KOTA, JP Radar Kediri- Penyakit tuberculosis (TBC) paru masih menjadi momok bagi masyarakat Kota Kediri. Jumlah yang diketahui terjangkit juga tidak sedikit.
Hanya dalam rentang delapan bulan, sejak Januari 2026, ada 1.600 warga yang terjangkit.
Jumlah itu tergolong tinggi. Juga, lebih tinggi dibanding tahun lalu. Perbandingannya, selama 2025 ‘hanya’ ditemukan 1.630-an kasus saja. Padahal tahun ini masih tersisa empat bulan lagi.
“Terus terang, (penemuan) kasus TBC masih tinggi. Tertinggi di Jawa Timur,” terang Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto.
Hanya saja, sebagai catatan, tidak seluruh penderitanya warga Kota Kediri. Sebagian adalah orang luar daerah yang berobat ke Kota Kediri.
Hal itu dipengaruhi jumlah fasilitas kesehatan (faskes) yang relatif banyak. Membuat banyak warga luar Kota Kediri yang datang.
Baca Juga: Dinkes Kota Kediri Temukan 1.600 Kasus TBC Selama 2025, Tahun Ini akan Masifkan Penelusuran
“Hal ini menyumbang temuan kasus TBC. Dan, 50 persen kasus yang kami temukan itu berasal dari luar wilayah,” jelas Hendik.
Tingginya temuan itu membuat dinkes menggencarkan upaya penjangkauan. Tujuannya adalah memutus rantai penularan. Untuk mendeteksi lebih awal penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tubercilosis itu dan segera mengobatinya.
Salah satu upaya penjangkauan itu adalah dengan tracing (pelacakan). Upaya ini menyasar kepada lima ribu penduduk Kota Kediri. Terutama yang memiliki kontak terdekat dengan pasien TBC.
“Orang-orang yang kontak dengan penderita TBC ini kami kumpulkan. Kemudian melakukan pemeriksaan dan ditindaklanjuti dengan X-ray atau foto rontgen,” terang Hendik lebih jauh.
Menggunakan mesin X-ray portable, petugas memeriksa puluhan orang di tiap titik pelaksanaan tracing.
Baca Juga: Kena TBC, Petugas Lapas II A Kediri Isolasi Enam Napi!
Jemput bola skrining dengan menyertakan rontgen itu pertama kali dilakukan tahun ini. Diawali pada Kamis (20/8) lalu. Tracing TBC ditargetkan selesai pada November nanti.
“Ada beberapa yang mengarah ke TBC. Kalau dari hasil rontgen nanti ternyata mengarah ke TBC, ada dokter konsultan dari dokter spesialis paru. Sehingga bisa langsung kami konsultasikan,” sambungnya ketika ditemui di lokasi tracing TBC dan cek kesehatan gratis di balai pertemuan Kelurahan Kampungdalem kemarin (21/8).
Hendik menambahkan, skrining TBC itu menyasar minimal 100 orang di setiap titik. Dinkes menargetkan tracing tahun ini bisa digelar di 50 titik.
“Karena ini program dari Kementerian Kesehatan dan alatnya sendiri, X-ray portable, ini juga kami baru dapat. Sehingga pemeriksaan dengan alat ini baru bisa kami laksanakan pertama kali tahun ini, diawali di Kelurahan Bawang Kamis lalu (20/8),” terang Hendik.
Baca Juga: Jalan Senyap Kader Kesehatan di Balik Target Temuan Kasus TBC
Penyakit TBC merupakan penyakit serius yang menyerang paru-paru. Penyebabnya adalah infeksi bakteri Mycobacterium Tubercilosis.
Karena disebabkan bakteri, masa penyembuhannya pun relatif lama. Sehingga termasuk penyakit kronis yang harus dicegah.
“Jadi kalau tidak diobati ya bisa sampai kapan pun. Dan kasus kematian akibat TBC juga cukup besar. Di Indonesia, dalam satu tahun jumlah kematian akibat TBC mencapai kurang lebih 125 ribu. Dan setiap jamnya, ada 14 orang meninggal akibat TBC ini,” urainya. (ais/fud)
Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri