KEDIRI, JP Radar Kediri – Transaksi jual beli hewan kurban di Kabupaten Kediri mulai menunjukkan lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H. Guna memastikan kelayakan dan kesehatan hewan ternak, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri gencar melakukan monitoring dan pemeriksaan klinis di sejumlah peternakan dan pasar hewan, salah satunya di Pasar Sapi Tertek, Kecamatan Pare.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menyatakan bahwa pemantauan ini bertujuan utama untuk menjamin seluruh hewan yang masuk ke pasar dalam kondisi sehat dan bebas dari Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS).
“Hasil pantauan kami di lapangan, dari pintu masuk hingga area dalam pasar, alhamdulillah tidak ditemukan adanya ternak yang bergejala sakit. Baik itu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), maupun Bovine Ephemeral Fever (BEF) atau demam tiga hari,” ujar Tutik.
Selain melakukan pemeriksaan fisik, petugas DKPP juga membagikan sekitar 300 bolus vitamin secara gratis kepada para pedagang dan peternak. Pemberian vitamin dalam bentuk bolus ini dipilih karena dinilai aman dan praktis diaplikasikan langsung melalui pakan, sekaligus menjadi sarana edukasi agar peternak lebih peduli terhadap faktor kesehatan satwa.
Tutik menambahkan, aktivitas perdagangan di Pasar Tertek telah mengalami peningkatan intensitas dalam tiga minggu terakhir. Pada pasaran kali ini, tercatat hampir 400 ekor sapi keluar masuk area pasar. Mobilitas ini tidak hanya digerakkan oleh pedagang lokal Kediri, melainkan juga dari berbagai daerah luar kota seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Madiun, Malang, hingga Batu.
“Permintaan ternak di Kabupaten Kediri pada tahun 2026 ini kami nilai sangat luar biasa. Stok ketersediaan hewan kurban di wilayah kabupaten dipastikan aman dan sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan harian maupun ibadah kurban mendatang,” imbuhnya.
Tingginya antusiasme pasar juga memicu kenaikan harga hewan ternak yang dinilai masih dalam batas wajar. Untuk komoditas sapi, terjadi kenaikan harga sekitar 10 hingga 20 persen. Sementara untuk kambing, harganya mulai merangkak normal kembali ke kisaran Rp 2 juta per ekor, setelah sempat lesu dan anjlok hingga Rp 1,5 juta akibat imbas beberapa isu komoditas pada bulan-bulan sebelumnya.
Pengawasan intensif ini dipastikan akan terus bergulir di 26 kecamatan se-Kabupaten Kediri dengan melibatkan tim jajaran dokter hewan. DKPP juga telah menjadwalkan pemeriksaan ante-mortem (sebelum penyembelihan) pada H-2 atau H-1 Idul Adha di tingkat takmir masjid, serta pemeriksaan post-mortem (setelah penyembelihan) guna memastikan kualitas daging yang didistribusikan kepada masyarakat.
Untuk memfasilitasi pemotongan massal, Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Wates dan RPH Pare disiapkan untuk membuka layanan pengulitan hingga pemotongan terpusat. Mengingat keterbatasan kapasitas RPH, DKPP juga telah mengoptimalkan peran Juru Sembelih Halal (Juliha) yang tersebar di tiap desa dan kecamatan melalui program sertifikasi profesi kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan BNSP.
“Masyarakat tidak perlu khawatir karena rata-rata takmir masjid di 26 kecamatan sudah memiliki juru sembelih yang terlatih dan bersertifikasi, sehingga proses pelaksanaan kurban nanti dipastikan memenuhi syariat Islam dan standar higienis,” pungkas Tutik. (na)
Editor : Andhika Attar Anindita