi sejak masih berada di bangku kuliah. Pengalaman magang, sertifikasi, organisasi, proyek nyata, hingga penguasaan teknologi digital dapat menjadi modal tambahan ketika memasuki pasar kerja.
“Mahasiswa perlu membangun portofolio kompetensi sejak masih kuliah. Melalui magang, proyek nyata, sertifikasi, organisasi, kewirausahaan, penguasaan teknologi digital, dan kemampuan komunikasi,” sarannya. (himalaya azzahra/fud)
Editor : Shinta Nurma Ababil