Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kemarau di Kediri Berpotensi Ganggu Penerbangan di Bandara Internasional Dhoho Kediri, Begini Penjelasannya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 10 Juni 2026 | 20:00 WIB
pesawat super air jet saat mendarat di bandara dhoho kediri pada 2024 lalu.
pesawat super air jet saat mendarat di bandara dhoho kediri.

KEDIRI, JP Radar Kediri – Musim kemarau berpotensi memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Dhoho Kediri.

Mulai dari peningkatan kecepatan angin hingga munculnya fenomena haze atau udara kabur karena partikel kering yang dapat menurunkan jarak pandang.

Kondisi ini dapat memengaruhi proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.

“Selama El Nino, kecepatan angin dari selatan berpotensi meningkat dibanding kondisi normal. Ini yang perlu menjadi perhatian bagi operasional penerbangan,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha.

Selama periode Juni hingga November arah angin dominan bertiup dari selatan. Kecepatannya berkisar 11 hingga 17 knot.

Angka tersebut tergolong cukup tinggi dibandingkan sejumlah wilayah lain di Indonesia. Komponen crosswind atau angin menyilang di Bandara Dhoho selama musim kemarau berkisar 10 hingga 15 knot.

Angka tersebut masih berada di bawah batas toleransi pesawat komersial seperti Boeing 737 maupun Airbus A320 yang mencapai 25 hingga 35 knot.

Karena itu, BMKG merekomendasikan penggunaan runway 14 untuk proses lepas landas dan pendaratan saat angin dominan bertiup dari selatan.

Baca Juga: Tarif Kargo Bandara Dhoho Kediri Alami Kenaikan Sesuaikan Harga Avtur, Permintaan Pengiriman Mulai Ada Penurunan

Langkah tersebut dilakukan agar pesawat bergerak berlawanan arah dengan angin sehingga memperoleh daya angkat yang lebih optimal.

Operator Air Traffic Control (ATC) Bandara Internasional Dhoho Kediri Dodi Kurniawan menjelaskan, pesawat memang harus menghadapi arah angin saat take off maupun landing.

 Kondisi tersebut membantu pesawat memperoleh gaya angkat dan mengurangi kecepatan saat mendarat.

“Kalau angin dari selatan, pesawat diarahkan menggunakan runway 14 agar melawan arah angin. Prinsipnya sama seperti layang-layang yang harus menghadapi angin supaya bisa terbang,” jelas Dodi.

Selain angin, ancaman lain selama kemarau adalah fenomena haze yang dapat menurunkan visibility atau jarak pandang.

Kondisi tersebut bisa diperparah oleh asap kebakaran lahan maupun partikel debu yang melayang di atmosfer.

Manager Operasi AirNav Indonesia Cabang Surabaya Setiadi mengatakan, selama jarak pandang masih memenuhi standar penerbangan, operasional pesawat tetap berjalan normal.

Namun jika visibility turun di bawah batas minimum, pesawat dapat diminta melakukan holding atau menunggu di udara hingga kondisi membaik.

Baca Juga: Avtur Meroket Pengaruhi Harga Tiket di Bandara Internasional Dhoho Kediri, Akibatnya Penumpang Menurun

“Kalau visibility di bawah standar untuk pendaratan, pesawat bisa holding terlebih dahulu. Pilot akan mempertimbangkan kecukupan bahan bakar sebelum memutuskan tetap menunggu atau mengalihkan penerbangan ke bandara alternatif,” terang Setiadi.

Untuk penerbangan menuju Kediri, Bandara Juanda Surabaya menjadi bandara alternatif terdekat apabila cuaca di Bandara Dhoho tidak memungkinkan untuk pendaratan.

Selama masa menunggu tersebut, AirNav terus berkoordinasi dengan BMKG guna memperoleh pembaruan kondisi cuaca secara real time.

Meski demikian, hingga saat ini gangguan penerbangan akibat cuaca di Bandara Dhoho masih relatif minim.

BMKG mencatat kasus pesawat harus holding karena hujan lebat baru terjadi satu kali dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, hingga kini aktivitas penerbangan juga belum pernah terganggu oleh sebaran abu vulkanik dari gunung api di sekitar wilayah Kediri. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#Bandara Internasional Dhoho Kediri #atc #kemarau #penerbangan