Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi Jamasan Keris Masih Lestari di Kediri, Warga Rogoh hingga Rp 10 Juta Saat Bulan Suro

Himalaya Azzahra • Selasa, 16 Juni 2026 | 20:54 WIB



Warga kediri yang masih menjalankan ritual suro jamasan keris secara pribadi
Warga kediri yang masih menjalankan ritual suro jamasan keris secara pribadi

 

KOTA, JP Radar Kediri – Tradisi jamasan keris masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peringatan Bulan Suro bagi sebagian masyarakat Jawa.

Demi menjalankan ritual yang diwariskan secara turun-temurun tersebut, sejumlah warga rela mengeluarkan biaya hingga Rp10 juta untuk membiayai berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari prosesi pembersihan pusaka hingga acara selametan bersama keluarga dan masyarakat sekitar.

Pelaku budaya sekaligus pemilik pusaka, Cahya Gumelar, mengatakan besarnya biaya yang dikeluarkan bukan semata untuk proses pembersihan keris, melainkan juga untuk memenuhi berbagai kebutuhan ritual yang menyertai kegiatan tersebut.

“Pengeluaran itu digunakan untuk acara jamasan keris dan selametan. Biayanya untuk menyiapkan sesaji, tumpeng, konsumsi, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya,” ujarnya.

Baca Juga: Perayaan Ritual Satu Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya Dihadiri Ribuan Penonton hingga Wisatawan Asing

Menurut pria yang di kenal sebagai agum itu, tradisi jamasan keris masih banyak dilakukan oleh masyarakat yang memiliki pusaka warisan keluarga maupun koleksi pribadi.

Ritual tersebut umumnya dilaksanakan pada malam 1 Suro atau selama Bulan Suro yang dalam penanggalan Jawa dianggap sebagai bulan yang sakral.

Ia menjelaskan, biaya yang dikeluarkan setiap orang berbeda-beda tergantung skala kegiatan yang diselenggarakan.

Untuk kegiatan sederhana yang hanya melibatkan keluarga inti, biaya yang diperlukan relatif lebih kecil. 

Namun, untuk acara yang diikuti kerabat, tetangga, hingga komunitas pecinta keris, anggaran yang harus disiapkan bisa mencapai jutaan rupiah.

Selain untuk sesaji dan tumpeng, biaya juga digunakan untuk membeli bunga setaman, minyak khusus untuk perawatan pusaka, dupa, perlengkapan doa, serta konsumsi bagi tamu yang hadir.

Tidak sedikit pula masyarakat yang mendatangkan tokoh adat atau sesepuh untuk memimpin doa dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Baca Juga: Dalang Kondang Ki Anom Suroto Tutup Usia, Tinggalkan Warisan Seni Tradisi Jawa

“Kalau acaranya cukup besar dan mengundang banyak orang, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 10 juta. Karena tidak hanya jamasan, tetapi juga ada selametan dan doa bersama,” jelasnya.

Agum menuturkan, jamasan keris bukan sekadar kegiatan membersihkan benda pusaka. Bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi tersebut, jamasan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus momentum refleksi diri saat memasuki tahun baru Jawa.

Prosesi jamasan biasanya diawali dengan persiapan berbagai perlengkapan ritual. Keris kemudian dibersihkan menggunakan bahan tertentu untuk menghilangkan kotoran dan menjaga kondisi logam agar tetap terawat.

Baca Juga: Memasuki Bulan Suro, Permintaan Bunga dan Dupa di Kediri Meningkat

Setelah proses pembersihan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan selametan sebagai ungkapan rasa syukur.

Meski perkembangan zaman terus berlangsung, Agum menilai minat masyarakat untuk melestarikan tradisi jamasan keris masih cukup tinggi. Bahkan, generasi muda mulai menunjukkan ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Menurutnya, Bulan Suro menjadi momentum penting bagi masyarakat Jawa untuk menjaga hubungan dengan sejarah dan budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.

Karena itu, tradisi jamasan keris masih terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di sisi lain, tradisi tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Menjelang Bulan Suro, permintaan berbagai kebutuhan ritual seperti bunga setaman, dupa, sesaji, bahan makanan untuk tumpeng, hingga perlengkapan pendukung lainnya cenderung meningkat.

Kondisi tersebut membawa berkah tersendiri bagi para pedagang yang menjual kebutuhan ritual dan tradisi masyarakat Jawa.

“Selama Bulan Suro, kebutuhan untuk ritual memang meningkat. Ini menunjukkan bahwa tradisi jamasan keris masih hidup dan terus dilestarikan oleh masyarakat,” pungkas Agum.

Editor : Andhika Attar Anindita
#jamasan keris #budaya #1 suro #ritual adat #2026