Melalui Percikan Api Hamzah Risqi Ukir Prestasi Nasional Sakit Tersulut Api Jadi Pelecut Motivasi

Himalaya Azzahra • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 01:12 WIB
Hamzah Risqi saat meraih juara nasional Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang pengelasan.
Hamzah Risqi saat meraih juara nasional Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang pengelasan.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Percikan api dan panas logam menjadi bagian keseharian Mohammad Hamzah Risqi. Di balik kacamata pelindung dan suara mesin las yang menyala, siswa kelas XII asal Ngletih, Kecamatan Kandat, itu menemukan jalannya. Jalan yang membawanya hingga menjadi juara nasional Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang pengelasan.

Hamzah bagian dari kontingen Jawa Timur yang berhasil meraih predikat Juara Umum LKS tingkat nasional. Prestasi tersebut sekaligus menjadi pencapaian besar bagi siswa yang awalnya bahkan tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia pengelasan.

Ketertarikannya terhadap pengelasan justru bermula dari ajakan seorang teman ketika hendak memilih jurusan di SMK. Remaja yang sejak SMP lebih banyak menghabiskan waktu dengan sepak bola itu akhirnya mencoba masuk jurusan pengelasan.

“Awalnya cuma ikut saja tapi lama-lama suka. Dari situ saya mulai mendalami jurusan ini,” kenangnya.

Pertimbangan Hamzah memilih jurusan ini sederhana. Pengelasan relatif sepi peminat. Kondisi yang justru dilihatnya sebagai peluang memasuki dunia kerja. Ia menganggap kebutuhan tenaga kerja di bidang pengelasan masih luas. Peluang mendapatkan pekerjaan juga terbuka.

Terlebih, Hamzah lebih menyukai kegiatan praktik. Terutama bila dibandingkan pembelajaran yang hanya dilakukan di ruang kelas.

Memang, dunia las tak jauh dari kesehariannya selama ini. Sang kakak adalah pekerja las. Namun, saat itu tidak tebersit ketertarikan. Dia tak pernah  membantu sang kakak. Pengelasan hanya sebatas dia tahu saja. Tanpa ingin mendalami.

“Baru mulai tertarik ketika masuk SMK,” akunya.

Perlahan, kemampuan Hamzah terasah. Tidak langsung mahir. Berbagai kesulitan menjadi bagian dari prosesnya.

Baginya, yang tersulit dalam pengelasan adalah menjaga posisi. Posisi overhead, yakni ketika objek yang dilas berada di atas kepala, menjadi salah satu tantangan besar. Paling membutuhkan ketelitian dan kontrol.

Dalam LKS, lomba bukan melulu soal Teknik. Tapi juga menuntut peserta mengikuti standar dan toleransi yang sangat ketat. Kesalahan kecil dapat berpengaruh besar terhadap penilaian.

“Paling susah itu arah pengelasannya. Harus konsentrasi tinggi. Kalau ada melebihi batas toleransi sedikit saja, bisa kena diskualifikasi. Jadi nggak dapat nilai semua,” jelas Hamzah.

Persiapannya berlomba di level nasional juga lama. Tiga hingga empat bulan dia berlatih intensif. Tentu dengan pendampingan langsung dari guru.

Latihan berulang menjadi kunci. Bagi Hamzah, kemampuan mengelas bukan sesuatu yang bisa dikuasai hanya dalam waktu singkat. Teknik harus terus diasah. Sampai tubuh terbiasa menemukan posisi dan gerakan yang tepat.

“Menurut saya memang susah. Saya juga berproses dari awal,” katanya.

Setiap orang punya teknik. Demikian pula Hamzah. Ia pun memiliki cara sendiri agar mampu menghasilkan pekerjaan yang maksimal. Yaitu dengan mencari posisi nyaman. Agar fokus mengontrol gerakan dan arah pengelasan.

Proses latihan tidak selalu berjalan mulus. Percikan dan terak las yang panas beberapa kali mengenai tangan. Beberapa bekas luka bakar bahkan masih terlihat. Baginya hal tersebut bagian dari proses belajar. Rasa sakit yang sesekali dirasakan tidak membuatnya mundur. Kepuasan melihat hasil pengelasan yang sesuai target mampu meredam rasa sakit itu. Karena itulah dia tak pernah merasa gagal.

“Bukan gagal, bagiku itu proses untuk belajar. Kalau misal hari ini hasilnya jelek, ya besok coba lagi sampai ketemu teknik yang pas,” katanya.

Mental tersebut menjadi bekal penting ketika ia harus berhadapan dengan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Di tingkat nasional, Hamzah berhasil mengungguli 33 peserta.

Menariknya, ia justru merasa persaingan di tingkat Jawa Timur lebih berat dibandingkan ketika bertanding di tingkat nasional. Karena itu, ketika lolos ke tingkat nasional, rasa percaya dirinya semakin tumbuh.

Kepercayaan diri tersebut tidak datang begitu saja. Hamzah tercatat telah mengikuti sembilan perlombaan. Berhasil meraih kemenangan pada delapan di antaranya.

Latihan keras itu bukan tanpa konsekuensi. Dia harus menyisihkan aktivitas lain. Fokusnya tersita untuk latihan.

“Saya nggak ikut pelajaran, tapi ikut ujian. Jadi agak keteteran,” ujarnya.

Meski demikian, kerja keras tersebut akhirnya terbayar. Prestasi sebagai juara nasional bukan hanya menjadi kebanggaan bagi dirinya. Juga membuka jalan mewujudkan rencana setelah lulus SMK. Hamzah berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang memiliki program studi Teknik Pengelasan.

Uang hadiah yang diperolehnya tidak langsung digunakan untuk bersenang-senang. Ia memilih menabungnya sebagai bekal biaya kuliah. Ia ingin memperdalam ilmu pengelasan. Sekaligus meningkatkan kemampuan yang selama ini telah diasah sejak duduk di bangku SMK.

Cita-citanya pun tidak berhenti sebagai seorang welder. Hamzah ingin suatu saat menjadi welding engineer dan bekerja di sektor offshore.

Perjalanan tentu masih panjang. Juara bukan berarti proses telah selesai. Justru kemenangan menjadi bukti bahwa latihan yang dilakukan berulang kali mampu mengubah sesuatu yang awalnya terasa sulit menjadi sebuah kemampuan. Dan, dari setiap percikan api yang menyala, Hamzah sedang menempa satu hal yang jauh lebih besar dari sekadar keterampilan mengelas: masa depannya sendiri.(fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
welding kabupaten kediri jawa timur 2026 juara nasional