Pelajari Alur Keberangkatan Jemaah di Embarkasi Jogjakarta, Pemkab Matangkan Skema Embarkasi Dhoho: Begini Hasilnya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:39 WIB

SIMAK PENJELASAN: Tim Pemkab Kediri dan Kanwil Kemenhaj Jatim menyimak pemaparan tentang pelayanan jemaah haji di hotel Ibis Jogjakarta yang menjadi tempat transit jemaah di embarkasi berbasis hotel di sana. (Foto: Asad M.S)
SIMAK PENJELASAN: Tim Pemkab Kediri dan Kanwil Kemenhaj Jatim menyimak pemaparan tentang pelayanan jemaah haji di hotel Ibis Jogjakarta yang menjadi tempat transit jemaah di embarkasi berbasis hotel di sana. (Foto: Asad M.S)

JP Radar Kediri–Pemerintah Kabupaten Kediri semakin mematangkan skema operasional Embarkasi Dhoho.

Kemarin (24/7), tim Pemkab Kediri bersama Kementerian Haji melakukan studi tiru ke Embarkasi Haji Jogjakarta yang berbasis hotel.

Selain berdiskusi dengan Kanwil Kementerian Haji Jogjakarta, tim juga mengecek kondisi hotel dan Yogyakarta International Airport.

Kunjungan difokuskan untuk mempelajari alur pelayanan jemaah. Mulai dari kedatangan, pemeriksaan dokumen, pemeriksaan kesehatan, penempatan hotel, hingga keberangkatan menuju bandara.

Studi ke Jogjakarta dilakukan karena Embarkasi Dhoho akan menerapkan embarkasi dengan jemaah transit di hotel.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri Moh Solikin mengatakan, studi tiru dilakukan karena pemkab ingin mendapat gambaran utuh tentang pengelolaan embarkasi berbasis hotel yang telah diterapkan Jogjakarta.

Menurutnya, aspek akomodasi jadi tantangan utama yang harus disiapkan sebelum Embarkasi Dhoho beroperasi.

“Kami datang untuk belajar. Terutama bagaimana pelayanan keberangkatan dan kepulangan jemaah, pengelolaan hotel transit, sampai pergerakan jemaah menuju bandara. Ini menjadi bekal penting bagi Kabupaten Kediri,” ujarnya.

Kesiapan Bandara Dhoho, kata Solikin, sebenarnya sudah sangat memadai untuk mendukung operasional embarkasi. 

Baca Juga: Belajar ke Yogyakarta, Pemkab Kediri Matangkan Persiapan Embarkasi Haji Dhoho

Potensi jemaah yang akan dilayani juga cukup besar. Yakni sekitar 10 ribu jemaah dari 13 kabupaten/kota di wilayah eks Karesidenan Kediri dan sekitarnya.

Namun, kendala utama saat ini bukan lagi bandara. Melainkan sistem akomodasi. Karenanya, pemkab mengajukan pembangunan hotel haji di lahan milik daerah yang berjarak sekitar dua kilometer dari Bandara Dhoho.

Adapun dalam jangka pendek, skema hotel-hotel eksisting juga dipelajari seperti yang diterapkan di Jogjakarta.

“Kami harus belajar bagaimana alur jemaah dari hotel ke bandara, begitu juga saat kepulangan. Harapan kami ketika nanti embarkasi berjalan, seluruh pelayanan sudah siap,” tuturnya.

Plt Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Jogjakarta Silvia Rosetti menjelaskan, gagasan embarkasi berbasis hotel mulai dirintis sejak 2019 dan mulai mengerucut pada 2021.

Saat itu Jogjakarta tidak memiliki asrama haji, sehingga berbagai kajian dilakukan bersama pemerintah daerah, Kesultanan Jogjakarta, hingga sejumlah pemangku kepentingan.

“Hasil kajian tersebut kemudian menemukan solusi dengan memanfaatkan hotel sebagai fasilitas embarkasi,” jelasnya.

Setelah melalui proses koordinasi lintas instansi dan kajian yang panjang, pada Oktober 2025 pemerintah akhirnya menetapkan Embarkasi Jogjakarta berbasis Bandara YIA.

Tahun pertama operasional, embarkasi melayani 9.320 jemaah. Terdiri dari 3.800 jemaah Jogjakarta dan sisanya dari enam kabupaten/kota di wilayah Jawa Tengah.

Seluruh proses pelayanan dipusatkan di Hotel Ibis YIA. Selama operasional haji, hotel tersebut disterilkan. Seluruh pelayanan haji juga dilakukan di hotel.

Baca Juga: Bupati Dhito Tinjau Lokasi Calon Hotel Haji Embarkasi Bandara Dhoho Kediri, Ini Yang Dilakukan

Mulai penerimaan jemaah, pemeriksaan kesehatan, verifikasi dokumen, pembagian living cost.

Termasuk aktivasi kartu Nusuk, hingga pemeriksaan bagasi dan barang bawaan menggunakan mesin X-Ray.

Konsep tersebut menerapkan one stop service (OSS) sehingga jemaah tidak lagi menjalani proses administrasi di bandara.

“Dari hotel semua layanan selesai. Setelah itu jemaah tinggal naik bus menuju bandara dan langsung masuk pesawat. Jadi seluruh proses administrasi, kesehatan hingga pemeriksaan barang sudah dituntaskan di hotel,” terangnya.

Saat kepulangan, jemaah tidak kembali ke hotel. Mereka diarahkan menuju ruang khusus di area bandara untuk menyelesaikan pemeriksaan imigrasi, kesehatan, dan dokumen.

Paspor dikumpulkan oleh ketua kloter sebelum pesawat mendarat, sehingga proses kedatangan berlangsung lebih cepat dan tidak menimbulkan antrean panjang.

“Semua pelayanan ada di sana sehingga ketika sampai bandara jemaah tinggal berangkat. Konsep ini terbukti berjalan aman, nyaman, dan efisien,” tandasnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
bandara yia kulon progo studi tiru hotel pemkab kediri embarkasi haji