JP Radar Kediri–Rencana operasional Embarkasi Dhoho disebut-sebut lebih menguntungkan jemaah dibanding keberangkatan lewat Bandara Juanda.
Pasalnya, jemaah yang terbang lewat Bandara Dhoho itu akan menggunakan pesawat Boeing 777 yang lebih besar. Pesawat tidak perlu transit mengisi bahan bakar sehingga biaya lebih murah.
Asisten 1 Sekretariat Daerah Kabupaten Kediri Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sukadi mengatakan, kepastian penggunaan pesawat Boeing 777 itu disampaikan langsung jajaran Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, saat diskusi lanjutan di Kediri minggu lalu.
Menurutnya, salah satu keunggulan Bandara Dhoho adalah spesifikasi landasan pacu yang panjangnya 3.300 meter. Jauh lebih panjang dari Bandara Juanda yang hanya 3.000 meter.
Dengan panjang runway tersebut, pesawat Boeing 777 bisa lepas landas dengan kapasitas bahan bakar penuh.
Sehingga mampu menempuh penerbangan langsung menuju Arab Saudi tanpa transit mengisi bahan bakar minyak (BBM).
“Rencana pesawat yang dipakai (untuk penerbangan haji 2027) nanti Boeing 777. Runway-nya 3.300 meter sehingga Boeing 777 sudah bisa mendarat di sini dan berangkat dari sini,” ujar Sukadi.
Baca Juga: Tol Bandara Dhoho Kediri Bisa Difungsikan Desember, Dukung Operasional Embarkasi Haji Tahun 2027
Dengan runway yang lebih pendek, menurut Sukadi selama ini pesawat di Embarkasi Surabaya menggunakan Airbus A330.
Pesawat tersebut memiliki keterbatasan kapasitas bahan bakar untuk penerbangan langsung. Karenanya, pesawat harus transit untuk mengisi ulang avtur sebelum melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi.
Akibatnya, terdapat tambahan biaya operasional untuk transit dan pembelian bahan bakar di bandara dengan harga yang lebih tinggi.
Beban biaya tersebut, kata Sukadi, akhirnya ikut memengaruhi biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) yang ditanggung jemaah.
“Kalau Airbus 330 itu wajib menambah bahan bakar. Perlu transit dan ngisi bahan bakar. Ada biaya transit, kemudian BBM di sana juga lebih mahal. Itu yang akhirnya ditanggung jemaah,” lanjutnya.
Dengan menggunakan Boeing 777 dari Kediri, menurut Sukadi pesawat dapat langsung terbang menuju Arab Saudi tanpa singgah. Hal ini membuat biaya operasional maskapai jadi lebih efisien.
Dia memperkirakan biaya haji bisa turun hingga Rp 6 juta per jemaah. Selain lebih hemat, durasi perjalanan juga diperkirakan akan lebih singkat karena tidak perlu menunggu transit.
Terpisah, Manager Operasional Airnav Indonesia Cabang Surabaya Setiadi mengatakan, Bandara Dhoho Kediri dengan panjang runway 3.300 meter, memungkinkan pesawat berbadan besar take off dan landing di sana.
Terkait rencana penerbangan menggunakan Boeing 777, dari sisi Air Traffic Control (ATC) tidak ada masalah. Sebab, Bandara Dhoho memang sudah bisa melayani pesawat berbadan besar.
“Kalau tipe B777 Insyallah sudah bisa masuk dan daya tampung terminal juga sudah cukup karena kapasitas B777 hampir sama dengan A330,” jelasnya sembari menyebut ATC belum dapat informasi tentang kepastian jenis pesawat.
Seperti diberitakan, Embarkasi Dhoho akan beroperasi tahun depan. Sedikitnya ada 10.548 jemaah dari 15 kabupaten/kota di Jatim selatan yang akan berangkat dari sana.
Berbeda dengan Embarkasi Surabaya yang menggunakan asrama haji, jemaah dari Embarkasi Kediri akan transit di hotel.
Editor : Andhika Attar Anindita