KEDIRI, JP Radar Kediri–Keberadaan andong atau dokar di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) yang terus bertambah, mulai dikeluhkan oleh pengunjung dan pedagang di central bussiness district tersebut.
Pasalnya, kawasan tersebut kini pesing akibat tidak adanya tampungan dari kencing kuda yang menjadi penarik andong di sana. Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, bau pesing terutama tercium dari area simpang empat kawasan SLG dari arah Tugu Sanga.
Lokasi tersebut memang menjadi tempat mangkal andong yang beroperasi di sana. Selebihnya, area kuliner yang menjadi rute andong juga tidak luput dari bau pesing. Pada pagi atau siang hari, bau pesing tercium semakin menyengat.
“Pokoknya kalau lewat kawasan itu harus tahan napas. Jangankan beli makanan, lari saja dipercepat karena bau pesingnya bikin mual,” keluh Safi’i, 47, salah satu pengunjung yang hobi jogging di kawasan SLG.
Baca Juga: Usung Wastra, Kriya, dan Sastra di Kuno-Kini 2026, Pameran Digelar di Taman Hijau SLG 14-24 Mei Ini
Keluhan senada diungkapkan oleh Pradipa, 15. Salah satu pelajar SMP itu juga mengaku tidak tahan dengan bau pesing dari kencing kuda yang menyebar di kawasan SLG.
“Akhirnya pilih-pilih kalau mau kulineran. Walaupun makanannya enak kalau lauknya bau pesing ya malas,” aku Dipa yang juga sering berolahraga di area SLG itu. Tak hanya dikeluhkan oleh pengunjung, keberadaan andong yang kencing sembarangan di SLG juga dikeluhkan oleh pedagang di sana.
Jo, 46, pedagang minuman di area SLG juga mengaku sangat terganggu dengan bau kencing yang menyengat. Diakuinya, banyak pembeli yang mengeluhkan hal tersebut kepadanya. “Pembeli yang datang sering mengeluh karena terganggu,” ungkap Jo.
Meski merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan dokar yang tidak diatur itu, dia tidak berani protes kepada pemilik dokar. Melainkan hanya bisa menunggu Pemkab Kediri menertibkan atau mengatur dokar-dokar tersebut.
Senada dengan Jo, Des, 28, yang berjualan camilan juga mengaku sangat terdampak. Bau pesing tercium semakin tajam pada hari Minggu atau saat acara Car free Day. Sebab, saat itu semakin banyak dokar yang beroperasi.
“Kalau CFD kudanya tambah. Dan tempatnya (mangkal) pindah ke tengah perempatan,” tuturnya. Bau pesing, lanjut Des, tidak hanya muncul di lokasi mangkal dokar. Melainkan mengikuti seluruh rute kuda.
Akibatnya, banyak keluhan dari pengunjung yang membeli aneka menu makanan di sana. Jika keberadaan dokar atau andong di kawasan SLG tidak ditata, Des dan pedagang lain khawatir omzet mereka akan merosot.
Sebab, pengunjung bisa saja memilih melakukan wisata kuliner di area terdekat lainnya yang tidak bau pesing. Merespons hal tersebut, Kabag Perekonomian Pemkab Kediri Santoso mengaku sudah banyak mendapat keluhan dan masukan dari para pedagang kaki lima (PKL).
Santoso juga tidak mengelak tentang tempat mangkal dokar di titik-titik lokasi berjualan pedagang. “Kalau dokar itu sebenarnya sudah banyak masukan dari teman-teman PKL, karena tempat mangkalnya biasanya di perempatan dan di situ juga banyak yang jualan,” kata Santoso.
Untuk memastikan agar air kencing kuda tidak tercecer sembarangan, Santoso meminta pemilik dokar untuk menyediakan tempat penampungan limbah kencing dan kotorannya.
“Kalau bisa kudanya jangan yang jantan, dan disediakan tempat penampungan limbah kencing maupun kotorannya,” pinta Santoso. Solusi lainnya, adalah dengan menyediakan wadah khusus penampungan limbah serta melakukan pembersihan secara rutin.
Dia mencontohkan penataan dokar di kawasan Malioboro yang dilengkapi fasilitas penunjang kebersihan. Selain itu, mereka juga menggunakan cairan untuk menghilangkan bau tidak sedap.
Terkait penertiban dokar di sana, Santoso menyebut pihaknya baru sebatas memberikan imbauan. Alasannya, pembinaan dokar di area SLG juga terkait dengan sektor lain. Di antaranya pariwisata.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi melalui Bagian Pengembangan Pariwisata Husni Mubarok juga mengaku sudah mendapat banyak aduan. Disparbud, kata Husni, juga sudah membahasnya.
Namun, hingga awal Mei ini belum ada regulasi yang secara khusus mengatur dokar di kawasan itu. “Masih belum ada aturannya, sehingga saat ini masih sebatas imbauan untuk menjaga kebersihan,” jelasnya.
Persoalan tersebut, lanjut Husni, akan disampaikan ke pimpinan dan akan dikoordinasikan lintas sektor. Dia mengakui, perlu sinkronisasi antar-OPD agar penataan bisa berjalan optimal.
Terlebih, keluhan yang muncul sebagian besar berasal dari PKL yang terdampak langsung. “Ke depan pasti akan dirembukkan, karena keluhan ini juga dari teman-teman PKL sendiri,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita