KEDIRI, JP Radar Kediri-Kendaraan dari arah Tulungagung dan Surabaya yang hendak melintas di Kota Kediri harus melipir lewat pinggir sejak Jumat (29/5) kemarin. Penutupan Jl Urip Sumoharjo membuat kendaraan dari luar kota itu tidak bisa langsung masuk ke Kota Kediri. Imbas penerapan rekayasa lalu lintas dampak pembangunan Jembatan Kaliombo I di ruas tersebut.
“Rekayasa lalu lintas ini diberlakukan mulai hari ini (29/5) sampai 11 Desember. Imbas penutupan Jl Urip Sumoharjo untuk pembangunan Jembatan Kaliombo I,” kata Kaur Bins Ops (KBO) Satlantas Polres Kediri Kota Iptu Murnianto.
Rekayasa lalu lintas, lanjut Murni, diterapkan baik dari arah utara maupun selatan. Dari arah selatan atau dari Tulungagung menuju ke Surabaya akan diarahkan langsung belok ke kanan dari Simpang Tiga Jetis. Melewati simpang empat Bence sampai ke terminal lama. Selanjutnya belok kiri ke simpang empat Alun-Alun Kota Kediri.
“Untuk R6 (kendaraan roda enam, Red) ke atas bisa lurus ke arah terminal baru. Sedangkan untuk R4 (kendaraan roda 4, Red) bisa belok kanan,” lanjutnya.
Sedangkan untuk kendaraan dari arah utara seperti Surabaya menuju Tulungagung, khusus R6 ke atas bisa lurus ke arah kantor pos. Kemudian belok kiri dan lurus hingga simpang tiga Kodim 0809/Kediri. Dari sana kendaraan bisa terus melipir sampai ke Bence dan arah Tulungagung.
Murni menegaskan, pihaknya menyiapkan 10 personel di simpul-simpul penting untuk mengarahkan kendaraan. Di antaranya di Simpang Tiga Jetis dan terminal lama. Dari utara, penjagaan dilakukan di simpang empat Jembatan Semampir.
“Jalan tutup total. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak ada yang boleh melintas. Sehingga penumpukan kendaraan di beberapa jalur alternatif diperkirakan tidak ada. Kalaupun ada nanti petugas yang akan turun langsung,” tuturnya.
Sementara itu, setelah penutupan Jl Urip Sumoharjo kemarin, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali akan memulai pembangunan Jembatan Kaliombo I. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1 Provinsi Jawa Timur Mahatma Manurung meminta masyarakat bisa memaklumi dan bersabar sampai akhir November atau awal Desember. “Kami usahakan untuk percepatan (pembangunan jembatan) karena itu memang jalan utama di situ,” kata Mahatma.
Setelah penutupan jalan kemarin, menurut Mahatma pihaknya langsung melakukan mobilisasi alat berat yang diperkirakan butuh waktu hingga dua hari.
Baca Juga: Kota Kediri Makin Padat, Ini Penjelasan Soal Perlunya Rekayasa Lalu Lintas
“Mobilisasi alat berat mungkin hanya satu atau dua hari saja. Setelah itu stay di situ di lokasi pekerjaan. Lain-lainnya mungkin untuk beton dan truk molennya, mobilisasinya sesuai dengan volume yang sedang dilaksanakan di sana,” terangnya.
Untuk diketahui, proyek yang dilaksanakan oleh lembaga di bawah Kementerian Pekerjaan Umum itu akan meliputi pembongkaran jembatan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun tersebut. Selain faktor usia, pembongkaran juga menimbang skala nilai kemantapan jembatan saat ini. Dari hasil survei kondisi jembatan, nilai kemantapan jembatan tersebut berada di skala 3–4. Sehingga perlu dilakukan penggantian pada konstruksinya.
Jika semula konstruksinya batu bata, nantinya akan diganti menjadi box culvert berbahan beton yang lebih kuat. Proyek penggantian jembatan itu juga akan paralel dengan perbaikan Jembatan Gondang I di Tulungagung. Kontrak proyek ditargetkan berjalan maksimal 240 hari. Mulai Jumat kemarin (29/5) hingga 11 Desember mendatang atau hampir 7 bulan. (la/ais/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita