KEDIRI, JP Radar Kediri-Jelang tahun ajaran baru, Dinas Sosial Kota Kediri mulai menjaring ratusan siswa miskin untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).
Ratusan siswa jenjang SD, SMP, dan SMA itu akan mulai belajar di tahun ajaran baru 2026/2027 Juni nanti.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Imam Muttakin mengatakan, kemarin (21/5) dinsos sudah menggelar pertemuan lintas instansi membahas rencana percepatan penerimaan siswa baru itu. Di antaranya dengan melibatkan dinas pendidikan dan kementerian agama (kemenag).
“Setelah berkoordinasi, kami dapat kuota 270 anak untuk tingkatan kelas 1 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 9 SMA. Masing-masing jenjang ada tiga rombel (rombongan belajar),” kata Imam.
Baca Juga: Progres Bangunan Sekolah Rakyat Kota Kediri Baru 40 Persen, Dinsos Mulai Mendata Calon Siswa
Dengan demikian, masing-masing rombel akan berisi 30 siswa. Sesuai instruksi Presiden, SR harus sudah beroperasi pada 18 Juni mendatang. Artinya, peserta didik baru ini diproyeksikan mulai menempati sekolah kurang dari sebulan lagi.
Meski dengan waktu yang terbatas, Imam menyebut pihaknya tetap menindaklanjuti arahan Kementerian Sosial (Kemensos). Pihaknya tetap memprioritaskan sasaran yang sesuai.
Yakni, anak dari keluarga yang masuk data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN) desil 1 - 2.
“Dari kementerian sendiri menyarankan kepada kami, jangan menggunakan kata rekrutmen atau pendaftaran. Melainkan metode yang kami lakukan itu penjangkauan. Jadi kami tidak membuka open recruitmen,” terang Imam sembari menyebut dinas sosial yang akan aktif menjangkau calon siswa.
Dia memastikan, penerimaan siswa baru SR tidak sama dengan sekolah negeri pada umumnya. Dinsos—lanjut Imam—sudah menerima daftar awal atau prelist dari Kemensos sebanyak 11 ribu orang. Data itu merupakan jumlah anak usia sekolah untuk tiga jenjang itu dari desil 1 – 2.
Merekalah yang berpotensi menjadi siswa SR angkatan pertama.
“Dari 11 ribu nama itu sudah disaring oleh petugas PKH (program keluarga harapan). Ternyata sudah banyak yang sekolah, ada juga yang pindah domisili,” bebernya sembari menyebut, tersisa 1.000 nama yang selanjutnya akan disurvei oleh petugas.
Dalam menjangkau calon siswa itu, Imam menegaskan jika prioritas mereka adalah anak dari keluarga miskin ekstrem. Meski demikian, Kemensos tetap membuka peluang bagi anak keluarga miskin yang kemungkinan belum terdata di DTSEN maupun berada di luar desil 1 – 2.
“Itu masih dimungkinkan dengan mekanisme disurvei langsung ke rumahnya. Dan itu tidak hanya dari PKH, tetapi juga bersama dinas sosial dan BPS (badan pusat statistik),” terang Imam.
Dalam penjaringan itu, pihaknya juga mempertimbangkan status pendidikan anak saat ini. Di antaranya dengan mengecualikan anak-anak yang sudah terdata atau masuk di sekolah negeri maupun swasta. Untuk itu diperlukan harmonisasi dengan menggandeng dinas pendidikan dan kementerian agama.
“Salah satu aspek dalam menyaring calon siswa ini juga kami pastikan, nama-nama ini apakah sudah terdaftar di sekolah-sekolah atau belum,” paparnya.
Bagaimana dengan kesiapan sarana dan prasarana Sekolah Rakyat? Imam menyebut sesuai koordinasi terakhir, progres pembangunan fasilitas yang berada di Kelurahan Lirboyo itu sudah mencapai lebih dari 60 persen.
“Informasinya untuk mebelair juga sudah 80 persen didatangkan,” ungkapnya sembari menyebut, pihak pelaksana proyek juga optimis pekerjaan bisa tuntas sebelum tenggat akhir yang ditetapkan Pusat. (ais/ut)
Baca Juga: Ini Kendala Pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Kediri Yang Wajib Kamu Ketahui!
SR Kota Kediri:
- Sekolah Rakyat Kota Kediri dibangun di Kelurahan Lirboyo dengan lahan seluas 5,1 hektare.
- Pembangunan SR Kota Kediri dianggarkan Pemerintah Pusat hingga lebih dari Rp 200 miliar.
- Terdiri dari 22 gedung, sebanyak 14 di antaranya merupakan unit bangunan dua lantai.
- Mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA, masing-masing tiga rombel.
- Selain ruang kelas, juga dilengkapi fasilitas penunjang lainnya seperti asrama putra dan putri, asrama guru, kantin, masjid, lapangan mini soccer, tempat pengolahan sampah (TPS), instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan lainnya.
Editor : Ayu Ismawati