JP Radar Kediri–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri memberi dukungan penuh operasional Embarkasi Haji Kediri pada 2027 nanti.
Dalam rapat di Asrama Haji Sukolilo Surabaya bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Rabu (1/7) lalu, mereka mengusulkan sejumlah hotel untuk transit lebih dari 10 ribu jemaah sebelum terbang lewat Bandara Dhoho.
Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa yang Rabu lalu ikut rapat koordinasi mengatakan, kesiapan penginapan untuk transit jemaah jadi topik pembahasan utama saat paparan di depan Kemenhaj.
Meski yang disurvei baru Hotel Merdeka dan Hotel Grand Surya, menurut Dewi pemkab sudah menginventarisasi 10 hotel yang dinilai layak digunakan saat Embarkasi Haji Kediri dioperasikan tahun depan.
“Yang disurvei memang Hotel Merdeka sama Grand Surya. Tapi dari pemkab kami juga menyiapkan opsi lain. Ada City Hub, Fave, Lotus, dan beberapa hotel lainnya. Jadi kami siapkan sebagai pendukung kalau nanti dibutuhkan,” ujar Dewi.
Sedikitnya ada 10 hotel di Kediri yang dinilai memenuhi kriteria untuk mendukung operasional embarkasi. Total kapasitas dari 10 hotel itu sebanyak 798 kamar.
Selain hotel, Balai Pengembangan Kompetensi ASN (BPKASN) milik Pemkab Kediri di Desa Bulusari, Tarokan juga bisa dimanfaatkan.
“BPKASN nanti juga bisa dimanfaatkan, kapasitasnya sekitar 50 sampai 100 kamar. Itu kan nanti (2027) siswa Sekolah Rakyat juga sudah pindah,” terang Dewi.
Baca Juga: Bandara Dhoho Jadi Embarkasi Haji, Pemkab Kediri Siapkan Lahan Khusus untuk Tujuan Ini
Dengan kapasitas tersebut, Dewi optimistis akan mampu mengakomodasi kebutuhan jemaah yang menginap sebelum berangkat melalui Bandara Dhoho.
Orang nomor dua di Pemkab Kediri ini menegaskan, konsep embarkasi Kediri berbeda dengan Surabaya.
Calon jemaah tidak lagi masuk asrama haji sebelum terbang. Melainkan langsung transit di hotel untuk persiapan sebelum diberangkatkan ke Bandara Dhoho.
Karenanya, selain menyiapkan hotel, Pemkab Kediri juga menawarkan lahan seluas 6,5 hektare di dekat Bandara Dhoho. Tepatnya di dekat area lapangan golf di depan bandara.
Lahan milik Pemkab Kediri siap digunakan jika nanti Pemerintah Pusat memutuskan membangun fasilitas permanen untuk mendukung embarkasi haji di Kediri.
Lahan, terang Dewi, tidak digunakan untuk membangun asrama haji seperti di Sukolilo. Melainkan berupa hotel haji yang sesuai dengan skema keberangkatan lewat Bandara Dhoho.
Usulan tersebut menurut Dewi masih akan dibahas lebih lanjut oleh Kemenhaj. Saat ini Pemkab Kediri diminta segera melengkapi dokumen administrasi.
Termasuk proposal dan dokumen pendukung lainnya sebagai bagian dari pengajuan resmi penyelenggaraan embarkasi haji di Kediri.
Baca Juga: Jadi Embarkasi Haji, Pemkab Kediri Nge-list Penginapan dan Siapkan Lahan Seluas Ini
Dewi menegaskan, Kemenhaj telah memberi sinyal positif terkait kesiapan Embarkasi Haji Kediri.
Sedikitnya ada 10.167 calon jemaah dari 10 kabupaten/kota di eks Karesidenan Kediri dan Madiun, yang akan berangkat lewat Bandara Dhoho.
Kantor Wilayah Kemenhaj Jatim juga mengusulkan penambahan jemaah dari Jombang dan Bojonegoro yang dinilai lebih dekat berangkat lewat Kediri dibanding ke Juanda.
“Pak Menteri menyampaikan sekitar 99,9 persen peluangnya pada 2027 sebanyak 10.167 jemaah dari 10 kabupaten/kota bisa berangkat lewat embarkasi Kediri. Bahkan dari kanwil mengusulkan tambahan Jombang dan Bojonegoro karena lebih dekat ke Bandara Dhoho,” tandasnya.
Dari sisi operasional bandara, Dewi memastikan tidak ada lagi kendala yang berarti. Status Bandara Dhoho sebagai bandara internasional membuat seluruh persyaratan penerbangan internasional telah terpenuhi.
Pemeriksaan X-ray nantinya juga dilakukan langsung di terminal bandara seperti penumpang reguler. Selebihnya, Bandara Dhoho juga memiliki kapasitas yang besar. Sesuai paparan PT Angkasa Pura, bandara masih mampu melayani hingga lima penerbangan per hari tanpa mengganggu jadwal penerbangan domestik yang telah berjalan.
“Masih mampu melayani sampai lima flight per hari tanpa mengganggu penerbangan reguler. Jadi secara operasional sudah sangat siap,” imbuhnya.
Editor : Andhika Attar Anindita