KOTA, JP Radar Kediri- Keracunan makanan yang diduga dari Makan Bergizi Gratis (MBG) menyisakan dampak yang tak sekadar mual dan muntah saja.
Beberapa korban mengaku trauma melihat ompreng MBG usai peristiwa keracunan pada Kamis (17/9) lalu. Meski kemarin ada 10 anak yang dipulangkan, RSUD Gambiran menerima tiga korban baru yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Untuk diketahui, korban keracunan makanan yang dirawat di RSUD Gambiran berjumlah 12 anak hingga Jumat siang (18/9). Namun, bertambah satu lagi di malam harinya.
Kemudian, kemarin dua pasien masuk ke IGD RSUD Gambiran akibat keracunan makanan.
“Tapi 10 anak yang datang di hari Kamis, hari ini (19/9) sudah boleh pulang,” ujar Humas RSUD Gambiran Nitra Sari.
Baca Juga: Korban Keracunan di Kota Kediri Bertambah Jadi 39 Siswa! Satgas Dapati Menu MBG Diolah Lebih Awal
Dua anak yang baru datang di IGD kemarin pagi menurutnya menunjukkan gejala seperti mual, muntah, dan sakit perut.
Hanya saja, kondisinya anak-anak dari SDN Ngronggo 5 itu tidak seburuk anak-anak yang dibawa ke rumah sakit pada Kamis lalu.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sekitar pukul 12.00 kemarin 10 anak yang sudah diperbolehkan pulang. Saat orang tua sedang mengurus administrasi, anak-anak yang kembali ceria itu nampak berkumpul di Ruang Galuh RSUD Gambiran.
Didampingi orang tua dan guru, mereka saling bercengkerama dengan anak-anak lain yang dirawat karena keracunan makanan.
“Alhamdulillah kondisi anaknya sudah sangat membaik,” ujar Retno, orang tua salah satu pasien.
Sebelumnya, putri Retno dilarikan ke IGD karena mengeluh pusing dan demam. Setelah diperiksa, rupanya gula darah putrinya drop dan ada gangguan pada lambungnya.
Baca Juga: Sakit Perut setelah Makan Ayam Katsu MBG, Sembilan Siswa SDN Kampungdalem 3 Alami Keracunan!
Gejala itu mulai terasa usai putrinya mengonsumsi ayam katsu yang ada di menu MBG.
“Yang dimakan cuma katsu saja. Terus sama sekolah sudah dikasih air degan. Akhirnya saya jemput, itu masih baik-baik saja. Tapi jarak satu jam itu panas kepalanya kayak memar terus matanya berair, kakinya putih pucat, anaknya lemas,” bebernya.
Setelah kejadian itu, dia mengaku ikut waswas. Apalagi, anak-anak jarang teliti dengan apa yang dikonsumsi.
Retno menyebut, anaknya juga sempat trauma melihat ompreng MBG.
“Kemarin trauma lihat ompreng. Sampai nggak mau makan satu hari. Wadah makannya selama di rumah sakit (yang juga ompreng) harus diganti, tidak yang bentuknya kotak,” ungkap Retno.
Dia pun berharap, ke depan kejadian serupa tidak terulang. Khususnya aspek kebersihan dan kualitas makanan yang harus diperhatikan.
Baca Juga: Keracunan di Badas, Kediri Dipastikan dari MBG: Tempe Krispi Positif Bakteri, ini Penyebabnya
“Soalnya anak kan ngertinya ini ayam, makanan enak. Mereka kan kadang nggak ngerti kalau makanan itu harusnya fresh, kebersihan juga dijaga, lingkungan kan juga berpengaruh,” pinta wali murid di SDN Kaliombo itu.
Hal senada disampaikan Diah Ratnasari, orang tua pasien lainnya. Seperti Retno, putranya juga sudah boleh pulang kemarin setelah mendapat perawatan selama dua hari di RSUD Gambiran.
Diah juga berharap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) lebih hati-hati dan teliti dalam mengolah makanan.
“Kemarin itu anak saya mengeluh perutnya panas dan nyeri sebelah kiri. Cuma mual, tapi tidak muntah dan diare. Baru besoknya dia diare,” ungkapnya.
Usai kejadian itu, anaknya juga mengaku trauma dengan MBG. Bahkan, sempat tidak mau makan sama sekali karena takut.
Akibatnya, Diah harus membujuk anaknya agar mau makan selama mendapat perawatan medis.
Baca Juga: Korban Dirawat Karena Keracunan di Kota Kediri Bertambah Jadi 10 Anak, SPPG Kaliombo Disuspend!
“Saya kasih tahu pelan-pelan, nggak apa-apa lebih berhati-hati. Pokoknya sebelum makan, harus dicicipi dulu. Dicium baunya, basi nggak, kalau basi nggak usah dimakan,” kata wali murid SDN Kampungdalem 3 itu.
Pada kesempatan sebelumnya, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan prioritas pemerintah saat ini tidak hanya penanganan korban.
Melainkan juga melakukan investigasi bersama Kejaksaan Negeri Kediri dan TNI/Polri untuk mencari penyebab pasti keracunan itu. Selain itu, pengawasan SPPG juga akan ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Dikonfirmasi terkait rencana tindaklanjutnya, Sekretaris Satgas MBG Kota Kediri Salim Darmawan mengatakan, pihaknya akan menjadwalkan pengawasan gabungan. Selain dari Pemkot Kediri, juga akan menggandeng Kejaksaan, TNI, dan Polri.
“Tujuannya untuk memastikan kedisiplinan SPPG dalam menerapkan SOP higiene sanitasi,” ujar Salim.
Salim menyebut, pada September ini, tim Dinas Kesehatan Kota Kediri juga sudah melaksanakan pengawasan eksternal ke beberapa SPPG. Khususnya yang sudah memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) pada 2025 lalu.
Baca Juga: Diduga Keracunan MBG, 9 Siswa SDN Kampungdalem 3 Kota Kediri Dilarikan ke RS Gambiran
Adapun dari total 54 SPPG yang beroperasi di Kota Kediri, menurutnya seluruhnya sudah mengantongi SLHS. Ke depan, pengawasan rencananya akan dilakukan secara rutin.
“Dengan kejadian kemarin, memang diperlukan atensi lebih dari Satgas MBG,” tandasnya, sembari menyebut koordinasi dengan koordinator wilayah (koorwil) dan koordinator kecamatan (koorcam) SPPG se-Kota Kediri juga akan diperkuat.
Seperti diberitakan, kasus keracunan makanan terjadi di SDN Kampungdalem 3 Kota Kediri, Kamis pagi (17/9). Awalnya, sembilan anak mengeluh sakit perut disertai mual, muntah, dan pusing.
Delapan di antaranya dilarikan ke Puskesmas Kota Wilayah Utara, sebelum beberapa dirujuk ke RSUD Gambiran. Diduga, gejala keracunan itu dipicu MBG yang dikonsumsi anak-anak. Menu hari itu terdiri dari nasi putih, ayam katsu, sayur kari, edamame, dan buah melon.
Baca Juga: Puluhan Siswa di Badas Kediri Diduga Keracunan MBG, Begini Dalih Kepala SPPG
Setelah dicek oleh guru dan petugas kesehatan, ayam katsu di beberapa paket MBG disebut sudah berbau menyengat. Sehingga, dugaan awal penyebab keracunan berasal dari olahan ayam tersebut.
Untuk memastikan penyebabnya, Satgas MBG Kota Kediri sudah mengambil sampel makanan dan akan diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Kediri. (ais/ut)
Sumber : Radar Kediri