JP Radar Kediri–Penanganan kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Kras terus berlanjut.
Satgas MBG Kabupaten Kediri mengambil sampel makanan untuk dikirim ke laboratorium Surabaya.
Hasil pengujian sampel itu akan memastikan ada tidaknya kontaminasi yang jadi penyebab ratusan siswa mengeluhkan mencret, mual, pusing, dan muntah pada Kamis (23/7) dan Jumat (24/7) lalu.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib mengatakan, pemeriksaan laboratorium jadi salah satu langkah penting dalam proses investigasi.
Selain menelusuri data epidemiologi para siswa yang mengeluh mencret, muntah, mual, dan pusing.
“Uji laboratorium dilakukan untuk memperoleh bukti ilmiah terkait dugaan keracunan tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Khotib itu.
Sembari menunggu hasil investigasi, Khotib menyebut operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi yang melayani ribuan siswa di beberapa sekolah dihentikan sementara.
“Keputusan (suspend) itu merupakan kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN) sembari menunggu keputusan resmi,” lanjut Khotib.
Selama menunggu hasil investigasi, Khotib meminta agar SPPG melakukan sejumlah perbaikan. Baik tata kelola, sarana prasarana, maupun tata ruangnya.
Khotib menegaskan, SPPG diwajibkan menyisihkan sampel makanan yang diproduksi dan menyimpannya di dalam lemari pendingin.
“Ini (menyisihkan sampel makanan) menjadi prosedur tetap. Sampel itu yang kini akan digunakan untuk pemeriksaan laboratorium karena sisa makanan yang dikonsumsi para siswa sudah tidak lagi tersedia,” tuturnya sembari menyebut sampel harus disimpan oleh SPPG sekitar satu minggu.
Terkait jeda waktu makanan disimpan di lemari pendingin dan makanan yang dikonsumsi siswa, diakui Khotib hasil pemeriksaan laboratorium belum tentu bisa memastikan penyebab kejadian secara mutlak.
Sebab, makanan yang diuji belum tentu berasal dari proses produksi yang sama dengan makanan yang dikonsumsi siswa yang mengalami keluhan.
“Yang paling akurat sebenarnya adalah sisa makanan yang benar-benar dimakan saat kejadian. Persoalannya, sampel itu ada atau tidak. Karena itu kami menggunakan sampel yang disimpan SPPG sambil berharap masih representatif,” jelasnya.
Selain sampel makanan, dinas kesehatan juga berupaya menelusuri kemungkinan adanya sampel biologis.
Di antaranya muntahan pasien. Namun hingga kini sampel tersebut belum berhasil diperoleh.
Sehingga penyelidikan lebih banyak mengandalkan hasil surveilans epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium terhadap makanan.
Sampel makanan, tutur Khotib, sudah dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan di Surabaya kemarin. Proses pemeriksaan diperkirakan butuh waktu sekitar dua pekan. Bahkan bisa mencapai satu bulan.
Sementara itu, selain mengirim sampel makanan ke laboratorium, satgas juga kembali menelusuri para siswa yang sempat mengeluh sakit.
Hal itu dilakukan untuk memastikan tidak ada tambahan korban maupun perkembangan kondisi kesehatan mereka.
Hasil investigasi akan jadi dasar penentuan penyebab pasti dugaan keracunan. “Sekaligus bahan evaluasi pelaksanaan program MBG di Kabupaten Kediri,” tandasnya.
Seperti diberitakan, berdasar pendataan Satgas MBG Kabupaten Kediri, jumlah siswa yang mengalami keracunan diduga akibat menu MBG mencapai 211 anak.
Mereka berasal dari sejumlah sekolah yang dilayani oleh SPPG Purwodadi. Baik SD, MI, dan SMP.
Ratusan siswa itu mengeluhkan mual, muntah, mencret, dan pusing. Selama proses penyelidikan penyebab keracunan, SPPG Purwodadi dinyatakan di-suspend atau ditangguhkan operasionalnya.
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri