JP Radar Kediri - Sudah sekitar 12 tahun berlalu sejak Gunung Kelud terakhir meletus pada Februari 2014.
Lantas apakah dalam waktu dekat ini merupakan detik-detik waktunya gunung berapi aktif yang berada di perbatasan Malang, Kediri dan Blitar itu meletus?
Rentang waktu tersebut tidak bisa dijadikan patokan bahwa gunung api itu akan segera kembali erupsi.
Kajian sejarah menunjukkan Gunung Kelud tidak memiliki interval letusan yang tetap.
Hal itu diungkapkan dalam artikel “Letusan Kelud 1919: Tonggak Baru Mitigasi Vulkanik di Indonesia” yang ditulis Dedi Sasmito Utomo dan dimuat di Portal Literasi Sejarah Bencana BNPB.
Berdasarkan catatan sejarah letusan, jarak antarerupsi Gunung Kelud terus berubah dari waktu ke waktu.
Rentang waktu antarerupsi Gunung Kelud pada era modern bervariasi antara tujuh hingga 32 tahun.
Kajian tersebut menunjukkan, setelah letusan 1919, Gunung Kelud kembali meletus pada 1951 atau berselang 32 tahun.
Baca Juga: Tercatat Tiga Gempa Tektonik Jauh di Sekitar Kelud, Begini Statusnya Menurut Pusat Vulkanologi
Berikutnya, erupsi terjadi pada 1966 dengan jeda 15 tahun, kemudian 1990 setelah 24 tahun, 2007 setelah 17 tahun, dan 2014 hanya tujuh tahun setelah letusan sebelumnya.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada pola periodik yang konsisten dari aktivitas gunung api yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang itu.
Dalam artikelnya, Dedi menjelaskan karakter Gunung Kelud sebagai gunung api yang “tenang tetapi mematikan”.
Kelud dapat tampak tidak aktif selama bertahun-tahun sehingga memberi kesan aman, namun sewaktu-waktu mampu menghasilkan letusan eksplosif dengan daya rusak sangat besar.
Karakter inilah yang membuat penentuan waktu erupsi tidak bisa hanya didasarkan pada lamanya masa istirahat gunung api.
Catatan sejarah juga menunjukkan letusan Kelud telah terdokumentasi sejak sekitar tahun 1000 Masehi dan menjadi salah satu gunung api dengan riwayat erupsi tertua di Indonesia.
Dua letusan paling mematikan terjadi pada 1586 yang diperkirakan menewaskan sekitar 10 ribu orang dan 1919 dengan korban mencapai 5.110 jiwa.
Erupsi 1919 kemudian menjadi titik balik pengembangan mitigasi vulkanik di Indonesia melalui pembangunan terowongan pengendali air danau kawah serta pembentukan Dinas Pengawasan Gunung Berapi pada 1920.
Meski demikian, kajian tersebut tidak menyimpulkan bahwa Gunung Kelud memiliki siklus letusan tertentu.
Variasi interval yang cukup lebar, mulai tujuh hingga 32 tahun, menunjukkan setiap erupsi dipengaruhi dinamika vulkanik yang berbeda.
Karena itu, penentuan potensi erupsi tetap harus mengacu pada hasil pemantauan aktivitas gunung api, seperti kegempaan, deformasi tubuh gunung, emisi gas, dan parameter vulkanologi lainnya, bukan semata-mata berdasarkan jarak waktu dari letusan terakhir.
Sehingga, dengan sudah berlalunya 14 tahun pascaletusan terakhir, bukan berarti Gunung Kelud akan erupsi dalam waktu dekat ini.
Karenanya, terus pantau perkembangan status Gunung Kelud melalui laman resmi pemerintah ataupun di Jawa Pos Radar Kediri.
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri, BNPB