Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penjahit Seragam di Pasar Pahing Kediri Banjir Order, Omsetnya Bisa Naik Segini!

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 12 Juli 2026 | 07:33 WIB
Salah seorang penjahit di Pasar Pahing, Kota Kediri sedang melayani pelangganya. (Hilda Nurmala/JPRK)
Salah seorang penjahit di Pasar Pahing, Kota Kediri sedang melayani pelangganya. (Hilda Nurmala/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar KediriJelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, penjahit di Pasar Pahing, Kota Kediri banjir order. Omzet mereka naik hingga separo saking banyaknya masyarakat yang menjahitkan seragam sekolah.

Seperti dikatakan oleh Mitra, salah satu penjahit di Pasar Pahing. Dia mengaku senang karena omzetnya naik hingga 50 persen. “Hari biasa pendapatan hanya di angka Rp 70 ribu, sekarang bisa mencapai Rp 150 ribu,” ujar perempuan asal Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto itu.

Ramainya order jahit menurut Mitra sudah terjadi sejak dua minggu terakhir. Permintaan masyarakat pun beragam. Ada yang menjahitkan bet, hingga menjahitkan beberapa pasang seragam.

Baca Juga: Omzet Toko Seragam dan ATK Meroket Karena Hal Ini!

Mayoritas pelanggan menurutnya merupakan warga Kota Kediri. “Terkadang hanya dua orang (yang datang) tapi membawa pakaian lebih dari 2 setel. Misalnya satu orang menjahitkan sebanyak 5 seragam,” lanjut perempuan yang biasa menangani puluhan setel baju dalam seminggu itu.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, ada sekitar 10 lapak penjahit di Pasar Pahing. Jelang dimulainya tahun ajaran baru dua minggu ke depan, lapak di sana ramai dikunjungi masyarakat. Bahkan, ada yang rela mengantre dengan membawa anaknya agar bisa diukur badannya.

Satu setel seragam dipatok tarif Rp 150 ribu. Jika dalam sehari mereka bisa menyelesaikan dua setel seragam saja, para penjahit bisa membawa pulang Rp 300 ribu. “Biaya untuk menjahit satu stel seragam Rp 150 ribu. Baik tingkat SD, SMP maupun SMA sama,” ujar Suharto, penjahit lainnya, asal Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota Kediri.

Baca Juga: BPKP Minta Percepat Proyek Sekolah Rakyat Kota Kediri, Target Tuntas sebelum Masuk Tahun Ajaran Baru

Dia mengakui, setiap tahun ajaran baru merupakan masa panen bagi penjahit.  Jika biasanya maksimal hanya mendapat uang maksimal Rp 100 ribu, kini bisa tiga hingga lima kali lipat. “Sekarang per hari bisa sampai Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Meningkatnya cukup fantastis,” bebernya senang.

          Untuk bisa menyelesaikan satu setel baju, Suharto dan penjahit lain membutuhkan waktu lebih dari sehari. Saking banyaknya antrean, dia juga meminta tenggat selama seminggu. “Kalau (selesainya) lebih cepat akan dikabari untuk segera diambil,” paparnya.

Terpisah, Bina, warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri mengaku sengaja menjahitnya baju di Pasar Pahing karena biayanya lebih murah dan bisa dipantau secara langsung. “Mungkin kalau penjahit rumahan dibanderol Rp 175 ribu, di sini cuma Rp 150 ribu. Kadang juga bisa dipantau pengerjaannya,” aku ibu dari satu anak itu.

Baca Juga: Melihat Tren Pegadaian Emas di Kediri yang Marak saat Tahun Ajaran Baru

Hal senada dikatakan oleh Intan, 28, warga Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren. Menurutnya, dengan menjahitkan baju di pasar tradisional, biayanya lebih terjangkau.

“Kadang itu selisih harga Rp 5 ribu. Sebagai ibu-ibu beda seribu saja bisa pindah, apalagi ini,” tandas perempuan yang langganan menjahit di sana sejak anaknya di bangku SD itu. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
PENJAHIT SERAGAM OMZET NAIK tahun ajaran baru pasar pahing kota kediri