JP Radar Kediri — Aktivitas vulkanik yang terjadi pada sejumlah gunung api di Indonesia tak serta-merta merembet pada Gunung Kelud.
Namun, tetap saja hal itu bisa menjadi warning atau pengingat pentingnya kesiapsiagaan.
Salah satu gunung api yang masih aktif ini perlu mendapat perhatian. Harus tetap dipantau.
“Terjadinya erupsi atau peningkatan aktivitas beberapa gunung api dalam waktu berdekatan tidak berarti bahwa satu gunung memicu (erupsi) gunung lainnya. Aktivitas setiap gunung harus dilihat berdasarkan data pemantauan pada gunung tersebut,” terang pemerhati Gunung Kelud Dr Dedi Sasmito Utomo.
Menurutnya, Indonesia berada pada kawasan pertemuan lempeng tektonik yang membentuk sejumlah busur vulkanik.
Namun, setiap gunung api memiliki sistem magmatik dan dinamika internal yang berbeda.
Dia menegaskan gunung api yang berada dalam satu kawasan tektonik yang luas tidak selalu memiliki hubungan langsung.
Kesamaan posisi pada jalur vulkanik lebih menunjukkan bahwa gunung-gunung tersebut terbentuk akibat proses tektonik regional yang sama. Terutama subduksi lempeng.
Baca Juga: Tiga Gempa Tektonik Jauh Terekam di Kelud, Pengunjung Dilarang Dekati Kawah, Begini Statusnya
Karena itu, aktivitas Anak Krakatau, Merapi, Semeru, Lewotobi, maupun gunung api lainnya tidak dapat langsung dijadikan dasar kesimpulan.
Bahwa Gunung Kelud akan mengalami peningkatan aktivitas.
“Setiap gunung api memiliki karakteristik lokal. Sistem magmatik, komposisi dan kekentalan magma, tekanan gas, struktur batuan, serta pola kegempaannya dapat berbeda. Karena itu, karakter dan potensi erupsinya juga berbeda,” jelasnya.
Berdasarkan data, erupsi besar terakhir Kelud terjadi pada Februari 2014. Catatan sejarah menunjukkan interval antarerupsi Kelud bervariasi.
Sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai siklus waktu yang pasti.
“Riwayat erupsi penting untuk memahami karakter Kelud. Tetapi tidak dapat digunakan sebagai kalender untuk menentukan waktu erupsi berikutnya. Perubahan tingkat aktivitas harus didasarkan pada data kegempaan, deformasi, kondisi kawah, suhu, gas vulkanik, dan parameter pemantauan lainnya,” kata Dedi.
Kesiapsiagaan tetap perlu dibangun. Baik oleh masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana maupun warga di wilayah yang lebih jauh.
Kelud mempunyai sejarah erupsi eksplosif. Letusannya dapat menghasilkan lontaran material, aliran piroklastik, hujan abu, dan lahar.
Dedi menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan berarti Kelud akan segera meletus.
Kesiapsiagaan merupakan upaya memahami ancaman, jalur evakuasi, sumber informasi resmi, serta tindakan yang harus dilakukan apabila aktivitas gunung meningkat.
Baca Juga: Gunung Kelud Terpantau Diguncang Tiga Gempa Tektonik Jauh, Status Tetap Normal
“Rujukan utama tetap data PVMBG dan Pos Pengamatan Gunung Api Kelud. Kondisi lokal Kelud, bukan aktivitas gunung api lain, yang menjadi dasar penilaian perkembangan tingkat aktivitasnya,” tegasnya.
Sementara itu, Petugas Pantau Gunung Kelud, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Budi Prianto mengatakan, berdasarkan pengamatan terbaru, status Gunung Kelud masih level I.
“Masih normal,” jelasnya.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Kelud periode 6 September 2026 pukul 00.00 sampai 24.00 WIB, secara visual, gunung terpantau jelas hingga tertutup kabut. Tidak teramati adanya asap kawah.
Kondisi danau kawah juga terpantau jelas melalui closed circuit television (CCTV).
Air danau kawah terlihat berwarna kehijauan. Sedangkan bualan air di bagian tengah danau teramati samar-samar.
“Suhu air danau berdasarkan telemetri tercatat 28,62 derajat Celsius,” jelasnya mengenai hasil pantauan.
Dari sisi kegempaan, tercatat satu kali gempa tektonik jauh. Gempa tersebut memiliki amplitudo 1 milimeter, nilai S-P 3 detik, dan durasi 55,43 detik.
Meski aktivitas Gunung Kelud masih berada pada Level I, masyarakat dan dan wisatawan dilarang mendekati kawah. Setidaknya dalam radius satu kilometer.
“Masyarakat dan penambang juga diminta mewaspadai potensi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Kelud,” jelasnya.
Baca Juga: 12 Tahun Berlalu Sejak Gunung Kelud Meletus pada 14 Februari, Akankah Sudah Waktunya Erupsi Lagi?
Terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri terus siap siaga.
“Kami lakukan pemantauan intensif dan akan koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA, Red) Kelud,” tegas Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ariyanto.
Selain itu, pihaknya juga akan melakukan penguatan simulasi menghadapi bencana. Seperti melaksanakan geladi lapang.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : pvmbg, Radar Kediri