JP Radar Kediri - Siapa sangka di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, juga tersimpan dusun yang unik. Keberadaan dusun ini sekaligus menjadi bukti jejak sejarah panjang masa kolonial di Kediri. Yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang.
Adalah Dusun Simbarlor yang jadi salah satu bukti jejak kolonialisme Belanda di Kediri. Wilayah ini merupakan sebuah perkampungan yang letaknya cukup terpencil di tengah hamparan perkebunan tebu. Lokasinya berjarak sekitar enam kilometer dari jalan raya dan hingga kini masih dihuni beberapa kepala keluarga.
Anggota Pokdarwis Desa Plosokidul Khoirul Arif menjelaskan, kawasan tersebut dulunya merupakan permukiman pekerja perkebunan pada masa Belanda. Untuk memudahkan akses menuju lahan garapan, para pekerja dibuatkan rumah-rumah sederhana yang dikenal masyarakat setempat sebagai magesaran.
Baca Juga: Miris! SDN Simbarlor Plosoklaten Kediri hanya Miliki Enam Murid dari Kelas I sampai VI
“Dulu rumahnya berbentuk petak-petak memanjang dalam satu bangunan. Fungsinya seperti rumah dinas bagi para pekerja perkebunan,” ujar pria yang akrab disapa Arif itu.
Seiring perkembangan zaman, Dusun Simbar pun ikut berkembang. Sebagian besar bangunan lama telah berganti menjadi rumah permanen yang ditempati warga. Setelah status lahan dilepaskan kepada masyarakat, warga memiliki kebebasan untuk membangun dan mengembangkan tempat tinggalnya.
Baca Juga: Pesona Sumber Kurung Kediri, Wisata Mata Air Alami yang Asri di Alas Jambang Plosokidul
Saat ini mayoritas penduduk Dusun Simbar berprofesi sebagai petani dan pekebun. Meski berada di kawasan yang cukup jauh dari pusat desa, aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. Bahkan di kawasan tersebut juga ada sekolah dasar yang melayani kebutuhan pendidikan anak-anak setempat.
Menurut Khoirul, keberadaan Dusun Simbar menjadi bagian dari sejarah perkembangan Desa Plosokidul yang erat kaitannya dengan aktivitas perkebunan pada masa lalu. Selain menyimpan kisah tentang kehidupan para pekerja perkebunan, kawasan tersebut juga menjadi bukti bagaimana masyarakat mampu bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan akses.
“Sekarang memang sudah banyak perubahan, tetapi jejak sejarahnya masih bisa dirasakan. Dusun ini menjadi salah satu cerita penting dalam perjalanan Desa Plosokidul,” pungkasnya.
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri