KEDIRI, JP Radar Kediri- Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih kering dan lebih lama dari biasanya. Masyarakat pun diimbau mewaspadai dampaknya. Di antaranya kebakaran lahan dan kekeringan yang mengintai selama periode kemarau.
Hal itu diungkapkan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri Joko Ariyanto. Dia menyebut jika kemarau yang terjadi tahun ini berpotensi mengakibatkan terjadinya beberapa bencana.
“Tahun 2019 itu pernah terjadi kekeringan di Lebak Tumpang, Kelurahan Pojok. Namun setelah dibuatkan sumur bor sudah tidak terjadi lagi. Cuma ada beberapa yang perlu diantisipasi,” ujar pria yang akrab disapa Joko itu.
Baca Juga: BPBD Kota Kediri Petakan Bahaya Pladu di Sungai Brantas, Ini Imbauan Yang Wajib Diperhatikan!
Meskipun titik rawan kekeringan di wilayah Kota Kediri saat ini sudah dimitigasi, namun masyarakat tetap perlu waspada. Joko menyebut, yang perlu diwaspadai adalah kebakaran lahan yang masih sering terjadi.
Oleh karenanya, Joko mengimbau agar masyarakat tidak membuang putung rokok sembarangan. Khususnya selama musim kemarau. Selain itu, tidak boleh ada aktivitas pembakaran di tepi lahan tebu. Kemudian, harus ada pengawasan khusus saat membakar. Api harus dipastikan benar-benar padam sebelum ditinggal.
“Biasanya yang kebakaran itu terjadi di lahan daerah Klotok itu. Intinya jangan memantik tindakan yang menimbulkan kebakaran,” imbuhnya.
Baca Juga: Lipsus Kemarau Panjang 2026: BPBD Lakukan Mitigasi dan Pemetaan Dini.
Lebih lanjut Joko menjelaskan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau mulai berlangsung pada Mei ini. Meskipun hujan masih kerap terjadi di awal Mei lalu.
“Prediksi puncak kemarau di bulan Agustus. Sesuai dengan yang disampaikan BMKG,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita