KEDIRI, JP Radar Kediri – Warga Kediri dan sekitarnya harus mulai membiasakan diri terjebak kemacetan di beberapa titik. Setidaknya, hingga pengerjaan perbaikan Jembatan Kaliombo I selesai. Padahal, perkiraan awal, prosesnya bakal berlangsung sekitar tujuh bulan.
Memang, meskipun yang ditutup saat ini adalah Jalan Urip Sumoharjo-tempat jembatan itu berada-dampak kemacetannya menjalar di beberapa titik sekitarnya. Terutama yang menjadi jalur alternatif dari dan ke arah wilayah Kediri selatan maupun Tulungagung.
Beberapa perempatan jadi terimbas. Misal di perempatan Baruna yang ada di sisi Timur Alun-Alun. Perempatan ini jadi titik penting karena pengendara yang hendak ke Kediri Selatan memilih ke sini sebelum mengarah ke Jalan Tembus Kaliombo. Di hari pertama Jumat (29/5) lalu, antrean kendaraan bahkan mulai terjadi di simpang empat alun-alun.
“Iya ini macet sejak sore waktunya orang pulang kerja,” keluh Ali, 30, warga Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota.
Tak hanya di perempatan itu saja yang arus lalu lintasnya tersendat parah. Di simpang empat Bandar, Simpang empat Muning, simpang empat Bence pun penumpukan kendaraan sangat tinggi. Bahkan, antrean di perempatan Bence nyaris mendekati terminal lama.
Bukan hanya persimpangan di Kota Kediri saja yang padat. Simpang empat Branggahan yang biasanya hanya padat dari sisi utara dan selatan, saat itu juga dari sisi barat. Ini adalah kendaraan yang memilih melewati perempatan Muning kemudian berbelok ke Jembatan Wijaya Kusuma untuk menuju Kecamatan Kras maupun Tulungagung.
Jalan-jalan tikus pun jadi tumpuan pengedara. Jadinya, kepadatan parah terjadi. Harus antre puluhan menit demi bisa melewati jalur itu. Contohnya di Jalan Tembus Kaliombo yang antreannya hingga setengah kilometer lebih.
Ali mengakui, dia dan banyak warga lain kaget dengan penutupan jalur utama yang menghubungkan Kediri – Tulungagung itu. Sementara jalur alternatif di sekitarnya sempit dan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang melintas.
“Jalanannya kecil, dilintasi kendaraan roda dua hingga roda empat pasti macet. Waktu tidak ada perbaikan saja sudah sering macet apalagi saat ini,” gerutu bapak dari dua anak itu.
Baca Juga: Masa Uji Coba Lalin Baru di Kota Kediri Telah Berakhir, Pengendara Bisa Kena Tilang Di Lokasi Ini!
Keluhan serupa diutarakan Rena, 26. Warga Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri harus menghabiskan waktu perjalanan lebih lama.
“Sebenarnya sudah tahu kalau ditutup. Cuma ini tadi pulang kerja lupa cari jalur alternatif lainnya. Eh, waktu lewat jalan tikus kejebak macet sampai 10 menit,” keluhnya.
Sementara itu, Kaur Bin Ops (KBO) Satlantas Polres Kediri Kota Iptu Murnianto menyebut jika penumpukan volume kendaraan di jalan tikus terjadi karena hari pertama penerapan rekayasa lalu lintas. Sehingga masyarakat belum beradaptasi dengan jalur alternatif yang telah disediakan.
Baca Juga: Angin Kencang Sebabkan Pohon Tumbang Tutupi Jalur Vital Kota Kediri, Arus Lalin Tersendat 1 Jam
“Masyarakat masih perlu beradaptasi. Insya Allah beberapa hari ke depan arus lalu lintas bisa berjalan lancar. Karena ada tim urai dan kami bekerja sama dengan petugas Dishub (Dinas Perhubungan, Red) untuk mengatur traffic light,” kilahnya, sembari menyebut sedikitnya ada 10 personel yang disiagakan di simpul kepadatan.
Sementara itu, kondisi seperti itu sepertinya harus dirasakan warga Kediri dan sekitarnya relatif lama. Sebab, perbaikan jembatan Kaliombo I dipastikan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Penyebabnya adalah proses pembuatan pondasi hingga betonisasi yang tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Hal itu diungkapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1 Provinsi Jawa Timur Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali Mahatma Manurung. Dia menyebut jika pekerjaan memerlukan waktu cukup lama karena harus membangun pondasi baru di bawah jembatan.
Baca Juga: Petugas Belum Berlakukan Tilang, Uji Coba Lalin Diperpanjang Sampi Batas Waktu Ini!
“Selain pekerjaan pondasi, proses pengecoran juga tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Beton yang digunakan harus menunggu umur tertentu agar mencapai kekuatan sesuai spesifikasi,” ujar pria yang akrab disapa Mahatma itu.
Ya, rangkaian proses itu dilakukan karena kondisi Jembatan Kaliombo I berada pada nilai kondisi atau NK 3. Artinya sudah mengarah pada kerusakan berat.
Menurutnya, penilaian itu diperoleh dari hasil inventarisasi dan survei rutin tahunan yang dilakukan di seluruh jembatan yang ada di wilayah Jawa Timur dan Bali.
Baca Juga: Polisi Tilang Pengendara Bermotor yang Nekat Melanggar Lalin di Jalan Dhoho Kota Kediri
“Dari hasil pemeriksaan, bagian yang paling membutuhkan penanganan serius berada pada konstruksi pelengkung di bawah lantai jembatan. Karena itu, pemerintah memutuskan tidak hanya melakukan perbaikan ringan. Melainkan mengganti konstruksi lama menjadi culvert berbahan beton yang lebih kuat,” paparnya.
Setelah diperbaiki dia memproyeksikan jembatan Kaliombo I bisa tahan lama. Memiliki umur layanan hingga 50 tahun.
Editor : Andhika Attar Anindita