Anton Sujarwo, dari Rumah Tuanya dia Ajak Gen-Z Lestarikan Sejarah dan Budaya Bukan Soal Klenik tapi Eman Bila Tak Dirawat

Himalaya Azzahra • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Anton Sujarwo di rumah tua peninggalan keluarganya dengan arca yang di rawatnya. HIMALAYA AZZAHRA / JPRK
Anton Sujarwo di rumah tua peninggalan keluarganya dengan arca yang di rawatnya. HIMALAYA AZZAHRA / JPRK

Rumah tua itu berada di tepi jalan. Berjarak sekitar setengah kilometer dari gapura bertuliskan Desa Manggis. Tepatnya berada di Jalan Satak, salah satu jalan yang dimiliki desa di Kecamatan Puncu tersebut.

Kondisinya juga sangat sederhana. Bergaya lama, dengan atap genting model kampung. Hanya terdiri dari dua bidang miring yang bertemu satu garis wuwungan. Atap itu menjorok di bagian depannya, yang menjadi peneduh teras rumah. Ditopang oleh tiga tiang kayu yang juga terlihat kusam.

Baca Juga: Temuan Arca-Arca di Kediri Berpotensi Jadi Wisata Edukasi, Begini yang Dilakukan Pemerintah

Dindingnya, semua tersusun dari bilah kayu selebar 25-an centimeter. Hanya bagian bawah, setinggi satu meter dari tanah, yang dari batu bata. Itupun hanya diberi pelapis kapur tipis warna putih yang sudah memudar. Tanda dimakan usia yang tak sedikit.

Namun, di dalam rumah tua itu terisi benda-benda ‘mahal’ yang bahkan tak ternilai harganya. Benda-benda kuno bersejarah peninggalan zaman kerajaan. Ada arca Ganesha, Durga, Agastya, dan lainnya. Total, ada sekitar sepuluh arca dari berbagai era.

Ada pula artefak kuno semacam yoni. Juga pecahan kemuncak candi, serta pecahan arca yang belum bisa diketahui jenis dan namanya.

“Ini milik desa, diamanatkan untuk saya jaga,” kata Anton Sujarwo, sang pemilik rumah tua.

Baca Juga: Arca Empat Muka di Balai Desa Gayam Segera Dibawa ke Museum Sri Aji Jayabaya Kediri

Praktis, rumah warisan orang tua Anton itu bak museum. Dan, memang sengaja dia jadikan tempat seperti itu.

Baginya, benda-benda bersejarah bukan sekadar peninggalan masa lalu. Melainkan bagian dari identitas yang perlu dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda. Meskipun upayanya itu bukan tanpa halangan. Termasuk dicap klenik dan mendapat stigma.

“Kalau stigma miring saya dulu sering dapat, tapi ya saya lanjut saja, yang penting niatnya” ujar pria, sambil tersenyum lebar.

Baca Juga: Arca Yoni Wates Diduga Peninggalan Kerajaan Kediri, Bentuknya Mirip dengan Arca Era Raja Kertajaya

Maka, jadilah rumah pria berlatar pendidikan manajemen ini menjadi rumah budaya. Menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi Z, mengenal sejarah. Sarana menggali potensi desa, sekaligus belajar tentang budaya yang selama ini mungkin belum pernah mereka dengar.

“Masih banyak warga di sini yang mungkin tidak tahu soal sejarahnya,” ujar anton ramah.

Maka, semua potensi itu dikelola Anton melalui Paguyuban Masyarakat Dhaha Kadiri (Pusaka). Tak sekadar diskusi sejarah dan budaya. Juga kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat desa. Sosial, budaya, hingga lingkungan.

Salah satu fokusnya adalah menggali sejarah dan potensi masing-masing dusun. Kemudian dikembangkan agar memberikan dampak bagi masyarakat.

“Kami ingin Pusaka tidak hanya menggali sejarah saja, juga berdampak langsung terhadap sejarah. Seperti kirab budaya pada bulan sura kemarin,” terangnya.

Ketertarikan Anton terhadap sejarah tumbuh sejak lama. Benda yang pertama dirawatnya adalah yoni, yang dia temukan di kebun. Bermula dari cerita mistis lokasi itu.

Namun, alasan utamanya merawat bukan karena mistis. Melainkan rasa eman, atau sayang, terhadap peninggalan yang bisa rusak atau hilang.

“saya tidak berpikir ke arah mistis atau klenik, tetapi lebih kepada eman (sayang) kalau benda bersejarah itu tidak dirawat,” akunya.

Seiring waktu, Anton dipercaya pemerintah desa menjaga sejumlah arca yang ditemukan. Benda-benda itulah yang dikumpulkan di rumah tua yang kini menjadi rumah budaya tersebut.

Rumah ini juga punya cerita sendiri. Bukan sekadar bangunan tua, melainkan jembatan masa lalu dan generasi kini.

Tentu saja upayanya itu tak mudah. Awalnya banyak gen-Z yang tidak sevisi. Hanya pemuda dari dua dusun saja yang aktif, yaitu Dorok dan Ringinbagus.

Dia juga berupaya mengenalkan sejarah lokal kepada siswa SD, SMP hingga SMA. Tujuannya sederhana, agar anak-anak tidak hanya mengenal sejarah dari buku pelajaran. Tetapi juga memahami sejarah yang berada di lingkungan tempat mereka tinggal.(fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
arca kediri pelestari budaya benda sejarah kabupaten kediri Pusaka