JP Radar Kediri-Setelah tiga kali berturut-turut ritual Manusuk Sima selalu digelar di halaman Balai Kota Kediri, kemarin tradisi yang menandai Hari Jadi Kota Kediri itu dikembalikan ke kompleks Taman Tirtayasa, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota.
Tempat tersebut merupakan tanah pardikan yang disebutkan di Prasasti Kwak.
Untuk diketahui, Manusuk Sima terakhir kali digelar di sana pada 2022 lalu. Setelah itu, ritual dalam peringatan Hari Jadi Kota Kediri itu digelar di Balai Kota Kediri.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, pemilihan Taman Tirtayasa dilakukan karena wilayah tersebut memiliki kedekatan dengan sejarah lahirnya Kota Kediri. Yakni melalui Prasasti Kwak tahun 879 Masehi.
Baca Juga: Inilah Manusuk Sima, Upacara yang Jadi Puncak Peringatan Hari Jadi Kota Kediri Ke-1.447
Prasasti berisi tentang penetapan kawasan Kwak sebagai tanah sima atau tanah yang dibebaskan pajaknya oleh raja. Wilayah subur yang ditopang mata air Tirtayasa itu dipercaya sebagai pusat peradaban Kota Kediri pada masanya.
“Di sinilah jejak kawasan Kwak yang disebut dalam Prasasti Kwak kembali dihadirkan. Mengingatkan kita bahwa lebih dari 11 abad yang lalu, wilayah ini menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang peradaban Kota Kediri,” kata Vinanda.
Kembali digelarnya Manusuk Sima di kawasan Tirtayasa itu menurutnya juga bentuk ikhtiar pemkot untuk semakin mendekatkan masyarakat dengan akar sejarahnya. Sehingga, generasi muda bisa ikut mempelajari dan merawat sejarah.
“Tradisi ini juga mengajarkan kita bahwa kemajuan sebuah kota tidak lahir secara instan. Dia tumbuh dari kerja keras, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta komitmen menjaga nilai-nilai yang diwariskan generasi sebelumnya,” tandas Vinanda yang mengenakan baju Kediren berwarna ungu itu.
Baca Juga: Mereka, Anak-Anak Muda, Yang Ada di Balik Upacara Manusuk Sima
Dalam Prasasti Kwak yang diterbitkan pada 27 Juli 879 Masehi berisi penetapan tanah sima untuk daerah Kwak. Raja Mataram Kuno atau Medang pada saat itu, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, menyerahkan prasasti itu kepada penguasa wilayah Kwak, Rakai Wka Pu Catura.
Sampai sekarang, masyarakat masih mengenal daerah Kwak itu sebagai lingkungan Kuwak di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota. Sumber Tirtayasa yang berada di dalam kawasan Taman Tirtayasa hingga sekarang juga masih mengalirkan air.
Upacara tradisi Manusuk Sima itu juga dihadiri Direktur Warisan Budaya Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI Agus Widiatmoko. Dia mengapresiasi upaya Pemkot Kediri terus menghidupkan sejarah itu.
Menurutnya di usia yang sudah mencapai 1.147 tahun itu menunjukkan bahwa Kota Kediri dibangun bukan hanya dari fondasi kerajaan tua, melainkan peradaban tua.
“Kami paham betul di Kediri ini peradabannya cukup tua. Pada zamannya kira-kira seribu tahun lalu, disebut peradaban kalau masyarakatnya sudah punya literasi cukup tinggi. Di sini juga muncul banyak sastrawan pada masa itu,” ujarnya, terkait jejak sejarah panjang yang merangkai peradaban Kota Kediri.
Baca Juga: Prosesi Manusuk Sima dengan Sentuhan Kekinian, Ada Flashmobnya Juga
Yang menarik baginya adalah jejak sejarah peradaban Kota Kediri yang tertuang dalam prasasti itu tidak hanya disimpan dan dikenang. Melainkan direkonstruksi menjadi peristiwa yang dituturkan ulang tiap tahun dengan nama Manusuk Sima.
Bahkan, menurutnya bisa jadi penuturan sejarah dalam bentuk seperti ini merupakan satu-satunya di Indonesia.
“Ini dalam konteks dunia pariwisata modern disebut living museum. Dan ini kalau dikembangkan bisa luar biasa. Saya yakin ke depan untuk wisata budaya, Kota Kediri ini tidak kurang-kurang,” tandasnya.
Dalam upacara Manusuk Sima itu, Agus Widiatmoko juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) penetapan cagar budaya untuk beberapa objek. Yakni, Jembatan Lama Kediri atau Brug Over den Brantas te Kediri sebagai cagar budaya nasional yang SK-nya diterima oleh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati.
Kemudian, empat bangunan lain menjadi objek cagar budaya adalah gedung Bank Republik Indonesia (BRI) Cabang Kediri, gedung Bank Indonesia, kantor Kelurahan Pakelan, serta rumah duka Gie Kie Kong Soe.
Baca Juga: Hasil Kajian Tim Ahli, Separo Struktur Jembatan Lama Kediri Dinyatakan Sudah Keropos
Untuk diketahui, rangkaian perayaan Hari Jadi Kota Kediri juga diisi Dhoho Night Carnival pada Minggu (26/7) malam. Mengangkat tema Symphony of Nature, karnaval tersebut tidak hanya menjadi hiburan saja. Melainkan, diharapkan jadi agenda penting program Kediri City Tourism dan penggerak ekonomi masyarakat.
“Melalui program Kediri City Tourism, bagaimana setiap event tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga magnet yang menggetarkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, perhotelan, kuliner, hingga berbagai usaha masyarakat Kota Kediri,” ungkap Vinanda.
Vinanda berharap, Dhoho Night Carnival (DNC) bisa berlanjut setiap tahunnya. “Semoga di masa yang akan mendatang, DNC bisa lebih keren, lebih besar, dan lebih meriah,” harapnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, masyarakat menyambut antusias puluhan kontingen peserta DNC. Termasuk di antaranya kontingen dari PT Gudang Garam Tbk. Mereka hadir dengan warna serbapink untuk menggambarkan tema Kerajaan Bunga Anggrek.
Perusahaan multinasional yang berpusat di Kediri ini ingin menggambarkan perpaduan nilai sejarah, budaya, dan semangat inovasi yang tumbuh bersama perjalanan Kota Kediri. Hal tersebut sejalan dengan filosofi Kita Adalah Surya.
Kabag Humas PT Gudang Garam Tbk Iwhan Tri Cahyono mengatakan, partisipasi kontingen Gudang Garam di DNC 2026 merupakan bentuk apresiasi terhadap sejarah dan budaya.
“Gudang Garam tumbuh dan berkembang bersama Kota Kediri. Oleh karena itu, kami memandang Dhoho Night Carnival sebagai ruang untuk mengangkat kembali kekayaan sejarah dan budaya daerah melalui karya kreatif yang dapat dinikmati masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, DNC Sabtu malam juga dihadiri Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani. Di depan masyarakat yang menyebut di Taman Brantas, Zita mengaku terkesan dengan konsep DNC. Demikian pula kreativitas para pesertanya.
“Saya sangat tertarik datang karena tema yang di pilih sangat menarik. menggabungkan antara kreativitas seni dan budaya” ungkap Zita.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri