Perketat SOP, SPPG Purwodadi Pastikan Menu Makanan Aman: Libatkan Tenaga Kerja Lokal, Operasional Dapur Kerek Ekonomi Warga

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 19:02 WIB
HIGIENIS: Selain memberdayakan masyarakat, SPPG Purwodadi juga menempatkan aspek keamanan pangan sebagai prioritas utama.
HIGIENIS: Selain memberdayakan masyarakat, SPPG Purwodadi juga menempatkan aspek keamanan pangan sebagai prioritas utama.

JP Radar Kediri–Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi, Kecamatan Kras, tak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dapur pelayanan tersebut juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

 Melayani menu untuk sekitar dua ribu siswa, SPPG berkomitmen menjaga kualitas makanan.

Yakni dengan menerapkan standar operasional yang ketat sesuai petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN).

Kepala SPPG Purwodadi Yadin Syahril mengatakan, pemberdayaan masyarakat memang menjadi salah satu tujuan pendirian dapur MBG.

Baca Juga: Jelang Alih Tugas, AKBP Bramastyo Titip Semangat Pengabdian kepada Jajaran Polres Kediri, Begini Pesan yang Diberikan

Karena itu, sebagian besar personel direkrut dari lingkungan sekitar. Mayoritas personel yang bekerja di SPPG Purwodadi merupakan warga di sekitar lokasi dapur.

Langkah itu dilakukan agar manfaat keberadaan SPPG tidak hanya dirasakan oleh para penerima manfaat program MBG.

Tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. 

Dengan melibatkan warga sebagai relawan maupun tenaga operasional, perputaran ekonomi di lingkungan sekitar diharapkan ikut meningkat.

“Mayoritas pekerja kami memang warga sekitar. Tujuannya agar keberadaan dapur ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di wilayah sini,” ujarnya.

Selain memberdayakan masyarakat, SPPG juga menempatkan aspek keamanan pangan sebagai prioritas utama.

Seluruh bahan baku dibeli setiap hari agar kesegarannya terjaga.

Bahan yang tidak memenuhi standar langsung disortir dan tidak digunakan dalam proses produksi.

Tak hanya itu, proses pengolahan makanan juga dilakukan oleh juru masak yang didampingi tenaga profesional.

Sementara, komposisi menu dan kandungan gizi ditentukan oleh ahli gizi agar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

Baca Juga: MagangHub 2026 Tutup Pendaftaran 28 Juli, Pelamar Segera Masuk Tahap Seleksi

 “Makanan yang disajikan tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan,” tuturnya.

Yadin menegaskan, seluruh petugas penjamah makanan juga telah mendapatkan pelatihan khusus.

 Mereka dibekali pemahaman mengenai tata cara penanganan makanan yang aman dan higienis sebelum bertugas di dapur.

 “Semua penjamah makanan sudah mengikuti pelatihan dan sudah kami daftarkan sesuai ketentuan,” terangnya.

Selebihnya, dalam operasional sehari-hari seluruh tahapan produksi juga mengikuti SOP dan petunjuk teknis dari BGN.

Mulai proses pembersihan bahan baku, pengolahan, penggunaan peralatan berbahan stainless steel, hingga pengemasan dilakukan sesuai standar higienitas. 

Setelah makanan matang, produk terlebih dahulu didinginkan di ruang khusus.

 Selanjutnya baru dikemas untuk menjaga kualitas dan mengurangi risiko makanan cepat rusak.

Distribusi makanan juga diberi memiliki batas waktu. Makanan harus diterima penerima manfaat dalam rentang sekitar tiga hingga lima jam setelah proses produksi.

Baca Juga: Geger Gojek dan GoPay Alami Gangguan Hari Ini, Manajemen Ungkap Alasannya

 Pengiriman dilakukan secara bertahap menyesuaikan jadwal masing-masing sekolah dan seluruh distribusi dilengkapi surat jalan sebagai bentuk pengendalian mutu.

“Ada batas maksimal pengiriman makanan untuk diterima penerima manfaat. Sehingga makanan ini layak dan sesuai untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Di sisi lain, seluruh persyaratan administrasi maupun pengujian laboratorium terkait sanitasi, kualitas air, dan kelayakan fasilitas juga telah dipenuhi.

Meski demikian, SPPG Purwodadi masih menunggu terbitnya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Semua sudah melalui tes laboratorium. Saat ini tinggal menunggu proses penerbitan SLHS karena memang ada tahapan administrasi yang masih perlu mengantre,” jelas Yadin.

Sebagai mitra pelaksana program MBG, Yayasan Yudha Bhakti Sejahtera juga berkomitmen mendukung pemerataan pemenuhan gizi masyarakat melalui pembangunan SPPG di wilayah yang dinilai membutuhkan layanan tersebut.

Komitmen itu diwujudkan dengan menghadirkan fasilitas dapur yang memenuhi standar, mendukung operasional sesuai ketentuan BGN, sekaligus memastikan pelaksanaan program berjalan sejalan dengan tujuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
keamanan pangan memberdayakan masyarakat Mbg SPPG