JP Radar Kediri – Sektor peternakan di Kabupaten Kediri tumbuh ribuan ekor setiap tahunnya. Namun, para peternak tetap kesulitan meraup untung besar karena harga pakan yang mahal dan ancaman penyakit. Menyikapi hal tersebut, Bupati Hanindhito Himawan Pramana meminta para peternak untuk menjual produk turunan atau olahannya.
Untuk diketahui, populasi sapi potong pada 2024 lalu sebanyak 214 ribu ekor. Adapun 2025 naik menjadi lebih dari 216 ribu ekor.
Peningkatan populasi sapi di Kabupaten Kediri menurut Bupati Hanindhito Himawan Pramana, sekaligus jadi penyokong ketahanan pangan nasional. Terutama dari protein hewani. “Peternakan ini menjadi kunci. Ketahanan pangan harus dijaga, dan sektor ini tidak boleh sampai melemah,” pesan Dhito saat melihat Kontes Ternak Kabupaten Kediri 2026 di Desa Wonorejo, Wates kemarin.
Baca Juga: Kunjungi CJH Tertua, Dhito Titip Doakan Kediri, Ini Jemaah Yang Akan Dapat Pendampingan!
Kontes diikuti 134 ekor sapi dari 26 kecamatan. Bobot sapi terberat mencapai 1.214 kilogram. Dhito berharap kontes kemarin bisa mendongkrak harga jual ternak jelang Idul Adha. Sekaligus membuka peluang investasi di sektor peternakan.
Di depan para peternak, Dhito mendorong mereka untuk berinovasi. Yaitu tidak hanya menjual daging dan susu saja. Melainkan, menjual produk turunan seperti olahan susu maupun daging agar memiliki nilai tambah ekonomi.
“Jadi orang-orang sudah mulai tidak hanya menjual sapi perah saja ya. Sudah mulai ada yang jual yoghurt, dan produk lainnya. Seperti halnya jika di pertanian tidak hanya menjual nanas tapi nanasnya itu dibuat jadi jus, selai. Artinya hal-hal tersebut yang harus dilakukan,” lanjutnya.
Untuk diketahui, meski populasi sapi meningkat, para peternak menghadapi beberapa tantangan dalam pengembangbiakan sapi. Di antaranya harga pakan yang mahal dan ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK).
Syarif, peternak dari Kecamatan Kras berharap distribusi vaksin dan vitamin dapat ditingkatkan untuk mencegah wabah PMK. “Yang ditakutkan ya PMK. Harapannya distribusi vitamin dan vaksin lebih teratur,” pintanya.
Hal senada diungkapkan oleh Katijo, peternak asal Kecamatan Ringinrejo. Ia mengeluhkan mahalnya harga konsentrat yang sebagian bahan bakunya impor. “Untuk sapi penggemukan, apalagi yang kelas kontes seperti ini, rumput saja tidak cukup. Harus ada tambahan pakan, sementara harganya terus naik,” keluhnya.
Merespons permintaan peternak, Dhito menyebut pemkab akan melakukan antisipasi. Di antaranya melakukan vaksinasi rutin dan pengawasan kesehatan ternak.
“Dosis vaksin sudah tersedia. Kalau, Naudzubillah, terjadi wabah PMK, Insyaallah PMK dalam kondisi apapun pasti akan diberantas. Karena kita pernah mengalami 2 kali. Tahun 2023 itu kita harus tutup pasar, 2026 harapannya tidak perlu,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita