Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Peringati Waisak, Bangkitkan Kesadaran Batin Umat: Puluhan Umat Ikuti Rangkaian Ritual di Vihara Jayasaccako

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 1 Juni 2026 | 20:50 WIB
Umat berjalan mengelilingi rupang atau patung Buddha sebanyak tiga kali. Searah dengan jarum jam. (Foto Asad MS)
Umat berjalan mengelilingi rupang atau patung Buddha sebanyak tiga kali. Searah dengan jarum jam. (Foto Asad MS)

KEDIRI, JP Radar Kediri–Puluhan umat Buddha Kediri memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE kemarin.

Umat mengikuti serangkaian ritual untuk mengenang wafatnya Siddharta Gautama. Momentum tersebut sekaligus jadi sarana untuk membangkitkan kesadaran batin.

Ritual diawali dengan prosesi pradaksina atau ritual penghormatan kepada Buddha.

Dalam prosesi tersebut, umat berjalan mengelilingi rupang atau patung Buddha sebanyak tiga kali. Searah dengan jarum jam.

Selesai melakukan pradaksina, umat memasuki ruang dharmasala untuk mengikuti ibadah utama. Diawali penghormatan kepada Tiratana, permohonan tiga perlindungan dan lima sila, pembacaan parita suci, hingga meditasi bersama.

Baca Juga: Suara Bel Tandai Puncak Perayaan Waisak, Puluhan Umat Buddha di Kediri Khusyuk Berdoa

Romo Pandita Vihara Jayasaccako Daniel Chriestanto mengatakan, meditasi jadi bagian penting peringatan Waisak tahun ini.

Ritual dilakukan hingga memasuki detik-detik Waisak yang jatuh sekitar pukul 15.44. Setelah meditasi selesai, bhikhu menyampaikan pesan dharma.

“Pradaksina merupakan bentuk penghormatan kepada Guru Agung Sang Buddha Ga Utama. Setelah itu umat mengikuti ibadah, pembacaan parita, dan meditasi hingga memasuki detik-detik Waisak,” ungkap Daniel tentang ritual kemarin.

Terkait puluhan umat yang mengikuti peringatan Waisak kemarin, menurut Daniel mereka tidak hanya datang dari Kediri Raya saja.

Melainkan ada juga yang datang dari Kabupaten Nganjuk yang datang untuk beribadah.

“Selama ini mereka (umat Buddha dari Nganjuk) juga menjadi bagian dari pelayanan kami,” lanjutnya.

Baca Juga: Detik-Detik Waisak Jatuh Pada Pukul 15.44.44, Umat Buddha Vihara Jayasaccako Kediri Bersihkan Patung dan Altar

Lebih jauh Daniel menuturkan, perayaan Waisak tidak berubah setiap tahunnya.

Yang membedakan hanyalah tema saja. Tahun ini sekaligus berkaitan dengan perjalanan 50 tahun pelayanan Sangha Theravada Indonesia dalam membimbing umat Buddha di Indonesia.

Terpisah, Bhikkhu Santamano Mahathera menjelaskan, Waisak merupakan perayaan yang mengingatkan umat Buddha pada pencapaian sempurna Siddhartha Gautama hingga menjadi Buddha.

Makna Waisak, ungkap Santamano, adalah kebangkitan kesadaran dari kondisi batin yang masih diliputi ketidaktahuan, keserakahan, dan kebencian.

“Buddha itu artinya bangun atau tersadarkan. Yang bangun bukan jasmaninya, tetapi batinnya. Waisak mengingatkan kita untuk membangkitkan kesadaran agar tidak dikuasai oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan,” paparnya.

Dalam pesan Waisak kemarin, menurut Santamano umat Buddha juga diajak meneladani semangat Sang Buddha yang mengabdikan hidupnya demi kebaikan banyak makhluk.

Sang Buddha, jelas Santamano, juga mengajarkan Dharma demi kebaikan para dewa dan manusia.

Terutama setelah melihat masih banyak makhluk yang mampu memahami dan menjalankan ajaran kebenaran.

Karenanya, lewat peringatan Waisak kemarin, umat Buddha diharapkan tidak hanya memperkuat praktik spiritual pribadi. Melainkan juga mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Hal terseburt sesuai dengan tema yang diusung. Yakni menapaki jalan mulia dan bersumbangsih bagi negeri.

“Semoga semangat Waisak tahun ini menuntun kita semua untuk terus memurnikan diri, memperkuat kepedulian, dan bersama-sama mewujudkan Indonesia yang damai, rukun, dan sejahtera,” harapnya. 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#vihara jayasaccako #buddha #waisak