KEDIRI, JP Radar Kediri–Tak hanya peminat stan jadul atau kuno di Festival Kuno-Kini saja yang membeludak.
Peminat lapak kekinian di pameran yang rutin digelar setiap tahun itu juga sangat tinggi.
Karenanya, panitia harus melakukan kurasi untuk memilih produk dan pedagang yang bisa berpartisipasi.
Kurasi untuk lapak kekinian dilakukan kemarin. Manager Event Jawa Pos Radar Kediri Puspitorini Dian Hartanti mengatakan, total pendaftar di stan kekinian membeludak hingga lebih dari 400 pedagang.
Padahal, stan kekinian yang tersedia hanya 318 unit. Karenanya, panitia harus mengeliminasi lebih dari 80 pedagang.
“Antusiasnya (pedagang) luar biasa. Makanya harus kami seleksi lagi agar sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas stan,” ujar Dian.
Kemarin panitia memanggil sekitar sekitar 60 peserta yang diproyeksikan menempati stan di blok A, B, dan C.
Sementara, pedagang yang akan mengisi blok D dan E dijadwalkan mengikuti kurasi pada hari berbeda.
Kurasi, tutur Dian, tidak hanya menentukan kelayakan peserta. Melainkan juga memastikan kesesuaian konsep dengan tema festival di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) tersebut.
Selain itu, panitia juga memberi penjelasan detail terkait teknis pelaksanaan kepada peserta.
Dalam pemaparan kemarin, peserta diingatkan tentang berbagai aturan. Mulai dari jadwal operasional hingga ketentuan teknis stan.
Festival dijadwalkan berlangsung 14–24 Mei 2026. Stan akan dibuka pukul 14.00 hingga 22.00. Adapun untuk akhir pekan akan berlaku jam operasional khusus.
Setiap stan difasilitasi tenda ukuran 3x3 meter, meja, kursi, dan listrik. Batas maksimal adalah dua mitra dalam satu stan.
Peserta juga diwajibkan mencantumkan harga, menjaga kebersihan, serta mematuhi batas penggunaan listrik yang telah ditentukan. “Kebersihan tenda tanggung jawab masing-masing,” jelasnya.
Baca Juga: 4 Alasan, Mengapa Kediri Butuh Festival Kuno-Kini
Selain itu, panitia melarang penjualan produk tertentu di luar ketentuan sponsor serta penggunaan materi promosi bermuatan politik atau SARA.
Peserta juga diingatkan untuk menjaga keamanan barang secara mandiri. Aturan ini diterapkan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, aman. Serta sesuai konsep festival yang diusung.
Sementara itu, Jumrotun Munawarah, salah satu peserta mengaku ingin kembali ikut Festival Kuno-Kini karena dia merasakan peningkatan omzet yang besar di acara tahun lalu.
“Tahun kemarin pengunjungnya (Festival Kuno-Kini) banyak sekali, jadi saya tertarik ikut lagi. Semoga tahun ini lebih ramai dan bisa dapat cuan lebih banyak,” harapnya.
Selama 10 hari mengikuti festival, perempuan yang akrab disapa Muda ini bisa mengumpulkan omzet Rp 8 juta.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding hari biasa yang hanya Rp 200-300 ribu per hari.
Karenanya, dia berharap momentum festival kembali mendongkrak penjualan produk aneka pisang miliknya.
Seperti diberitakan, selain peminat stan kekinian, peminat stan jadul atau kuno juga membeludak.
Dari kuota sekitar 50 stan, pendaftarnya mencapai 120 pedagang. Untuk memilih produk yang bagus, panitia pun harus melakukan kurasi terhadap para pelaku UMKM tersebut.
Editor : Andhika Attar Anindita