JP Radar Kediri – Kasus kebakaran di Kabupaten Kediri mengalami peningkatan signifikan selama musim kemarau. Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, petugas pemadam kebakaran harus menangani beberapa kejadian dalam satu hari. Mayoritas dipicu faktor kelalaian manusia.
Plt Kasatpol PP Kabupaten Kediri Kaleb Untung Satrio Wicaksono mengatakan, lonjakan kasus mulai terlihat sejak akhir Juni-Juli. Pada periode tersebut, laporan kebakaran hampir masuk setiap hari.
“Hampir setiap hari ada kejadian. Kalau dirata-rata bisa sekitar tiga kasus per hari, bahkan pernah hingga tujuh kejadian sehari” ujarnya.
Jenis kebakaran yang paling banyak terjadi adalah kebakaran lahan tebu dan pembakaran sampah. Sementara penyebab terbanyak kedua berasal dari korsleting listrik.
“Sebagian besar karena kelalaian manusia. Misalnya membakar sampah atau membakar daduk tebu lalu ditinggal. Padahal saat musim kemarau angin cukup kencang sehingga api mudah merembet,” jelas Kaleb.
Kondisi cuaca kering membuat material seperti daun, ranting, kayu, dan sampah mudah terbakar. Selain itu, penggunaan kompor berbahan kayu bakar, minyak tanah maupun LPG yang tidak diawasi juga kerap menjadi pemicu kebakaran rumah.
Sementara untuk kasus korsleting listrik, Kaleb menilai banyak warga masih menggunakan instalasi listrik yang sudah tua dan tidak diperiksa secara berkala. “Instalasi listrik yang sudah aus seharusnya segera diganti dan pengerjaannya dilakukan oleh orang yang kompeten,” tegasnya.
Kaleb menyebut peningkatan kasus diperkirakan masih akan berlangsung hingga September atau Oktober seiring berlanjutnya musim kemarau. Karena itu pihaknya terus melakukan upaya mitigasi melalui sosialisasi di radio, media massa, maupun berbagai kegiatan edukasi kepada masyarakat.
Pihaknya mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari pembakaran sampah di area terbuka. Selain pencegahan, masyarakat juga diminta memahami langkah awal saat menghadapi kebakaran. Menurut Kaleb, hal terpenting adalah tidak panik.
“Kalau ada tabung LPG bocor jangan langsung dibuang keluar atau disiram air. Cukup tutup sumber apinya menggunakan karung atau kain basah,” kata Kaleb.
Hal serupa juga berlaku saat terjadi korsleting listrik. Warga diminta segera mematikan aliran listrik sebelum melakukan upaya pemadaman awal menggunakan kain atau karung basah. Kaleb menambahkan, masyarakat juga perlu rutin memeriksa alat pemadam api ringan (APAR) yang dimiliki. Termasuk masa kedaluwarsa dan kondisi medianya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri