Panas Menyengat Melanda Kediri, BMKG Kediri Ungkap Tiga Penyebabnya!

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 01:30 WIB
TERIK: Seorang bocah menyiramkan air mineral untuk mengurangi hawa yang panas. Kemarau terik tembus 35 derajat celsius.
TERIK: Seorang bocah menyiramkan air mineral untuk mengurangi hawa yang panas. Kemarau terik tembus 35 derajat celsius.

JP Radar Kediri – Cuaca panas terasa lebih menyengat dalam beberapa hari terakhir.

Bahkan, hawa panas tetap terasa meski warga tidak berada langsung di bawah paparan sinar matahari.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri menyebut setidaknya ada tiga faktor yang membuat suhu udara terasa lebih panas saat ini.

Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Dhoho Kediri Satria Kridha Nugraha menjelaskan, salah satunya berkaitan dengan posisi matahari yang sedang bergerak mendekati wilayah ekuator.

Baca Juga: Angin Kencang Mengintai Kediri Raya, BMKG Kediri Imbau Warga Waspada hingga 25 September

"ini karena gerak semu matahari, saat ini matahari mulai mendekat atau bergerak menuju lebih dekat dengan ekuator Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, adanya tutupan awan sangat minim sehingga radiasi matahari yang di terima ke permukaan bumi lebih besar.

Menurutnya, adanya kelembaban udara saat ini sangat kering karena efek El Nino dan Monsun Australia yang masih aktif. Sehingga juga memperkuat kondisi.

Baca Juga: Kemarau Diprediksi hingga Oktober, BPBD Kota Kediri Imbau Warga Waspadai Angin Kencang

Dia mengatakan, minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi menjadi lebih besar.

Ditambah kondisi udara yang relatif kering, panas pun lebih mudah terasa menyengat.

Kondisi tersebut juga perlu diantisipasi masyarakat. Terutama karena paparan panas dan aktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Apabila tidak diimbangi dengan asupan cairan dan perlindungan yang cukup.

Satria mengimbau masyarakat tetap menjaga hidrasi tubuh.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Abu Vulkaniknya Bisa Sampai Kediri? Begini Informasi BMKG

Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama juga dianjurkan menggunakan pelindung seperti topi, payung, dan sunscreen.

"Tetap hidrasi tubuh secara cukup," ujarnya.

Selain itu, aktivitas fisik di luar ruangan sebaiknya dikurangi pada periode terik.

"Kurangi aktivitas fisik di luar ruangan pada pukul 1100–14.00 WIB," tambahnya.

Dampak cuaca kering juga perlu diperhatikan sektor pertanian. BMKG mengimbau petani menyesuaikan kalender tanam karena musim hujan diprediksi mengalami keterlambatan dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga: Lipsus Dampak Kemarau Panjang Terhadap Pertanian: Pengambilan Air Tanah Harus Diimbagi Perawatan

"Sesuaikan kalender tanam karena musim hujan diprediksi terlambat atau mundur dibanding normalnya," kata Satria.

Perbaikan sistem irigasi juga diperlukan untuk mengantisipasi kebutuhan air selama kondisi masih cenderung kering.

Tak hanya kesehatan dan pertanian, kondisi udara kering juga meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta tidak sembarangan membakar sampah maupun lahan.

"Dilarang membakar sampah atau lahan karena udara kering memicu kebakaran," tegasnya.

Masyarakat juga diimbau menghemat penggunaan air bersih selama periode cuaca kering tersebut. 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
BMKG panas kemarau