Surya Adi dan Misi Nguri-uri Budaya Lewat Arsitektur Klasik, Pesanan Tembus Luar Kota

Himalaya Azzahra • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 23:58 WIB
Surya Adi memilih ‘menengok’ masa lalu. Menghidupkan langgam arsitektur kerajaan di tengah maraknya bangunan bergaya modern. Baginya, setiap bata merah adalah bagian warisan budaya yang akan dibaca generasi berikutnya.
Surya Adi memilih ‘menengok’ masa lalu. Menghidupkan langgam arsitektur kerajaan di tengah maraknya bangunan bergaya modern. Baginya, setiap bata merah adalah bagian warisan budaya yang akan dibaca generasi berikutnya.

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Di teras rumah yang kental nuansa klasik Kedirian itu Surya Adi bercerita. Berlatar dinding bata ekspos, warga Dusun Recoputul, Desa Gayam, Kecamatan Gurah itu mengisahkan sepenggal perjalanan hidupnya. Hingga kini dikenal sebagai seniman arsitektur klasik.

Dari muda saya memang senang budaya. Dari SMA pelajaran yang paling sayagemari adalah sejarah dan sastra. Juga sering saya berkunjung ke candi-candi,” kenangnya.

Ketertarikannya terhadap arsitektur klasik bermula di bangku SMA. Pria yang kini berusia 43 tahun ini sering mengunjungi situs-situs candi. Boleh dibilang, awal karirnya bermula dari hobi.

Baca Juga: Masjid Baiturrahman di Desa Tambakrejo Gurah Kediri Berusia Ratusan Tahun dengan Arsitektur Unik

Kegemarannya itu kian berkembang setelah bergabung dengan komunitas sejarah dan budaya. Membuatnya makin dalam mempelajari bangunan masa lalu. Mengagumi konsep dan filosofi yang melekat di arsitekturnya.

Namun, Surya tak langsung menjadi seniman. Dia pernah bekerja sebagai kuli bangunan. Kemudian naik tingkat menjadi tukang. Hingga pada 2014 dia mulai berani bermain menjadi pemborong. Mengerjakan proyek dengan konsep arsitektur modern, seperti kontraktor lain.

Lambat-laun, visinya mulai berubah. Pemicunya apa lagi kalau bukan ketertarikannya pada budaya. Pada 2016 Surya serius mendalami konsep arsitektur klasik. Mencoba membuat bangunan dengan langgam kerajaan.

“Ternyata banyak peminatnya,” ucapnya.

Sejak itulah pekerjaan tidak lagi dia anggap proyek keuntungan semata. Melainkan menjadi bagian nguri-uri budaya. Merawat dan melestarikan kebudayaan.

Kalau sekarang bukan lagi proyek. Niatnya nguri-uri budaya,” tegasnya.

Dalam membangun, Surya tidak sembarangan. Setiap proyek dia awali dengan observasi dan riset. Mempelajari karakter kerajaan, daerah, hingga langgam arsitektur yang akan digunakan.

Harus menyesuaikan kerajaan di setiap daerah. Setiap bangunan punyakarakter,” jelasnya.

Ia juga berusaha memahami detail-detail yang menjadi pembeda dalamarsitektur klasik. Mulai langgam, bentuk antefik, hingga karakter keseluruhan. Material seperti bata merah pun kerap digunakan untuk memperkuat kesan dankarakter.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Kerajaan Kediri di Desa Menang, dari Sendang Tirta Kamandanu hingga Petilasan Jayabaya

Bagi Surya, ketelitian tersebut bukan sekadar persoalan estetika. Ia meyakinibangunan yang dibuat saat ini akan menjadi bagian dari warisan yang dilihatoleh generasi berikutnya. Karena itu, kesalahan dalam menerapkan pakemmenjadi hal yang ia hindari.

Kalau niatnya nguri-uri budaya tetapi salah itu bisa menjadi njajah budaya,” dalihnya.

Sikap idealis tersebut membuat Surya tak jarang mengeluarkan biaya lebih darirencana anggaran. Ketika menemukan bagian yang belum sesuai keinginan, iamemilih memperbaiki. Meski harus menambah pekerjaan dan merogoh uangpribadi. Baginya, rasa puas terhadap hasil akhir jauh lebih penting.

Marem itu penting,” tegasnya.

Idealismenya tersebut membuat Surya tidak hanya menerima pekerjaan berupagapura. Ia juga mengerjakan rumah, tempat ibadah, makam hingga pundendengan pendekatan arsitektur klasik.

Beberapa punden yang pernah dibangunnya antara lain berada di Katang, TuguRejo, serta Sekoto. Ia juga pernah membuat candi Buddha untuk komunitasBuddha di Bandung, Purwakarta, pada 2023.

Setiap pekerjaan menjadi ruang belajar baru bagi Surya. Awalnya, hasil karyanya memiliki banyak kekurangan. Semakin lama detail dia perhatikan. Toh, dia tak menganggap telah selesai belajar.

Waktu itu  juga membuat kearifannya bertambah. Jika sebelumnya cenderungfanatik menggunakan konsep kerajaan Kadhiri, kini ia mulai terbuka. Menyesuaikan konsep bangunan dengan konteks daerah masing-masing. Baginya, kecocokan langgam dan filosofi jauh lebih penting daripada sekadarmembawa nama sebuah kerajaan.

Terlebih ketika mengerjakan tempat ibadah. Ia menilai pakem dan filosofibangunan harus benar-benar dipelajari agar bentuk bangunan tidak kehilanganmakna dan fungsi.

Baca Juga: Jalan Panjang Sulistiono, Seniman Otodidak Plosoklaten, hingga Karyanya Tembus Pasar Luar Negeri

Salah satu yang ia contohkan adalah masjid dengan bentuk limasan. MenurutSurya, bentuk tersebut tidak hanya berbicara mengenai tampilan, tetapi juga memiliki kaitan dengan filosofi tauhid.

Bangunan itu tidak sekadar bangunan. Ada edukasi dan sugestinya. Bentuktampilan juga berpengaruh pada pikiran,” ujarnya. 

Sebelum membangun, Surya berusaha memahami fungsi bangunan terlebihdahulu. Setelah itu barulah filosofi, langgam, bentuk, serta detail arsitekturdisesuaikan.

Ia bahkan memiliki pandangan bahwa menata peradaban dapat dilakukan secaralebih efektif melalui bangunan. Bangunan yang tepat, menurutnya, dapatmenjadi media untuk mengenalkan nilai budaya sekaligus memengaruhikebiasaan masyarakat.

Namun, perjuangan tersebut tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesaryang dihadapi Surya adalah menjelaskan konsep arsitektur klasik kepadamasyarakat yang lebih terbiasa dengan desain modern.

Tidak semua orang memiliki selera yang sama. Bahkan, dalam beberapa bulan, ia bisa tidak mendapatkan garapan. Penyebabnya, konsep yang ditawarkandianggap berbeda dari tren bangunan masa kini.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan prinsip.

Surya percaya desain klasik memiliki sifat timeless atau tidak lekang olehzaman.

Baginya, bangunan yang ia kerjakan bukan hanya untuk dinikmati oleh pemiliksaat ini. Lebih jauh, bangunan tersebut merupakan referensi bagi anak cucuuntuk mengenal kembali peradaban dan kebudayaan masa lalu.

Kalau bangunan ini nanti dilihat anak putu, saya tidak mau salah. Makanyaharus benar-benar dipelajari,” ungkapnya.

Bagi Surya, menjaga budaya tidak selalu berarti kembali hidup seperti masa lalu. Baginya, budaya dapat dihidupkan melalui karya yang hadir di tengahkehidupan modern sehingga generasi mendatang dapat mengenal kembali jejakperadaban dan bangunan klasik yang bernafaskan kerajaan.

Itulah perjalanan seorang Surya. Dari seorang kuli dan tukang. Kemudianmenjadi pemborong. Hingga akhirnya menekuni arsitektur klasik secaraotodidak. Surya kini memilih bertahan di jalur yang ia yakini.(fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
nguri nguri budaya bangunan klasik budaya arsitektur seniman kediri