JP Radar Kediri- Efek musim kemarau yang mulai mengintai sektor peternakan. Khususnya komoditas unggas atau ayam petelur. Cuaca ekstrem yang tidak menentu sangat memengaruhi kondisi fisik ternak.
Suhu udara yang melonjak tinggi memicu stres pada ayam. Terutama di peternakan yang masih menggunakan sistem terbuka atau open house.
“Cuaca panas sangat berpengaruh terhadap produktivitas telur. Pada kandang terbuka, suhu yang tinggi membuat ayam mudah stress. Bahkan, kalau suhu air minumnya terasa hangat sedikit saja, ayam sudah gak mau minum,” ungkap Helmy, seorang peternak asal Kecamatan Kepung.
Kondisi ini menuntut kreativitas lebih dari para peternak. Berbeda dengan tipe kandang tertutup atau close house yang suhunya bisa dimanipulasi dengan teknologi.
Kandang terbuka jauh lebih rentan terhadap paparan panas matahari. Untuk menyiasatinya, para peternak melakukan berbagai inovasi demi menjaga suhu internal kandang.
Beberapa di antaranya dengan melakukan flashing rutin pada air minum dan memasang sprinkler dari pipa paralon untuk menciptakan efek hujan buatan.
“Saya bahkan sejak dulu membuat kolam lele di bawah kandang untuk meredam hawa panas dari tanah,” lanjut Helmy. Keluhan serupa datang dari Yanto, peternak asal Kecamatan Pare.
Meski sudah menggunakan sistem close house, ia mengaku tetap merasakan dampak signifikan dari cuaca panas ini.
“Kipas angim harus full menyala agar suhu tetap stabil. Namun, ini konsekuensinya pada biaya operasional yang membengkak karena tagihan listrik melonjak tajam,” jelasnya.
Prediksi mengenai musim kemarau yang akan berlangsung lebih lama dari biasanya juga memicu kekhawatiran di kalangan peternak.
Mereka kini mulai melakukan berbagai persiapan ekstra sejak dini untuk mencegah kerugian.
“Harapannya prediksi itu tidak benar. Jika panas berkepanjangan membuat ayam sakit dan produktivitas merosot. Bisa-bisa nanti afkir dini lebih cepat dari jadwal seharusnya,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita