Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mayoritas Perempuan dan Anak Alami Kekerasan Fisik, Ini Pemicu Utamanya Menurut UPT PPA Kota Kediri

Ayu Ismawati • Senin, 22 Juni 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak yang meningkat. (Ilustrator: Afrizal)
Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak yang meningkat. (Ilustrator: Afrizal)

JP Radar Kediri-Lonjakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di separuh tahun 2026 ini di Kota Kediri mengungkap fakta baru.

Dari puluhan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, mayoritas temuan merupakan kasus kekerasan fisik.

Faktor pemicunya juga sangat dekat dengan para korban. 

Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kota Kediri Suwarsi mengatakan, sebanyak 49 kasus kekerasan perempuan dan anak yang ditemukan selama Januari – Juni itu meningkat signifikan dibanding tahun 2025.

Dengan periode yang sama, peningkatannya mencapai sekitar 300 persen! 

Baca Juga: Kasus Kekerasan Perempuan-Anak di Kota Kediri Melonjak, Menteri PPPA Sebut Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Utama Tingginya Kasus

“Yang paling banyak kekerasan fisik (16 kasus), kemudian kekerasan seksual 10 kasus, kekerasan psikologis ada 15, dan penelantarannya ada 8 kasus,” ujar Suwarsi.

Tingginya kasus itu menurut Suwarsi juga dipicu meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kejadian kekerasan.

Sebab, mayoritas kasus itu berasal dari laporan masyarakat yang dihimpun Satgas PPA.

“Ada juga masyarakat yang langsung melapor ke UPT PPA,” lanjut Suwarsi. 

Baca Juga: Terpidana Kekerasan Balita Ngronggo Dilayar ke Blitar, Ini Alasannya!

Satgas PPA, tutur Suwarsi, juga melakukan penjangkauan ke kelurahan-kelurahan.

Dari sana, pihaknya memberi catatan khusus terhadap beberapa wilayah dengan temuan kasus paling tinggi. Di antaranya Kelurahan Ngronggo.

“Mungkin karena rata-rata bukan penduduk asli situ, tapi ngekos di daerah itu,” sambungnya tentang kasus yang turut menambah jumlah temuan di sana.

Dari puluhan kasus yang ditangani Satgas PPA, menurut Suwarsi ada satu kesamaan yang banyak ditemui.

Yakni, sebanyak 75 persen korban berasal dari keluarga yang tidak harmonis atau yang jauh dari pengawasan orang tua.

Kondisi itu pula yang menempatkan anak-anak pada status keluarga rentan. 

Baca Juga: Polisi Lepas Ortu Korban Kekerasan Ngronggo Kediri, Ini Alasannya!

“Memang tidak pasti (keluarga tidak harmonis menjadi pemicu, Red). Tapi rata-rata yang laporan ke sini itu korban anak-anak dari perceraian. Pokoknya keluarga yang tidak harmonis,” terang Suwarsi.

Merespons temuan itu, pihaknya menekankan pada pendampingan psikologis bagi anak maupun perempuan korban kekerasan.

Pendampingan diberikan hingga korban bisa menjalani kehidupannya dengan normal kembali. Termasuk jika korban menjalani proses hukum. 

“Pada prinsipnya setiap laporan ke UPT PPA akan selalu kami tindaklanjuti,” tandasnya.

Baca Juga: Anak di Kediri Rentan Jadi Korban Kekerasan, Ini Yang Mendominasi!

Seperti diberitakan, selama enam bulan, ada 49 kasus kekerasan perempuan dan anak yang ditemukan di Kota Kediri.

Angka itu menunjukkan lonjakan signifikan. Sebab selama setahun di 2025 lalu, jumlah kasusnya hanya 18.

Temuan itu juga jadi catatan serius bagi Pemkot Kediri. Pemkot menindaklanjuti dengan melakukan mitigasi.

Di antaranya dengan menjangkau masing-masing kelurahan dan sekolah.

Mereka juga fokus mitigasi pada keluarga rentan. Di antaranya rentan ekonomi karena dari keluarga tidak mampu. Atau, anak-anak yang ditinggalkan orang tua untuk bekerja di luar kota atau luar negeri.

         

Editor : Mahfud
#Unit PPA #kekerasan perempuan dan anak #PPA #perempuan dan anak #kekerasan