JP Radar Kediri – Harga jagung di tingkat petani mengalami penurunan tajam. Saat ini, petani hanya mampu menjual jagung dengan harga sekitar Rp 1.700 per kilogram. Kondisi tersebut dikeluhkan petani karena harga jual dinilai jauh dari harapan dan sulit memberikan keuntungan.
Fahmi, salah seorang petani jagung mengatakan anjloknya harga jagung dipicu melimpahnya hasil panen pada musim tanam ketiga. Produksi yang tinggi membuat pasokan di tingkat petani meningkat. Sehingga harga jual ikut tertekan.
Menurut Fahmi, kondisi seperti ini hampir terjadi setiap tahun saat musim tanam ketiga. Selain karena hasil panen yang melimpah, biaya perawatan tanaman pada musim kemarau cenderung lebih ringan dibandingkan musim hujan. Sehingga banyak petani menanam jagung pada periode yang sama.
“Karena banyak yang panen bersamaan, pasokan melimpah dan harga menjadi turun. Kondisi ini sebenarnya sudah biasa terjadi setiap tahun,” ujarnya.
Fahmi menambahkan, melemahnya daya beli masyarakat juga turut memengaruhi harga komoditas pertanian. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat permintaan tidak sekuat sebelumnya. Sehingga petani dan pedagang terpaksa menurunkan harga untuk menarik pembeli.
Ironisnya, di tengah anjloknya harga di tingkat petani, harga jagung di pasar justru mengalami kenaikan. Jika sebelumnya jagung dijual dengan harga sekitar Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram, kini harganya mencapai Rp 9.000 per kilogram.
Perbedaan harga yang cukup lebar antara tingkat petani dan pasar tersebut menjadi perhatian. Pasalnya petani tidak menikmati kenaikan harga yang terjadi di tingkat konsumen.
Fahmi berharap harga jagung dapat kembali membaik dalam beberapa waktu ke depan. Menurutnya, harga normal yang dapat memberikan keuntungan bagi petani berada di kisaran Rp 6.000 per kilogram. (c1/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita