Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Enam Bulan, 51 Ribu Warga Terserang ISPA: Begini Penjelasan Dinkes Kabupaten Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 7 Juli 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi ISPA.
Ilustrasi ISPA.

 

 JP Radar Kediri–Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) di Kabupaten Kediri. Selama semester pertama 2026 ini, total ada lebih dari 51 ribu warga yang mengalami penyakit akibat paparan virus itu.

 

Data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menyebutkan, pada Januari lalu total ada 5.894 kasus. Kemudian, Februari sedikit turun menjadi 3.592 kasus. Namun, pada Maret lalu terjadi lonjakan hingga 9.324 kasus.

 

Pada bulan April ISPA kembali naik menjadi 11.274 kasus. Kemudian, Mei naik tipis  sebesar 11.461 kasus. Selanjutnya, pada Juni lalu sedikit turun menjadi 9.568 kasus.

Baca Juga: Waspada Ancaman Penyakit ISPA dan Pneumonia di Kediri, Begini Data Dinas Kesehatan

 

“Perubahan cuaca dan kondisi lingkungan jadi faktor yang mempermudah penyebaran virus ISPA,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Bambang Triyono Putro.

 

Keluhan sakit batuk dan pilek menurut Bambang sudah banyak ditemukan sejak musim penghujan. Dan, berdasar pengalaman tahun sebelumnya, trennya akan terus meningkat di musim pancaroba seperti sekarang.

 “Virus menyerang saat kondisi tubuh menurun. Apalagi saat terjadi pergantian musim atau pancaroba,” lanjutnya.

 

Memasuki musim kemarau, kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya paparan debu, serta asap pembakaran sampah dan sisa panen.

 

Kondisi bediding atau suhu yang sangat dingin di malam hari dan cuaca yang sangat terik di siang hari, juga jadi penyebab ISPA. Sebab, perubahan suhu secara drastis saat bediding bisa membuat daya tahan tubuh menurun.

Baca Juga: Kemarau Panjang Rawan Drop, Begini Tips Hindari Dehidrasi dan ISPA Saat Kemarau Panjang

Anak-anak, jelas Bambang, jadi kelompok yang paling rentan terdampak karena saluran napas mereka lebih kecil. Akibatnya, akan lebih mudah tersumbat lendir.  Selain itu, daya tahan anak-anak relatif masih lemah.

 

Hal itu pula yang membuat anak lebih mudah mengalami sesak napas, sulit tidur, rewel hingga demam tinggi. “Anak-anak (mudah kena ISPA) karena daya tahan tubuh masih lemah. Dan dewasa yang mobilitasnya tinggi juga (rawan terkena ISPA),” beber Bambang.

 

            Karenanya, di peralihan musim seperti sekarang, Bambang meminta masyarakat menggunakan masker saat berada di luar rumah.

Selain itu, masyarakat juga membiasakan cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan. Selebihnya, dia juga mengimbau agar menghindari paparan asap rokok.

 

            Yang tidak kalah penting, menurut Bambang adalah pola hidup sehat atau menjaga kebersihan lingkungan.

 

 Salah satunya dengan tidak membakar sampah sembarangan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala ISPA.

 

Yakni ditandai dengan demam tinggi, sesak napas, atau keluhan lain yang tidak kunjung membaik. 

Baca Juga: Waspada! Ratusan Warga Terjangkit ISPA, Dinkes Kota Kediri Imbau Pakai Masker

 

Kasus ISPA di Kabupaten Kediri:

Bulan                           Kasus

Januari                         5.894

Februari                       3.592

Maret                           9.324

April                            11.274

Mei                              11.461

Juni                              9.568

Total                            51.113

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kemarau #debu #ispa