Update Dugaan Keracunan MBG di Kras: Ganti SPPG Kewenangan BGN, Semua Yang ‘Keracunan’ Sembuh tapi Ada yang Belum Masuk Sekolah

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 07:30 WIB
STOP MBG: Siswa SMPN 1 Kras mengikuti pembelajaran di kelas. Sejak Selasa (28/7) lalu, ratusan siswa di sana sudah tidak menerima paket makan bergizi gratis (MBG) karena SPPG Purwodadi di-suspend.

 
STOP MBG: Siswa SMPN 1 Kras mengikuti pembelajaran di kelas. Sejak Selasa (28/7) lalu, ratusan siswa di sana sudah tidak menerima paket makan bergizi gratis (MBG) karena SPPG Purwodadi di-suspend.  

 

JP Radar Kediri – Wacana soal penggantian satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk dua sekolah yang siswanya diduga keracunan turut disikapi oleh Pemkab Kediri.

Menurut pemkab, kewenangan seperti itu ada pada Badan Gizi Nasional (BGN). 

Saat ini, yang bisa dilakukan Pemkab Kediri adalah berkoordinasi dengan BGN.

Terutama untuk menyiapkan layanan makan bergizi gratis (MBG) ke sekolah-sekolah yang sebelumnya dilayani SPPG Purwodadi Kras. 

Sebab, SPPG tersebut saat ini menjalani suspen usai  kasus dugaan keracunan di SMPN 1 Kras dan SDN Purwodadi merebak.

Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib mengatakan, penentuan kelanjutan distribusi MBG sepenuhnya menjadi kewenangan BGN.

Karena itu, Pemkab Kediri saat ini masih melakukan koordinasi melalui koordinator wilayah BGN.

Baca Juga: Stop Penyaluran MBG di Wilayah Kras, Dampak Insiden Keracunan yang Menimpa Ratusan Siswa

Khususnya terkait skema pelayanan berikutnya. Termasuk kemungkinan pengalihan layanan ke SPPG lain agar program MBG tetap berjalan.

"Untuk kelanjutan distribusi MBG menjadi kewenangan BGN. Saat ini koordinasi masih dilakukan melalui korwil BGN," ujarnya.

Menurut Khotib, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai kapan distribusi MBG akan kembali dilakukan.

Maupun SPPG mana yang nantinya akan melayani sekolah-sekolah tersebut.

 Sementara proses koordinasi berlangsung, distribusi MBG di sekolah terdampak masih dihentikan.

Itu kewenangan BGN yang mengatur,” jelasnya.

Di sisi lain, kondisi para siswa yang sebelumnya mengalami keluhan kesehatan terus membaik.

Khotib memastikan seluruh korban yang sempat mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, pusing, maupun sakit perut kini telah sembuh.

"Alhamdulillah semua sudah sembuh," katanya.

Meski demikian, menurutnya masih ada beberapa siswa yang menjalani masa pemulihan di rumah untuk memulihkan kondisi fisik.

Jumlahnya diperkirakan sekitar lima hingga sepuluh orang. Namun tidak lagi memerlukan penanganan khusus di fasilitas kesehatan.

Beberapa saja yang menjalani pemulihan di rumah

Sementara itu, investigasi penyebab dugaan keracunan masih berlanjut.

 Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri telah mengirimkan sampel makanan ke laboratorium. Untuk memastikan ada tidaknya kontaminasi pada menu MBG yang disajikan saat kejadian.

Sampel yang diperiksa berasal dari makanan yang disimpan SPPG. Meliputi nasi putih, telur bumbu, tumis buncis wortel, dan tahu goreng.

Dinkes tidak memperoleh sampel muntahan maupun sisa makanan yang dikonsumsi siswa.

Sehingga pemeriksaan laboratorium hanya mengandalkan sampel makanan yang tersedia.

Kami tidak dapat sampel muntahan,” jelasnya.

Seperti diberitakan, kasus ini terjadi usai para korban mengonsumsi MBG dari SPPG Purwodadi.

 Mereka yang terdampak jumlahnya ratusan orang. Total, ada 211 korban yang terdiri dari siswa, guru, hingga penerima manfaat 3B. Mereka mengalami keluhan sama, pusing, mual, muntah, dan diare. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
SPPG keracunan mbg BGN