Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cuaca Panas Ekstrem Bikin Buah Cabai di Kediri Jadi Kempis, Begini Kondisinya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 7 Juli 2026 | 07:30 WIB
Petani sedang mengusung cabai dari sawah. (Foto Wahyu Adji)
Petani sedang mengusung cabai dari sawah. (Foto Wahyu Adji)

JP Radar Kediri – Cuaca panas ekstrem mulai berdampak pada produksi cabai di beberapa wilayah Kediri Raya.

 Bukan hanya membuat tanaman mudah layu, suhu tinggi juga menyebabkan buah cabai menjadi menyusut.

 Kondisi itu membuat hasil petikan petani berkurang. Menurunnya produksi tersebut kini mulai mendorong kenaikan harga cabai di Pasar Induk Pare.

Pedagang Pasar Induk Pare Hendri Ariawan mengatakan, dampak musim kemarau mulai terasa sejak beberapa pekan terakhir.

Panas yang berkepanjangan membuat pertumbuhan buah cabai tidak maksimal. Akibatnya, ukuran buah mengecil dan banyak yang terlihat kempis. Sehingga produktivitas tanaman menurun.

“Banyak tanaman yang layu. Buahnya juga kempet-kempet sehingga petikan berkurang. Produksi memang turun karena cuaca ekstrem seperti ini,” ujar Hendri.

Baca Juga: Ini Penyebab Harga Cabai Rawit Anjlok

Ketika harga sempat anjlok, sebagian petani memilih menunda panen sehingga pasokan ke pasar semakin terbatas. Dampaknya mulai terlihat pada harga di tingkat grosir maupun eceran.

Cabai rawit merah varietas Asmoro saat ini dijual Rp 34 ribu-Rp 36 ribu per kilogram. Sementara varietas Ori berada di kisaran Rp 36 ribu-Rp 38 ribu per kilogram.

Sedangkan varietas Camelia asal Malang berkisar Rp 34 ribu-Rp 35 ribu per kilogram, tergantung kualitas.

Cabai merah besar dipasarkan Rp 19 ribu per kilogram di tingkat grosir dan Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu per kilogram di tingkat eceran.

Sementara cabai merah keriting dijual Rp 23 ribu per kilogram untuk partai dan Rp 25 ribu-Rp 26 ribu per kilogram di tingkat eceran.

Menghadapi kemarau, petani berupaya menyelamatkan tanaman dengan menerapkan sistem irigasi tetes atau sistem infus.

Air ditampung di dalam toren kemudian dialirkan melalui selang kecil yang diberi lubang menuju setiap batang tanaman agar kebutuhan air tetap tercukupi.

Baca Juga: Harga Komoditas Cabai Rawit di Kediri Terus Melejit, Ini Penyebabnya!

“Sebagian petani sampai membeli air dari PDAM atau sumber air pegunungan untuk ditampung di toren. Tapi meski sudah memakai sistem infus, hasilnya tetap belum maksimal kalau cuacanya terlalu ekstrem,” ungkap Hendri.

Menurutnya, penyiraman juga harus dilakukan pada waktu yang tepat. Banyak petani memilih mengalirkan air pada malam hari.

Pasalnya penyiraman sore hari dinilai lebih berisiko bagi tanaman. Namun, upaya tersebut hanya menjadi langkah untuk menekan kerusakan. Bukan mengembalikan produktivitas tanaman seperti saat kondisi cuaca normal. 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#panas #kemarau #cabai #anjlok