JP Radar Kediri – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan 58 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Karesidenan Kediri dan Madiun pada 23 September 2026.
Dari pemantauan tersebut, tidak terdapat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sebagian titik masuk kategori kepercayaan sedang. Sementara lainnya berada pada tingkat kepercayaan rendah sehingga masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Untuk kategori kepercayaan sedang, Kabupaten Blitar tercatat memiliki 8 titik. Disusul Kabupaten Kediri 7 titik dan Kabupaten Trenggalek 6 titik.
Baca Juga: 10 Titik Panas Terdeteksi di Kediri dan Madiun Raya, Kabupaten Kediri Terbanyak
Sementara Kabupaten Madiun dan Ngawi masing-masing tercatat 5 titik, serta Magetan 4 titik.
Adapun Kota Blitar, Kabupaten Pacitan, dan Kota Madiun tidak tercatat memiliki titik panas pada pemantauan 23 September.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berdasarkan prakiraan tingkat kemudahan terbakar lahan untuk 24 September, wilayah Jawa Timur, termasuk kawasan Kediri dan Madiun, berada pada kategori permukaan sangat kering dan sangat mudah terbakar.
Kondisi lahan yang kering membuat sumber api lebih mudah memicu kebakaran dan api berpotensi menyebar lebih cepat.
Baca Juga: Dua Gempa Terekam di Gunung Kelud, Durasi Terlama Capai 5 Menit!
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api. Khususnya di area terbuka maupun kawasan yang vegetasinya mengering.
Terutama aktivitas pembakaran sampah maupun lahan. Puntung rokok juga tidak boleh dibuang sembarangan karena dapat menjadi sumber api di tengah kondisi lingkungan yang kering.
Masyarakat yang menemukan asap atau indikasi kebakaran di sekitar permukiman, lahan pertanian, maupun kawasan hutan juga diminta segera melaporkannya kepada petugas terkait agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin.
Catatan: Data hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dari pemantauan satelit dan tidak otomatis berarti setiap titik merupakan kebakaran. Karena itu, titik panas perlu diverifikasi di lapangan.
Editor : Ayu IsmawatiSumber : BMKG – Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Radar Kediri