Total ada 21 kasus yang ditemukan selama enam bulan awal 2026. Dan belum lama ini, ada dua kasus temuan DBD di Kelurahan Manisrenggo.
Di luar itu, juga ada satu kasus yang ditemukan di wilayah Kecamatan Pesantren selama Juli lalu.
“Dari temuan itu kami tindaklanjuti dengan upaya PSN (pemberantasan sarang nyamuk, Red) di lingkungan itu dan juga langsung kita lakukan pengasapan atau fogging di lingkungan tersebut,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Hendik Supriyanto.
Adapun selama enam bulan awal 2026 ini, temuan paling banyak muncul pada Januari dan Mei. Hendik menyebut, rata-rata dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, temuan kasus tahun ini sedikit lebih rendah.
Namun begitu menurutnya tetap tak menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan terhadap munculnya penyakit tersebut.
“Kalau demam berdarah ini lebih banyak masih dari anak-anak (penderitanya, Red),” ungkap Hendik.
Hendik menyebut, di antara temuan kasus itu, dua di antaranya masih berstatus suspek. Pihaknya masih perlu menunggu hasil pemeriksaan dari rumah sakit untuk menyimpulkan kondisi pasien.
“Karena diagnosa yang kami pakai itu adalah diagnosa dari rumah sakit yang merawat pasien. Setelah dilakukan pemeriksaan laborat untuk demam berdarah, baru bisa disimpulkan,” tandasnya.
Baca Juga: Waspada! Kasus DBD Berpotensi Naik, Dinkes Kota Kediri Gencarkan Fogging
Pada umumnya, penyakit DBD kerap muncul seiring dengan kondisi cuaca. Di musim hujan, biasanya kasusnya mengalami peningkatan.
Hal itu karena lingkungan yang kurang terawat bisa memicu timbulnya sarang-sarang nyamuk. Misalnya, di genangan yang timbul di wadah bekas yang dibiarkan menumpuk di lingkungan tempat tinggal.
Namun demikian, tak menutup kemungkinan kasus DBD tetap muncul saat musim kemarau seperti saat ini. Untuk itu, Hendik mengimbau agar masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup sehat serta mulai menerapkan PSN di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Di antaranya dengan rutin menguras bak-bak penampungan air, menurut bak penampungan air, serta menimbun barang-barang bekas agar tidak jadi tempat nyamuk bersarang dan berkembang biak.
Baca Juga: Waspada! Puncak Wabah DBD di Musim Penghujan, Tiga Bulan Dinkes Kediri Temukan 60 Kasus
“Kami juga sudah sosialisasi, baik melalui media massa atau kader-kader di lingkungan. Dan kalau tahun ini, alhamdulillah kasusnya relatif sedikit,” beber Hendik.
Untuk diketahui, selama 2025 lalu, sedikitnya ada 159 kasus DBD yang ditemukan di Kota Kediri. Data itu sudah menunjukkan tren penurunan dari tahun sebelumnya sebanyak 256 kasus selama 2024.
Adapun di tahun 2025 itu, jika asumsinya tiap bulan ada 13 kasus DBD yang ditemukan di Kota Kediri, maka perbedaannya dengan paruh awal tahun ini cukup signifikan.
Sebab rata-rata temuan kasus tiap bulannya selama Januari - Juli seluruhnya masih di bawah 7 kasus. (ais/tar)
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri