Kereta Mbah Gleyor Penuh Gambar Orang-orangan, Situs di Desa/Kecamatan Kandat Kediri Jadi Sasaran Vandalisme

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 05:30 WIB
KOTOR: Tim Disparbud Kabupaten Kediri dan Polsek Kandat mengecek kondisi Kereta Mbah Gleyor di Desa/Kecamatan Kandat yang jadi sasaran vandalisme (31/7). (Foto: Wahyu Adji)

 
KOTOR: Tim Disparbud Kabupaten Kediri dan Polsek Kandat mengecek kondisi Kereta Mbah Gleyor di Desa/Kecamatan Kandat yang jadi sasaran vandalisme (31/7). (Foto: Wahyu Adji)  

 JP Radar Kediri–Situs Kereta Mbah Gleyor di Desa/Kecamatan Kandat jadi sasaran vandalisme.

Kereta dari kayu itu dipenuhi cat berwarna putih hingga gambar orang-orangan abstrak. Kini Polsek Kandat sedang menyelidiki pelakunya.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sekitar pukul 09.00 kemarin tim Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri dan personel dari Polsek Kandat mengecek lokasi.

Mereka memeriksa kondisi situs Kereta Mbah Gleyor yahng penuh dengan coretan abstrak itu.

Staf Bidang Sejarah dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri Ahmad Khudori mengatakan, aksi vandalisme terhadap Kereta Mbah Gleyor pertama diketahui sekitar sebulan lalu.

Saat itu, bagian kereta kayu itu dicat warna putih oleh seseorang yang diduga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). “Warga sempat mengetahui aksi itu (vandalisme yang pertama),” kata pria yang akrab disapa Khudori itu.

Baca Juga: AKibat Ulah Vandalisme BPK XI Jatim Harus Lakukan Ini di Gua Selomangleng Kota Kediri

Begitu sadar aksinya tepergok warga, pelaku langsung melarikan diri. Karenanya, identitas dan motif pelaku belum terungkap.

Rupanya, aksi corat-coret di situs Kereta Mbah Gleyor terulang lagi.

 Jika sebelumnya hanya dicat putih, tiga hari lalu kereta yang jadi kendaraan dinas Bupati Kediri pada tahun 1850-an itu penuh coretan gambar orang-orangan warna hijau tua.

Ada juga coret-coretan lain berwarna cokelat yang membuat warna kayu aslinya tertutup.

Khudori mengaku belum bisa memastikan apakah pelaku vandalisme kali ini merupakan orang yang sama. Sebab, tidak ada saksi yang melihat langsung kejadian beberapa hari lalu itu.

Tak hanya terjadi di situs Kereta Mbah Gleyor, aksi serupa juga menyasar kompleks makam keluarga George Soebandi Badal (warga setempat lebih mengenal lokasi itu sebagai makam Bandi Soeres) yang tak jauh dari situs kereta.

Vandalisme menyasar pagar hingga ornamen makam dengan cat berwarna putih, oranye, cokelat, dan hijau.

Giran, 70, juru pelihara makam mengatakan, vandalisme di kompleks makam juga berlangsung lebih dari satu kali.

Aksi pertama menyasar patung yang ada di dalam kompleks makam. Kala itu, dia sempat melihat seseorang yang membawa kaleng cat dan celurit.

Khawatir keamanannya terancam, Giran memilih tidak mendekat atau menegur pelaku. "Orangnya bawa cat sama celurit, jadi saya tidak berani," aku Giran.

Dua hari berselang, bagian pagar depan kompleks makam kembali menjadi sasaran coretan.

Namun, kali ini tidak ada warga yang mengetahui siapa pelakunya. Giran juga tidak bisa memastikan apakah pelaku yang mencoret pagar merupakan orang yang sama dengan pelaku sebelumnya.

Baca Juga: Miris! Situs Kereta Mbah Gleyor di Kandat Kediri Dicoret Orang Tak Dikenal

Terpisah, Ketua Lesbumi Kecamatan Kandat Miftakhul Haris mengatakan, Kereta Mbah Gleyor  diyakini merupakan kendaraan dinas Bupati Kediri sekitar tahun 1850-an.

 Tepatnya pada masa pemerintahan Bupati Joyonegoro yang merupakan bupati ke-3 Kabupaten Kediri.

Menurut Haris, Mbah Gleyor bukanlah nama seseorang. Sebutan itu muncul karena karakter roda kereta yang ketika berjalan bergoyang atau nggleyor.

Bentuk kereta juga berbeda dibandingkan kereta pada umumnya. Bagian badannya menyerupai perahu sehingga diduga dapat melintasi medan yang beragam. Termasuk di perairan.

"Ini bukan kereta pengangkut hasil bumi. Ini merupakan kendaraan dinas Bupati Kediri pada masa itu," jelas laki-laki yang juga ketua RW 02 Dusun Kandat itu.

Kereta tersebut, beber Haris, juga terkait erat dengan asal-usul Desa Kandat.

Berdasarkan cerita turun-temurun, kereta itu akhirnya berhenti atau ‘kandheg’ di lokasi yang kini menjadi Desa Kandat. Kata ‘kandheg’ itulah yang membuat desa diberi nama Kandat.

“Di Kandat ini juga ada makamnya kusir kereta bernama Eyang Nolo,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolsek Kandat Iptu Abdul Azis melalui Kanit Reskrim Aipda Muhammad Rahmanzah mengatakan, pihaknya masih menyelidiki pelaku vandalisme.

 Polisi, ungkap pria yang akrab disapa Rahman itu, telah memeriksa sejumlah saksi. Mereka juga sudah menelusuri rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi.

Selebihnya mereka juga berkoordinasi dengan disparbud untuk penanganan lebih lanjut. "Saat ini masih penyelidikan,” tuturnya.

Baca Juga: Situs Berusia Ratusan Tahun di Kras Dirusak

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK3) Imam Mubarok menilai, aksi vandalisme di situs Kereta Mbah Gleyor itu jadi pengingat pengamanan situs sejarah di Kabupaten Kediri masih lemah.

Menurutnya, minimnya kamera pengawas (CCTV) di kawasan situs budaya menjadi kendala utama dalam mengun gkap pelaku. 

Selain itu, pengamanan fisik di lokasi juga dinilai belum maksimal.

"Kami sangat mengutuk vandalisme ini karena merupakan peninggalan sejarah penting Kediri. CCTV di situs-situs budaya masih sangat minim, pengawasannya juga perlu diperkuat," tegasnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
situs mbah gleyor vandalisme situs