JP Radar Kediri–Teka-teki penyebab keracunan makanan yang dialami ratusan siswa SD dan SMP di Kras pada akhir Juli lalu akhirnya terjawab.
Berdasar hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel menu makan bergizi gratis (MBG), tumis buncis dan wortelnya positif mengandung bakteri.
Dari hasil pemeriksaan di laboratorium Surabaya, tumis buncis dan wortel yang jadi salah satu menu untuk siswa, positif mengandung bakteri Bacillus Cereus.
Temuan itu pun langsung jadi dasar evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi yang sebelumnya sudah di-suspend atau ditangguhkan.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib membenarkan tentang temuan kontaminasi bakteri di menu MBG tersebut.
Menurutnya, bakteri Bacillus Cereus memang bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Terutama jika masuk ke tubuh melalui makanan yang terkontaminasi.
“Bisa menyebabkan mual, muntah, dan diare,” kata Khotib tentang temuan bakteri pada oseng buncis dan wortel itu.
Baca Juga: Ratusan Siswa SMPN 1 Kras Mual dan Muntah setelah santap Menu MBG, Begini Kata SPPG-nya
Gejala sesuai dampak bakteri Bacillus Cereus, lanjut Khotib, juga dialami oleh siswa yang mengalami keracunan pada 23 Juli lalu.
Meski hasil pemeriksaan laboratorium positif menemukan bakteri pada sampel makanan, menurut Khotib hasil itu tidak serta merta menjelaskan seluruh rangkaian kejadian keracunan.
Karenanya, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri akan melihat hasil investigasi secara menyeluruh.
Dinkes, lanjut Khotib, juga akan melakukan penelusuran epidemiologi terhadap siswa yang mengalami keracunan makanan.
Terkait keberadaan bakteri di tumis buncis dan wortel, menurut Khotib hal itu bisa terjadi karena beberapa kemungkinan. Salah satunya, makanan terlalu lama berada di suhu ruangan.
Faktor lain adalah kemungkinan adanya paparan debu maupun kondisi kebersihan selama proses pengolahan dan penyajian makanan.
"Ya ada beberapa kemungkinan, bisa terlalu lama terpapar di suhu ruangan, bisa juga debu dan sebagainya," jelasnya.
Hasil evaluasi tersebut menurutnya harus jadi perhatian pada tata kelola SPPG Purwodadi.
Salah satunya dengan memperbaiki standar operasional prosedur (SOP) tata kelola makanan.
“Harus memperbaiki SOP dan mematuhinya dalam tahapan menyiapkan menu MBG,” tandas Khotib.
Selebihnya, aspek kebersihan SPPG juga jadi perhatian satgas. Mereka akan mengevaluasi sebelum SPPG bisa beroperasi kembali.
"Kemungkinan pembersihan ada yang kurang," tandasnya sembari menyebut SPPG juga belum mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).
Sementara itu, meski hasil laboratorium keluar, Khotib memastikan operasional SPPG Purwodadi masih dalam status suspend.
Terkait pembukaan kembali SPPG tersebut, menurutnya jadi kewenangan penuh Badan Gizi Nasional (BGN).
Seperti diberitakan, sedikitnya ada 211 siswa yang mengeluhkan mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi menu MBG pada Kamis (23/7) lalu.
Keluhan dirasakan bertahap oleh siswa. Ratusan siswa yang mengalami keracunan itu tersebar di sejumlah sekolah.
Sebanyak 117 siswa dari SMPN 1 Kras, enam siswa dari SDN Purwodadi, dan 31 siswa dari sejumlah sekolah seperti MI Barokah, TK Kusuma Mulya Krandang, SDN Jambean 2, RA Barokah, dan sasaran lainnya.
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri