Kelola Waktu Luang Jadi Lebih Produktif
Tidak semua peluang datang dari sesuatu yang sejak awal direncanakan. Bagi Ery Puspitasari, dunia makeup justru menjadi jalan karir yang ia temukan secara tidak sengaja. Semua berawal ketika keputusannya melanjutkan pendidikan tinggi di Kediri memberinya cukup waktu luang.
Pemuda yang akrab disapa Ery ini sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi makeup artist (MUA).
Meski sejak kecil ia kerap melihat ibunya berkecimpung di dunia tata rias, tak serta merta membuatnya tertarik mengikuti jejak yang sama.
“Dulu saya sama sekali tidak tertarik makeup. Malah merasa dunia rias itu ribet,” aku bungsu dari dua bersaudara itu.
Keadaan mulai berubah setelah Ery lulus SMA. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan dengan kuliah di luar kota tidak mendapat izin dari orang tuanya.
Alhasil, perempuan kelahiran tahun 2004 itu harus kuliah di dalam kota saja. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa di Universitas Nusantara PGRI Kediri, Ery menyadari punya cukup banyak waktu luang.
Agar tak terbuang sia-sia, pemuda kelahiran Kediri itu mulai mencari-cari kegiatan produktif.
Dari situlah ia mulai mencoba belajar makeup. Ia mendapatkan dasar-dasar ilmu tata rias dari sang ibu.
Baca Juga: Dari Staf WO, Sosok Nur Karima Kini Jadi CEO untuk Bisnisnya Sendiri
Selanjutnya, bekal basic ilmu itu dia perdalam lewat berbagai kelas online, privat, workshop, hingga seminar.
“Daripada waktu luang hanya digunakan untuk nganggur, saya coba belajar makeup sedikit demi sedikit,” terangnya.
Tahun 2023 menjadi awal Ery mulai mencoba membuka jasa MUA. Diawali dengan membuat akun Instagram dan mulai mengunggah hasil makeup sebagai portofolio.
Di awal karirnya, dia memanfaatkan teman, tetangga, hingga orang-orang di sekitar sebagai model untuk memperkaya portofolio. Meski demikian, belum tentu klien langsung berdatangan.
Selama sekitar enam bulan, Ery masih terus belajar. Salah satunya dengan menjadi asisten makeup bagi sang ibu.
Dari proses tersebut, dia tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga memperbanyak portofolionya yang berguna untuk menarik calon klien.
“Awalnya memang sepi. Jadi sambil ikut ibu, saya terus belajar dan memperbanyak portofolio,” terang perempuan yang kini juga menekuni usaha payet kebaya tersebut.
Seiring waktu, pelanggan mulai berdatangan. Jika awalnya Ery hanya menerima makeup untuk wisuda maupun kebutuhan reguler, cakupan usahanya kini semakin berkembang.
Setelah sekitar satu tahun, dia mulai berani masuk ke jasa makeup wedding. Dengan tantangan yang lebih besar, tanggung jawabnya juga semakin berat.
Dia harus kembali belajar karena tata rias pengantin tidak sesederhana rias reguler. Melainkan harus memahami pakem dan adat yang berbeda-beda.
Perjalanannya di dunia tata rias menyadarkannya bahwa apa yang dulu enggan dia lakukan, justru kini menjadi hal yang ingin terus ia pelajari.
Hingga sekarang pun, dia terus mengikuti seminar dan pelatihan untuk memperdalam skill tata rias. Khususnya pakem tradisional.
“Kalau mau berkembang, kita tidak boleh merasa cukup dengan skill yang sudah dimiliki. Harus terus belajar,” tegasnya.
Kini, usaha yang dirintis dari waktu luang tersebut mulai berkembang. Ery tidak hanya memberikan jasa makeup sendiri.
Melainkan juga punya tim makeup sendiri, tim fitting, hingga produksi kebaya untuk kebutuhan tertentu. Usahanya yang semakin berkembang itu sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain.
Baginya, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa seseorang tidak pernah benar-benar tahu dari mana peluang akan datang.
Sesuatu yang awalnya dianggap tidak menarik justru bisa menjadi jalan hidup untuk berkembang ketika dijalani dengan serius.
“Keluar saja dari zona nyaman. Coba semua hal yang bisa dicoba. Kita tidak pernah tahu peluang kita di mana. Tetapi dari mencoba banyak hal, pasti juga ada banyak peluang,” pesannya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri