Berawal di Nganjuk, Karhutla Merembet ke Lereng Gunung Wilis Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 21:33 WIB
Pantauan udara, titik kebakaran yang sulit diakses. (Foto BPBD Kabupaten Kediri)
Pantauan udara, titik kebakaran yang sulit diakses. (Foto BPBD Kabupaten Kediri)

JP Radar Kediri — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bermula dari kawasan hutan di wilayah Kabupaten Nganjuk merembet ke wilayah Kabupaten Kediri.

Akses yang sulit dijangkau karena terletak di puncak sebabkan petugas kesulitan melakukan pemadaman. 

Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri Ariyanto mengatakan, titik api sebelumnya muncul di kawasan RPH Bajulan, BKPH Pace, Kabupaten Nganjuk.

Api kemudian merembet hingga kawasan hutan di wilayah Kediri dan membakar sejumlah petak hutan.

“Api terdeteksi masuk kawasan RPH Parang, BKPH Kediri, KPH Kediri di Desa Joho, Kecamatan Semen, mulai Senin (31/8) sekitar pukul 05.30 WIB,” ujar Ari ditemui di ruangannya kemarin pagi.

Dari pemantauan petugas, salah satu titik berada di Petak 109 RPH Parang dengan luas keseluruhan petak sekitar enam hektare.

Namun, menurutnya luasan lahan yang benar-benar terbakar belum dapat dipastikan karena petugas masih melakukan pemantauan di lokasi.

"Untuk Petak 109, per kemarin (3/9) malam sudah padam. Tapi di Petak 144 RPH Kanyoran masih banyak yang terbakar," jelas Ariyanto.

Petak 144 RPH Kanyoran memiliki luas sekitar lima hektare. Petugas memperkirakan api masih dapat dipadamkan sebelum menjalar lebih jauh.

Baca Juga: Susul Kebakaran Bromo, Si Jago Merah Hanguskan Kawasan Gunung Klotok Kediri!

 Terlebih kondisi vegetasi di sekitar Gunung Gansang masih relatif hijau.

Ariyanto menyebut dugaan sementara kebakaran disebabkan aktivitas manusia. Salah satunya kemungkinan pemburu yang membakar serasah hutan atau pemburu sarang lebah madu yang menggunakan oncor api.

Kemudian tidak memastikan api benar-benar padam setelah aktivitas selesai.

Penanganan karhutla terkendala medan yang cukup sulit dan terjal.

Untuk mencapai titik utama api dari jalur tertentu, petugas harus berjalan kaki sekitar empat jam dengan membawa perbekalan lengkap serta didampingi personel yang mengetahui jalur.

Lebih dari 10 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemantauan sekaligus mengantisipasi meluasnya api.

Bahkan, petugas harus bermalam di dalam hutan hingga dua malam karena lokasi titik api cukup jauh dan membutuhkan waktu untuk menjangkau serta memantau perkembangannya.

“Petugas hanya berhasil di titik Parang. Namun tidak bisa ke titik Kanyoran,” ujarnya.

Kondisi kontur kawasan yang terdapat aliran sungai menjadi salah satu harapan petugas untuk menghambat pergerakan api.

Selain pemantauan langsung, upaya pemantauan juga dilakukan menggunakan drone.

Meski terkendala angin kencang dan daya baterai yang tidak mampu bertahan lama untuk menjangkau lokasi.

Baca Juga: Kebakaran Klotok karena Ulah Manusia: Akses ke Lokasi Sulit, Titik Api Terakhir Baru Padam di Minggu Pagi  

"Petugas harus tidur di hutan selama dua malam untuk menghalau dan mengantisipasi api menyebar. Kami juga terus berkoordinasi dengan Perhutani dan pihak terkait lainnya," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Administratur Perum Perhutani KPH Kediri wilayah Utara Bambang Ribudiono mengatakan, dari pemantauan dan penanganan kebakaran, di wilayah Parang sekitar 6 hektar. Sementara itu, untuk wilayah Kanyoran saat ini masih diidnetifikasi.

“Untuk yang masuk petak 109 kelas hutan lindung Kelola KHDPK RPH Parang BKPH Kediri Desa Joho, Kecamatan Semen sudah padam,” tandas Bambang. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
karhutla gunung wilis kebakaran gunung BPBD Kabupaten Kediri Perhutani