KEDIRI, JP Radar Kediri – Cuaca panas mulai terasa di wilayah Kediri dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi mulai masuknya periode musim kemarau. Selain itu, fenomena El Nino meski masih dalam kategori lemah turut memperparah suhu panas pada siang hari.
Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Dhoho Kediri Satria Kridha Nugraha menjelaskan, saat ini wilayah Kediri mulai memasuki musim kemarau.
Dampaknya, cuaca cenderung lebih cerah dan intensitas hujan mulai menurun dibanding sebelumnya.
Berkurangnya tutupan awan membuat paparan panas matahari terasa lebih menyengat terutama pada siang hari. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara meningkat dan memicu rasa gerah di sejumlah wilayah.
“Saat ini memang mulai masuk periode kemarau, sehingga suhu siang hari terasa lebih panas dibanding sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi cuaca yang cenderung cerah dan curah hujan yang mulai berkurang,” jelasnya.
Baca Juga: Waspadai Potensi El Nino pada Musim Kemarau 2026, BMKG Kediri Waspadai Hal Ini
Selain faktor musim kemarau, BMKG menyebut fenomena El Nino juga ikut memengaruhi kondisi cuaca saat ini.
Meski begitu, intensitas El Nino yang terjadi masih tergolong lemah. Namun dampaknya tetap berpengaruh terhadap pembentukan awan dan curah hujan di wilayah Indonesia.
Menurut Satria, pengaruh El Nino membuat kondisi cuaca menjadi lebih kering sehingga suhu udara terasa lebih panas.
Dampak lainnya yakni meningkatkan potensi kekeringan, kekurangan air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau berlangsung.
“Iya betul mas, namun saat ini intensitasnya terpantau masih kategori lemah, pengaruh El Nino secara umum dapat mengurangi pembentukan awan dan curah hujan, sehingga cuaca menjadi lebih kering dan suhu siang hari terasa lebih panas,” tambahnya.
BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas berlangsung. Warga diminta memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari pada pukul 11.00 hingga 14.00, serta mwaspadai risiko heat stroke akbat paparan panas berlebih.
Editor : Andhika Attar Anindita