KEDIRI, JP Radar Kediri- Kondisi sungai-sungai yang membelah wilayah Kota Kediri mulai mengkhawatirkan. Keberadaan dan kelestariannya kian terancam. Khususnya dengan fakta terkena pencemaran yang seperti tak ada akhirnya.
Salah satunya adalah Sungai Parung. Sampah-sampah juga sering menumpuk di sepanjang aliran sungai. Terutama saat debit air tinggi.
Ujungnya, bau tak sedap pun terpaksa ‘dinikmati’ oleh penduduk yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
“Kalau debit air tinggi tuh banyak sampah yang menumpuk. Kan terbawa air dari sana dan menumpuk di sini,” keluh Narti, warga RT 2 RW 4 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, sambil menunjuk ke arah hulu sungai.
Memang, paling terasa, jejak pencemaran sungai tersebut dapat dengan mudah dilihat di Jalan Tembus Kaliombo. Di titik temu percabangan saluran dari Sumber Bulus di Kelurahan Tosaren dan avour di Kelurahan Banaran.
Sungai itu terus mengalir, melintasi permukiman padat dan persawahan. Hingga bermuara di jantung sungai Kota Kediri, Sungai Brantas.
Rumah Narti sendiri hanya berjarak lima meter dari plengsengan sungai. Dan, dia sudah 20 tahun lebih hidup berdampingan seperti itu. Bau air sungai yang menyengat saat tertiup angin sudah jadi hal biasa baginya.
Banyaknya vegetasi liar juga membuat sampah sering tersangkut di aliran sungai ini. Apalagi badan sungai juga lebih cepat mengalami pendangkalan karena endapan lumpur. Alhasil, ancaman banjir juga membayang-bayangi selama musim hujan.
Baca Juga: BPBD Kota Kediri Petakan Bahaya Pladu di Sungai Brantas, Ini Imbauan Yang Wajib Diperhatikan!
“Kalau banjir yang sampai masuk rumah memang nggak pernah. Tapi kalau hujan deras, air sungainya kan tambah tinggi, bisa sampai naik ke got (saluran di depan rumah, Red),” ungkapnya.
Karena cepat dangkal, menurutnya beberapa kali pemerintah kota melakukan pengerukan di badan sungai tersebut. Seperti pada tahun lalu saat Pemkot Kediri menurunkan satu unit backhoe untuk mengeruk sedimen.
“Ini aslinya dalam sekali sungainya. Tapi cepat dangkal karena endapan itu,” sambung Narti.
Hidup di bantaran sungai juga membuatnya harus berdamai dengan keadaan. Salah satunya, serangan nyamuk. “Wah kalau nyamuk, jelas banyak sekali di sini,” kata Narti sembari tertawa kecil.
Dari beberapa parameter fisik saja, sudah terlihat bahwa air sungai ini memang jauh dari kata bersih. Setidaknya dari aspek warna dan bau. Air sungai ini cenderung berwarna keruh, dengan bau yang cukup menyengat.
Pemkot Kediri melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri sebenarnya tak tinggal diam dengan kondisi itu. Pengecekan kualitas air dilakukan berkala tiap tahun. Termasuk larangan membuang limbah cair maupun sampah ke aliran sungai.
Yang terbaru, pengujian air juga dilakukan pada 2025 lalu. Hasilnya, beberapa parameter uji laboratorium menunjukkan hasil yang melampaui ambang baku mutu air.
Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan Hidup DLHKP Kota Kediri Aris Mahmudin mengatakan, dari beberapa parameter pengujian, kadar fosfat dan amoniak termasuk yang melebihi baku mutu kualitas air sungai menurut PP Nomor 20 Tahun 2021 untuk kelas 2.
“Kalau amoniak itu kemungkinan paling besar dari limbah domestik. Bisa dari sabun, sampo, atau kegiatan laundry warga. Limbah domestik itu kebanyakan tidak diolah, tetapi langsung dibuang di saluran perkotaan,” ungkap Aris.
Selain dari limbah domestik atau rumah tangga, tingginya kadar fosfat dan amoniak yang terlarut dalam air juga bisa berasal dari aktivitas pertanian. Utamanya dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan pada tanah.
“Pemakaian pupuk seperti urea, ZA, dan lain-lain bisa merembes juga di saluran air,” terang Aris.
Di sisi lain, pihaknya juga terus memaksimalkan upaya penanggulangan dan pencegahan. Salah satunya dengan pemasangan papan pemberitahuan dan larangan membuang limbah domestik maupun sampah ke sungai. Lengkap dengan sanksinya bagi pelanggar.
“Setiap tahun kami usahakan sesuai kemampuan dan anggaran. Mungkin hanya bertambah 5, tapi setiap titik aliran yang terbuka sudah kami pasangi,” ungkapnya, menyebut itu jadi salah satu upaya pemkot menyosialisasikan pelestarian sungai. (ais/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita