Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Imam Muttakin mengatakan, temuan anomali data ini tidak hanya di Kota Kediri. Melainkan juga di banyak daerah di Indonesia.
Dari hasil pemutakhiran DTSEN terbaru yang dilakukan Kementerian Sosial, terdapat beberapa warga yang perubahan desilnya cukup ekstrem. Seperti dari desil 2 tiba-tiba naik menjadi desil 8. Atau sebaliknya, dari desil 9 turun menjadi desil 1.
“Jadi dari pembaharuan awal Agustus kemarin, di seluruh Indonesia banyak ditemukan data-data seperti itu,” ungkap Imam.
Baca Juga: BPS: Desil 10 Belum Tentu Orang Kaya, Ini Penjelasan BPS Yang Wajib Kamu Tahu!
Imam menyebut, ada perubahan penggunaan database yang memicu temuan anomali itu. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat menggunakan data program bantuan sosial sebagai database. Kali ini menggunakan hasil survei beberapa instansi lain. Sehingga memicu anomali data tersebut.
Total ada 2.821 kepala keluarga yang masuk temuan anomali data. Mayoritas desil mereka naik secara ekstrem. Menyikapi temuan itu, Dinsos sudah menyebar data itu ke masing-masing kelurahan. Tujuannya untuk ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan.
“Untuk dilakukan cross check atau survei apakah betul memang yang ini sudah sesuai desil yang sekarang dari data anomali ini atau tidak. Justru mereka memang benar-benar tidak mampu,” terangnya.
Dari cross check yang dilakukan kelurahan itu pula, mereka diminta melakukan pembaruan data usulan. Sebaran temuan data anomali itu juga beragam di setiap kelurahan. Beberapa kelurahan bahkan mencapai lebih dari 100 temuan data yang harus diverifikasi.
Baca Juga: Cara Mengetahui Desil Penerima Bansos, Warga Kota Kediri Cek spmb.kedirikota.go.id
Imam menambahkan, temuan data anomali itu tentu berdampak paling besar bagi penerima bansos. Khususnya dari program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang bersumber dari Pusat.
Beberapa warga juga mengadu ke dinsos karena sudah tidak menerima alokasi bansos itu sejak Agustus.
“Beberapa mulai Agustus kemarin sudah di-cancel bansosnya. Jadi banyak dari masyarakat itu ke dinsos menanyakan ‘Pak, kok tiba-tiba bantuanku dihentikan?’ Waktu kami cek ternyata naik desilnya,” ungkap Imam.
Adapun saat ini, proses verifikasi di lapangan oleh kelurahan masih terus berproses. Salah satunya di Kelurahan Manisrenggo.
Di sana, total ada sembilan keluarga yang masuk temuan data anomali. Setelah ditelusuri, beberapa ternyata sudah meninggal dunia.
Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos Beras 30 Kg September 2026, Kategori Desil dan Syarat Penerimanya
“Tinggal enam orang yang sekarang sedang kami proses verifikasi. Jadi disurvei lagi seperti awal dulu,” tandas Kepala Kelurahan Manisrenggo David Hendra. (ais/tar)
Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri